Ulama yang Menjadi Rujukan Salafi-Wahabi

Kelompok salaf-wahabi seringkali tidak konsisten dengan pendapat yang mereka kemukakan. Mereka selalu mengumandangkan jargon kembali kepada al-Qur’an dan hadis, bahkan menghujat orang-orang yang merujuk pada pendapat ulama-ulama klasik. Namun faktanya, mereka sendiri juga tetap taqlid pada pendapat-pendapat tokoh dan ulama mereka.Di antara ulama yang menjadi rujukan mereka ialah:
Pertama, Ibnu Taymiyyah dan Ibnu Qayyim al-Jawziyyah. Kedua tokoh ini merupakan ulama klasik yang sering dikutip pendapatnya oleh salaf-wahabi. Kebanyakan pendapat Ibnu Taymiyyah dan Ibnu Qayyim yang dikutip hanya soal teologi atau tauhid.
Sementara pandangan kedua tokoh ini terkait permasalahan fikih jarang seringkali dipahami dan ditampilkan. Andaikan pemikiran fikih Ibnu Taymiyyah dan Ibnu Qayyim didalami dan dielobarasi oleh salaf-wahabi, besar kemungkinan pandangan fikih mereka tidak akan sempit dan kaku.
Kedua, Nashiruddin al-Bani, Abdullah bin Baz, dan Muhammad bin Shalih al-Ustaimin. Ketiga tokoh ini termasuk ulama kontemporer yang pendapatnya sering dirujuk salaf-wahabi, terutama oleh agen-agen salaf-wahabi di Indonesia.
Diadopsi dari Buku Pintar Salafi Wahabi yang diterbitkan oleh Harakah Islamiyah
Baca juga :
1. Siapakah Wahabi?
2. Bagaimana Penyebaran Wahabi di Indonesia?
3. Apakah sama Salaf dan Wahabi?
4. Apa Saja Macam-macam salaf?
5. Bagaimana Cara Berpikir Salaf-Wahabi?
6. Siapa Saja Ulama yang Menjadi Rujukan Salaf-Wahabi?
7. Mengapa Jargon “Kembali Kepada al-Qur’an dan Hadis” Bermasalah?
8. Apa yang Dimaksud Manhaj Salaf?
9. Apa Saja Kekeliruan Salaf-Wahabi dalam Berdalil?
10. Benarkah Semua yang Tidak Dilakukan Rasul Haram Dikerjakan?
11. Adakah Bukti Sahabat Mengerjakan yang Tidak Dilakukan Nabi?
12. Islam Sudah Sempurna, Tidak Usah Ditambah-tambahi?
13. Bagaimana Memahami Hadis Kullu Bid’ah Dhalalah?
14. Benarkah Salaf-Wahabi Tidak Bermadzhab?
15. Tepatkan Salaf-Wahabi Disebut Ahli Hadis?
16. Benarkah Tidak Boleh Beramal Dengan Hadis Dhaif?
17. Apa Saja Kekeliruan Salaf-Wahabi dalam Akidah?
18. Bagaimana Cara Memahami Ayat Mutasyabihat?
19. Mungkinkah Ahlussunnah wal Jama’ah Berdamai dengan Salaf-Wahabi?