Sejarah Kelam Konflik Israel Palestina

Konflik antara Israel dengan Palestina sebenarnya bukanlah berita baru. Dalam narasi sejarah, konflik antara Israel tidak hanya dengan Palestina, melainkan dengan negara-negara Arab juga.
Bagi bangsa Israel, Palestina adalah tanah yang dijanjikan Tuhan (The Promised Land) kepada mereka. Klaim sepihak itu, merupakan penegasan bahwa tidak ada bangsa lain yang berhak menduduki Palestina kecuali umat pilihan Tuhan.
Ketika Palestina diputuskan sebagai “homeland” kaum Yahudi tahun 1905. Dari sinilah persoalan dimulai. Kaum Yahudi secara besar-besaran melakukan imigrasi ke Palestina. Pembangunan “homeland” Yahudi itu dipuncaki dengan pecahnya perang yang oleh Israel disebut sebagai perang kemerdekaan Israel; sebaliknya, bagi bangsa Arab, inilah awal perang penjajahan.
Israel mengklaim, merekalah umat pilihan Tuhan tersebut. Tidak peduli, apakah sebelum dan sesudah mereka hidup bangsa-bangsa lain di sana. Atas nama Tuhan, tanah Palestina adalah mutlak milik mereka.
Banyak pihak menilai klaim Israel itu berlebihan. Faktanya, memang demikian. Secara historis, jauh sebelum bangsa Israel ada, Palestina yang dahulu dikenal dengan nama Kanaan telah dihuni bangsa-bangsa kuno.
Mereka mempunyai kebudayaan yang cukup maju. Penggalian arkeologis di beberapa Kota Kanaan, seperti Megiddo, Hazor, dan Sikhem, menemukan situs-situs, perabotan, keramik, dan permata. Benda-benda itu diperkirakan dibuat sebelum abad ke-17 SM.
Awal konflik Palestina dan Israel terjadi pasca Perang Dunia I. Di mana Inggris sebagai pemenang Perang Dunia I memberikan wilayah kepada bangsa Yahudi melalui Deklarasi Balfour (1917). Dari peristiwa ini, bangsa Yahudi menganggap bahwa kawasan Palestina adalah tanah air mereka. Dilain pihak, masyarakat Islam Palestina memiliki pendirian tersendiri terkait permasalahan klaim wilayah. Masyarakat Islam Palestina menganggap bahwa Inggris memaksakan pendirian negara Yahudi di kawasan Palestina yang bertentangan dengan keinginan mayoritas masyarakat Palestina.
Tahun 1948, terjadi perang antara masyarakat Muslim dan Yahudi di Palestina. Dalam perang ini, Yahudi-Israel mampu mengalahkan Islam-Palestina dan menggagalkan pendirian negara Palestina. Kekalahan tersebut menimbulkan banyak kerugian bagi masyarakat Islam-Palestina. Mereka terpecah menjadi beberapa golongan dan mayoritas wilayah Palestina dikuasai oleh Yahudi-Israel.
Tahun 1964, perjuangan Islam-Palestina kembali muncul dengan didirikannya Palestine Liberation Organization (PLO). PLO bertujuan untuk mendirikan negara Palestina yang berdaulat melalui perang maupun diplomasi. PLO aktif dalam melakukan perlawanan gerilya kepada pendudukan Israel. Selain itu, mereka juga berusaha menggalang dukungan dari negara-negara muslim Arab dan internasional dalam forum PBB.
Tahun 1967, Israel terlibat konflik dengan Mesir dan negara-negara Arab. Kala itu, 183 pesawat pembom tempur Israel secara bergelombang menggempur Mesir. Mesir pun tak tinggal diam dan terus melawan dari arah selatan Israel. Militer Israel memukul mundur pasukan Mesir, Yordania dan Suriah, lalu menduduki kawasan Sinai, Jalur Gaza, Tepi Barat dan Dataran Tinggi Golan. Namun kemenangan itu tidak membawa ketenangan, melainkan ketegangan dan konflik berkepanjangan hingga kini.
Tahun 1973, Presiden Mesir saat itu, Anwar Sadat, dan Presiden Suriah, Hafez al-Assad sepakat menggempur Israel secara bersamaan. Perang pun pecah kembali selama 19 hari. Suriah menggempur Israel dari utara dan Mesir menggempur dari selatan. Apapun alasannya dan siapa pun pemenangnya, perangan selalu menyisakan kerugian. Tercatat lebih dari 7.000 tentara Mesir tewas dan terluka, 11.600 tentara Israel tewas dan terluka, dan 9.100 tentara Suriah tewas dan terluka. Mesir kehilangan 1.100 tanknya, Israel kehilangan 840 tank, dan Suriah paling banyak, yakni 1.200 tank.
