Bagaimana Cara Memahami Ayat Mutasyabihat?

Supaya tidak salah dalam memahami ayat mutasyabihat, sepert ayat tentang sifat-sifat Tuhan, ada dua pendekatan yang digunakan ulama dalam memahami ayat tersebut:
Pertama, tafwidh, yaitu menyerahkan makna dan hakikat ayat tersebut sepenuhnya pada Allah SWT, sembari meyakini bahwa Allah tidak serupa dengan makhluk.
Kedua, takwil, yaitu tidak memahami ayat mutasyabihat sesuai dengan makna aslinya, dengan tujuan untuk mensucikan Tuhan (tanzih) dan supaya terhindar dari tajsim dan tasybih (menyerupai Allah dengan makhluk).
Pendekatan takwil ini berat memahami ayat-ayat mutasyabihat sebagai majaz atau metafore, sehingga tidak bisa dipahami sebagaimana adanya. Misalkan, kata “istwa’” di dalam al-Qur’an tdak dipahami secara tekstual, tetapi dipahami dengan makna berkuasa. Karena di dalam bahasa Arab, ada berbagai macam makna istwa’, salah satunya menguasai. Makna menguasai lebih tepat dalam hal ini, agar tdak terjebak dalam tasybih.
Salaf-wahabi mendaku dirinya sebagai mengikut metode tafwidh, makanya mereka menentang metode ta’wil dan tidak mengakui majaz dalam al-Qur’an. Akan tetapi, metode tafwidh yang mereka gunakan tidak seperti yang dilakukan ulama salaf.
Para salafussalih menggunakan tafwidh sembari meyakini bahwa Allah tidak sama dengan makhluk dan tidak ada satupun sifat makhluk melekat pada diri Tuhan. Sementara metode tafwidh yang digunakan salaf-wahabi, berujung pada penyerupaan Allah dengan makhluk. Mereka tidak segan-segan mengatakan di hadapan banyak orang, “Allah di atas langit”, “Allah punya kaki”, “Allah punya tangan”. Andaikan Allah di langit, punya tangan, punya kaki, lalu apa bedanya dengan manusia?
Bukankah dalam al-Qur’an dijelaskan, “Dia (Allah) tdak menyerupai sesuatupun dari Makhluk-Nya, dan tdak ada sesuatupun yang menyerupai-Nya” (QS: al-Syura’: 11).