Semua Tradisi Hasilkan Pahala Di Tangan Walisongo

Wakil Katib PWNU Jawa Tengah, KH Nasrulloh Afandi mengatakan para dai millenial perlu meniru cara dakwah Walisongo. Pasalnya setiap hal dari kebinekaan sebagai multiadat dan tradisi yang ada di Nusantara, ditangan Walisongo dikemas sebagai sarana untuk menghasilkan pahala.
“Misalnya saja Kanjeng Sunan Kalijaga. Di tangannya, semua keragaman tradisi dirangkul dan dikemas sebagai sarana dakwah, plus menghasilkan pahala,” katanya saat dihubungi dari Jakarta, Senin (29/4) malam.
Ia menegaskan hal seperti itu perlu kembali dan terus digalakkan. Mengingat sekarang ini bermunculan orang-orang yang mendeklarasikan diri juru dakwah, tetapi cara mereka kebalikan dari metode dakwah yang harusnya dikedepankan juru dakwah.
“Mereka menjadikan tradisi bukan sarana dakwah. Tetapi dijadikan alat memojokkan masyarakat atau golongan tertentu, atas nama berdakwah,” lanjutnya.
Hingga kemudian muncullah beragam tuduhan seperti tahlilan dianggap bidah, kebudayaan lokal khurofat, syirik, dan sejenisnya.
“Singkatnya, karena tidak bisa mengelola kebinekaan, mereka menjadi para ‘dai garis keras’. Terjangkit gejala merasa diri paling benar paling pintar, dalam ibadah dan beragama,” katanya.
Menurut Gus Nasrul, hal itu bisa dibendung dengan cara kembali membumikan retorika dakwah Walisongo, di mana para Walisongo secara halus mengajak masyarakat, mengelola setiap hal menjadi media ibadah.
Sunan Kalijaga, kata dia, adalah contoh orang yang memahamai ajaran Islam secara mendalam. Sesuai ushul fiqih bahkan maqashid syariah. Terbukti Sunan Kalijaga mampu menjaga kelestarian budaya dalam berdakwahnya dengan tidak menciderai pihak tertentu.
“Hal itu juga sesuai esensi ajaran Islam sebagai mana dituangkan oleh Syeikh Akbar Maqashid Syariah, Imam Syatibi dalam kitabnya Al-Muwafaqoth,” pungkasnya. (Kendi Setiawan)
Source: NU