Tahun 1987, warga Palestina melakukan mobilisasi untuk menentang pendudukan Israel. Kerusuhan menyebar di wilayah permukiman Palestina dari Gaza sampai Yerusalem Timur. Kerusuhan itu menggagalkan Kesepakatan Oslo dari tahun 1993 — kesepakatan pertama yang dicapai dalam perundingan langsung antara perwakilan pemerintah Israel dan pihak Palestina, yang diwakili oleh PLO.
Perjuangan PLO dan Islam-Palestina mendapatkan hasil pada 15 November 1988 dengan proklamasi kemerdekaan Palestina. Proklamasi tersebut mendapat pengakuan dari 20 negara dunia, termasuk Indonesia.
Tahun 1988, perjuangan PLO dan Islam-Palestina mendapatkan hasil dengan proklamasi kemerdekaan Palestina. Proklamasi tersebut mendapat pengakuan dari 20 negara dunia, termasuk Indonesia. Di sisi lain, Israel, Amerika Serikat, dan beberapa negara Barat menolak proklamasi kemerdekaan Palestina. Hal tersebut menyebabkan konflik antara Israel dan Palestina masih tetap berlangsung hingga sekarang.
Tahun 2002, setelah rangkaian aksi kekerasan dan teror selama Intifada II, Israel mulai membangun tembok pemisah sepanjang 107 kilometer atas alasan keamanan. Tembok ini memisahkan wilayah Israel dan Palestina di wilayah Tepi Barat. Proyek tembok pemisah sekarang masih dilanjutkan dan menurut rencana panjangnya akan mencapai 700 kilometer.
Tahun 2006, pecah perang antara Hamas dan Fatah: Israel untung, Palestina buntung. Fatah merupakan sebuah partai politik di Palestina yang didirikan tahun 1958 dengan tujuan untuk mendirikan negara Palestina di daerah yang sedang menjadi tempat konflik Israel dan Palestina. Sedangkan Hamas merupakan organisasi Islam Palestina didirikan tahun 1987 sebagai cabang dari Ikhwanul Muslimin Mesir.
Hamas dan Fattah memiliki ideologi yang berbeda. Hamas dengan ideologi Islam sedangkan Fatah dengan ideologi nasionalis. Perbedaan ini semakin tajam ketika Fatah dan PLO bersedia berunding dengan Israel. Mayoritas peperangan terjadi di Jalur Gaza dimana pertikaian mulai terjadi setelah Hamas memenangkan dalam pemilihan legislatif dan Hamas kemudian menguasai Jalur Gaza.
Tahun 2008, selama 22 hari, militer Israel melancarkan serangan. The Palestinian Center for Human Rights (PCHR) mencatat korban tewas di pihak Palestina mencapai 1.251 orang, 179 orang di antaranya adalah pejuang Hamas, 168 polisi, 292 anak-anak, dan 97 perempuan.
Belum lagi korban luka-luka yang menurut Jaber Wishah, Deputy Direcor of The Palestinian Center for Human Rights, mecapai 4.356 orang, di mana 1.133 di antaranya adalah anak-anak dan 735 korban lainnya adalah perempuan. Korban itu tidak sebanding dengan korban di pihak Israel di mana menurut catatan Israel Defense Forces (IDF) tiga penduduk sipil dan 10 tentara Israel tewas.
Pertikaian Israel dan kelompok Palestina di Gaza pada 2014 membuat penghuni kawasan itu menderita
Kini, tahun 2021, tensi kedua negara itu kembali memanas dalam beberapa hari terakhir karena dipicu oleh berbagai sebab. Ratusan orang menjadi korban akibat konflik Israel-Palestina terbaru ini, termasuk di antaranya adalah puluhan anak-anak.
Sejak Senin (10/5/2021), kelompok milisi Palestina menghujani wilayah Israel dengan ribuan roket. Meski demikian, sebagian besar roket itu berhasil dicegat oleh sistem pertahanan udaran otomatis Iron Dome Israel. Aksi militer tersebut terbukti tidak efektif dalam merespons konflik Israel-Palestina. Hal ini karena Palestina kalah dari Israel yang didukung dengan teknologi tinggi.
Perang Israel dengan Palestina memang bukanlah perang yang sepadan. Perang Israel dengan Palestina, ibarat perang laras baja melawan timpukan batu.

No comments yet.

Leave a comment

Your email address will not be published.