Bagaimana Memahami Hadis Kullu Bid’ah Dhalalah?

Salaf-wahabi berpendapat setiap bid’ah adalah sesat tanpa pengecualian. Mereka tidak menerima pembagian bid’ah hasanah dan bid’ah dhalalah. Mereka beragumentasi dengan hadis riwayat Jabir bin Abdullah:

يف ةللض لك و ،ةللض ةعدب لك و ةعدب ةثدحم لك و رانلا

Setiap yang diada-adakan adalah bid‘ah. Setiap bid‘ah itu sesat. Setiap kesesatan membimbing orang ke neraka” (HR: al-Nasa’i)
Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, salaf-wahabi seringkali memahami hadis secara literal dan sepotong-sepotong, tidak memahaminya berdasarkan kaidah kebahasaan ataupun mengonfrmasinya dengan hadis-hadis lain. Ada beberapa hal yang perlu dikoreksi dari pemahaman salaf-wahabi terkait bid’ah:
Pertama, lafal “kullu” pada hadis di atas tidak bermakna seluruh, tetapi sebagian. Dalam bahasa Arab, “Kullu” tidak selalu berat seluruh, tapi juga ada yang bermakna sebagian. Lafal “kullu” yang berat sebagian tidak hanya diakui ahli bahasa, tetapi juga terdapat dalam banyak hadis. Misalnya dalam hadis riwayat al-Tirmidzi disebutkan:

ةينا ز نيع لك

Setiap Mata berzina” (HR al-Tirmidzi)
Kalau hadis di atas dipahami dengan cara berpikir salaf-wahabi, maka maknanya seluruh mata pasti berzina, baik mata ulama ataupun orang biasa. Akan tetapi, ulama memahami bahwa makna “kullu” di atas bukan setap orang yang punya mata, tetapi sebagian orang saja,  yaitu mereka yang suka melihat wanita lain dengan tatapan penuh syahwat.
Kedua, bid’ah yang dimaksud dalam hadis di atas bukan setiap sesuatu yang baru, karena kalau dipahami demikian, implikasinya setiap sesuatu yang baru, baik urusan dunia maupun agama, dianggap sesat. Dengan demikian, yang dimaksud bid’ah dalam hadis di atas ialah setiap perkara baru yang bertentangan dengan al-Qur’an dan hadis, atau setiap perkara baru yang tidak memiliki dalil.
Ketiga, hadis “kullu bid’ah dhalalah” di atas perlu dipahami dengan hadis lain agar mendapatkan pemahaman yang utuh dan tidak gampang menyalahkan amaliah orang lain. Dalam hadis riwayat al-Bukhari disebutkan:

د ر وهف هنم سيل ام اذه ان رمأ يف ثدحأ نم

Siapa yang mengada-ada di dalam urusan kami (agama) yang bukan bersumber darinya, maka tertolak” (HR: al-Bukhari)
Hadis ini menjadi penjelas bagi makna hadis “kullu bid’ah dhalalah”. Pada hadis kedua ini dijelaskan bahwa bid’ah yang ditolak ialah mengada-ada dalam persoalan agama tidak berlandaskan pada dalil, baik al-Qur’an dan hadis. Artinya, persoalan baru yang sesuai dengan al-Qur’an dan hadis, baik ayat umum maupun spesifk, tidak dapat digolongkan sebagai bid’ah dhalalah, tetapi masuk kategori bid’ah hasanah.
Sebab itu, Imam al-Syaf’i mengatakan, “‘Perkara yang diada-adakan terbagi dua.
Pertama, perkara baru yang bertentangan dengan Al-Quran, Sunah Rasul, pandangan sahabat, atau kesepakatan ulama, ini yang dimaksud bid‘ah sesat. Kedua, perkara baru yang baik-baik tetapi tidak bertentangan dengan sumber-sumber hukum tersebut, adalah bid‘ah yang tidak tercela,’”.
Pendapat al-Syaf’i ini dinukil sendiri oleh Ibnu Taimiyyah dalam Majmu’ al-Fatawa, beliau mengatakan:

نيملسلا قافتلاب ةعدب وهف صوصنلا فلاخ امو
لاق .ةعدب ىمسي ل دقف اهفلاخ هنأ ملعي مل امو
تفلاخ ةعدب :ناتعدب ةعدبلا : ا همحر يعفاشلا
لوسر باحصا ضعب نع ارثأو اعامجاو ةنسو اباتك
ةعدبو .ةللض ةعدب هذهف ملسو هيلع ا ىلص ا
لوقل ةنسح نوكت دق هذهف كلذ نم ائيش فلاخت مل

…هذه ةعدبلا تمعن :رمع

Pandangan yang menyalahi nash adalah bid’ah berdasarkan kesepakatan kaum muslimin. Sedangkan pandangan yang tidak diketahui menyalahinya, terkadang tidak dinamakan bid’ah. Imam al-Syaf’i berkata, bid’ah itu ada dua: pertama, bid’ah yang menyalahi al-Qur’an, sunnah, ijma’, dan atsar sebagian sahabat rasulullah saw, itu disebut bid’ah dhalalah. Kedua, bid’ah yang tidak menyalahi hal tersebut. Ini terkadang disebut bid’ah hasanah. Berdasarkan perkataan umar ‘Inilah sebaik-baik bid’ah’.”
Diadopsi dari Buku Pintar Salafi Wahabi yang diterbitkan oleh Harakah Islamiyah
Baca juga :
1. Siapakah Wahabi?
2. Bagaimana Penyebaran Wahabi di Indonesia?
3. Apakah sama Salaf dan Wahabi?
4. Apa Saja Macam-macam salaf?
5. Bagaimana Cara Berpikir Salaf-Wahabi?
6. Siapa Saja Ulama yang Menjadi Rujukan Salaf-Wahabi?
7. Mengapa Jargon “Kembali Kepada al-Qur’an dan Hadis” Bermasalah?
8. Apa yang Dimaksud Manhaj Salaf?
9. Apa Saja Kekeliruan Salaf-Wahabi dalam Berdalil?
10. Benarkah Semua yang Tidak Dilakukan Rasul Haram Dikerjakan?
11. Adakah Bukti Sahabat Mengerjakan yang Tidak Dilakukan Nabi?
12. Islam Sudah Sempurna, Tidak Usah Ditambah-tambahi?
13. Bagaimana Memahami Hadis Kullu Bid’ah Dhalalah?
14. Benarkah Salaf-Wahabi Tidak Bermadzhab?
15. Tepatkan Salaf-Wahabi Disebut Ahli Hadis?
16. Benarkah Tidak Boleh Beramal Dengan Hadis Dhaif?
17. Apa Saja Kekeliruan Salaf-Wahabi dalam Akidah?
18. Bagaimana Cara Memahami Ayat Mutasyabihat?
19. Mungkinkah Ahlussunnah wal Jama’ah Berdamai dengan Salaf-Wahabi?