Apa Saja Kekeliruan Salafi-Wahabi dalam Akidah?

a. Membagi Tauhid Menjadi Tiga
Salaf-wahabi meyakini bahwa tauhid dibagi tiga: tauhid rububiyyah, yaitu mengakui Tuhan sebagai Sang Pencipta dan mengatur jagad raya. Tauhid Rububiyyah ini diyakini oleh semua orang, baik musyrik maupun mukmin; tauhid uluhiyyah, yaitu melaksanakan ibadah yang hanya ditujukan untuk Allah; tauhid asma’ wa sifat, yaitu menetapkan hakikat nama dan sifat Tuhan berdasarkan makna literalnya.
Pembagian tauhid sepert ini bermasalah karena beberapa alasan:
Pertama, Rasulullah SAW, sahabat, dan ulama salaf tidak pernah membagi tauhid dalam tiga kategori sepert ini. Bahkan tidak ada dalil al-Qur’an dan hadis yang menguatkan pembagian tauhid dalam tiga kategori.
Kedua, tauhid dibagi tiga adalah hasil pemikiran Ibnu Taymiyyah dan diikut oleh Muhammad bin Abdul Wahab. Tujuan pembagian tauhid ini untuk menyesatkan orang yang melakukan tawassul, istghatsah, ziarah kubur, dan tabarruk sebagai musyrik. Dalam pandangan salaf-wahabi, orang yang melakukan perbuatan ini dianggap tidak mengakui tauhid uluhiyyah, alias menyembah dan meminta pada selain Allah.
Ketiga, pembagian tauhid ini bertentangan dengan al-Qur’an dan hadis shahih. Misalnya hadis tentang pertanyaan malaikat dalam kubur:
يف تل زن لاق )تباثلا لوقلاب اونمآ نيذلا ا تبثي(
ييبنو ا يب ر لوقيف كب ر نم هل لاقيف ربقلا باذع
ملسو هيلع ا ىلص دمحم
“Allah SWT berfrman, “Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu” (QS: Ibrahim: 27). Kemudian Rasulullah SAW bersabda, “Ayat ini turun mengenai adzab kubur. Orang yang dikubur akan ditanya, “Siapa Tuhanmu?” Lalu di menjawab, “Allah Tuhanku, dan Muhammad SAW nabiku (HR: Muslim)
Hadis di atas menunjukan bahwa tidak ada perbedaan makna “Ilah (tauhid uluhiyyah)” dengan “Rabb (tauhid rububiyyah). Malaikat sendiri tdak membedakannya. Andaikan pendapat salaf-wahabi benar terkait pembagian tauhid, mestnya malaikat bertanya, “Man Ilahuka?”, bukan “Man Rabbuka”, atau mungkin keduanya akan ditanyakan, “Man Ilahuka wa Man Rabbuka”. Ini membuktkan kalau klasifkasi tauhid uluhiyyah dan tauhid rububiyyah bermasalah.
b. Meyakini Allah Bertempat
Salaf-wahabi meyakini Allah berada di atas ‘Arsy. Keyakinan ini didasarkan pada pemahaman mereka terhadap ayat-ayat mutasyabihat. Dalam memahami ayat tersebut, mereka memahami dari sisi dzahirnya saja, atau menggunakan pendekatan literal, tetapi akibatnya mereka terjebak dalam tasybih dan tajsim, yaitu penyamaan Allah dengan makluk.
Mayoritas Ahlussunnah wa al-Jama’ah meyakini Allah tidak bertempat. Kalau Allah memiliki tempat, berarti Dia butuh pada sesuatu di luar dirinya sendiri. Kalau Tuhan butuh pada sesuatu, berati tidak ada bedanya dengan manusia. Sebab itu, Ahlussunnah menafikan seluruh sifat kemanusiaan pada Tuhan. Di antara dalil Allah tdak bertempat adalah:
ءىض� هلثمك سيل  
Dia (Allah) tidak menyerupai sesuatupun dari Makhluk-Nya, dan tidak ada sesuatupun yang menyerupai-Nya” (QS: al-Syura’: 11)
هاور( »ه رـيغ ءىض� نكي ملو ا ناك« :ا لوسر لاق
)دوراجلا نباو يقهيبلاو يراخبلا
Rasulullah SAW bersabda, ‘Allah ada pada pada azal (ada tanpa permulaan) dan belum ada sesuatupun selain-Nya” (HR: al-Bukhari, al-Bayhaqi, dan Ibnu Jarud)
ءىض� كقوف سيلف رهاظلا تنأ« :ا لوسر لاق
)ه رـيغو ملسم هاور( »ءىض� كنود سيلف نطابلا تنأو
Engkau Ya Allah al-Zhahir (yang segala sesuatu menunjukkan akan ada-Nya), tidak ada sesuatu apapun di atas-Mu, dan Engkau al-Bathin (yang tidak dapat dibayangkan) tidak ada sesuatu apapun di bawah-Mu” (HR. Muslim dan lainnya).
c. Menyamakan Allah dengan Makhluknya
Salaf-wahabi juga menyamakan Allah dengan makhluknya. Sebagian dai dan tokoh mereka menganggap Allah punya tangan, punya kaki, wajah, dan lain-lain. Ini akibat dari kesalahpahaman mereka terhadap ayat-ayat mutasyabihat. Padahal, seluruh ulama sepakat bahwa Allah tidak boleh disamakan dengan makhluk. Abu Ja’far al-Thahawi (w. 321 H) berkata:
ناك رلاو تاياغلاو دودحلا نع )ا ينعي( ىـلاعت«
رئاسك تسلا تاهجلا هيوحت ل تاودلاو ءاضعلاو
»تاعدتبلا
Maha suci Allah dari batas-batas (bentuk kecil maupun besar, jadi Allah tidak mempunyai ukuran sama sekali), batas akhir, sisi-sisi, anggota badan yang besar (sepert wajah, tangan dan lainnya) maupun anggota badan yang kecil (sepert mulut, lidah, anak lidah, hidung, telinga dan lainnya). Dia tidak diliput oleh satu maupun enam arah penjuru (atas, bawah, kanan, kiri, depan dan belakang); tidak sepert makhluk-Nya yang diliput oleh enam arah penjuru tersebut”.
Pendapat ini didukung oleh beberapa dalil, di antaranya:
ءىض� هلثمك سيل
Dia (Allah) tdak menyerupai sesuatupun dari Makhluk-Nya, dan tdak ada sesuatupun yang menyerupai-Nya” (QS: al-Syura’: 11)
لاثملا ل اوب رضت لف
Maka janganlah kalian membuat perumpamaan bagi Allah SWT” (QS: al-Nahl: 74)