Cara Berfikir Islam Ahlussunnah wal Jama’ah

Ahlussunnah Wal Jamā’ah (Aswaja) adalah golongan yang menjadikan hadis Jibrīl yang diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahīh-nya, bahwa pilar agama itu ada tiga yaitu: Iman,Islam dan Ihsān.
Pembagian ilmu ada tiga yaitu: aqidah, fiqih dan suluk. Setiap imam Aswaja telah melaksanakan tugas sesuai bakat yang Allah berikan.  
Ahlussunnah Wal Jamā’ah bukan hanya memahami Al-Qur’an dan Sunnah saja, tapi mereka juga menekankan pentingnya memahami realitas kehidupan
Cara berfikir Islam Ahlussunnah Wal Jamā’ah membedakan antara teks wahyu (Al-Qur’an dan Sunnah), penafsiran dan penerapannya. Aswaja berupaya memastikan kecocokan sebab hukum pada kejadian (tahqīq manāth) dan memahami sebab hukum (takhrīj manāth). Aswaja menjelaskan dan memahammi teks wahyu dengan sangat baik, mereka menafsirkannya, menjabarkan yang global (mujmal), kemudian menerapkannya dalam kehidupan dunia ini, sehingga mereka memakmurkan bumi sesuai dengan ajaran Islam.
Ahlussunnah Wal  Jamā’ah  (Aswaja) memahami teks wahyu dan memahami realitas, Aswaja juga menambahkan unsur penting, yaitu tata cara menerapkan teks wahyu yang pasti benar kepada realitas kehidupan.
Inilah yang tidak dimiliki oleh kelompok radikal. Mereka tidak memahami teks wahyu.  Mereka tidak memahami realitas kehidupan.  Mereka juga tidak memiliki metode dalam menerapkan teks wahyu pada tataran realitas.  Oleh karena itu mereka sesat dan menyesatkan.
Ciri-ciri Ahlussunnah Wal Jamā’ah
  1. Tidak mengkafirkan siapapun, kecuali orang yang mengakui bahwa ia telah keluar dari Islam, juga orang yang keluar dari barisan umat Islam
  2. Tidak pernah menggiring manusia untuk mencari kekuasaan, menumpahkan darah, dan tidak pula mengikuti syahwat birahi (yang haram)
  3. Aswaja menerima perbedaan dan menjelaskan dalil-dalil setiap permasalahan, serta menerima kemajemukan dan keragaman dalam aqidah, atau fiqih, atau tasawuf
  4. Aswaja menyerukan pada kebajikan, dan melarang kemungkaran.   Mereka juga waspada dalam menjalankan agama, mereka tidak pernah menjadikan kekerasan sebagai jalan
  5. Aswaja memahami syariat
  6. Aswaja tidak memungkiri peran akal, bahkan mereka mampu mensinergikan akal dan teks wahyu
  7. Aswaja memperhatikan dengan cermat 4 faktor perubahan, yaitu:  waktu, tempat, individu dan keadaan
Rasulullah juga bersabda:  “Barangsiapa yang keluar dari barisan umatku, menikam (membunuh) orang saleh dan orang jahatnya, ia tidak peduli pada orang mukmin, juga tidak menghormati orang yang melakukan perjanjian damai (ahlu dzimmah),  sungguh dia bukanlah bagian dari saya, dan saya bukanlah bagian dari dia.”
Sumber: Buletin Aswaja Center

No comments yet.

Leave a comment

Your email address will not be published.