Salafi – Wahabi?

Sebenarnya salaf dan wahabi adalah dua kelompok yang berbeda, meskipun tujuan dan agenda mereka sama. Istlah salaf sendiri dipopulerkan pada tahun 1980-an oleh Nashiruddin al-Bani dan pengikut al-Bani menyebut dirinya Jemaah Salaf. Sementara wahabi ialah gerakan yang meneruskan perjuangan Muhammad bin Abdul Wahab.
Al-Bani keberatan dengan istlah wahabisme karena terkesan mengkultuskan tokoh tertentu dan dia berupaya semaksimal mungkin untuk tidak mengikut pada pendapat satu ulama dan melepaskan diri dari ketaklidan serta merujuk langsung pada al-Qur’an dan hadis.Pada hakikatnya misi kedua kelompok ini sama, yaitu menyerang praktek yang dianggap bid’ah oleh mereka dan meminta umat Islam kembali kepada al-Qur’an dan hadis dengan cara meninggalkan pendapat ulama.Salaf-wahabi menggunakan pendekatan literal atau tekstual dalam memahami al-Qur’an dan hadis. Pendekatan literal yang mereka gunakan juga sangat kaku dan terbatas. Dalam memahami hadis misalnya, mereka tidak membandingkan antara satu hadis dengan hadis lainnya atau membandingkannya dengan al-Qur’an, agar mendapatkan pemahaman yang lebih utuh.
Akibat dari pendekatan tekstual yang terbatas ini, kelompok salaf-wahabi acapkali menyalahkan, membid’ahkan, dan mengafrkan orang lain. Metode dakwah yang mereka gunakan terkesan jauh dari etka dakwah yang diajarkan Rasulullah SAW.
Sejarah membuktikan, Rasulullah SAW berhasil dakwah bukan dengan cara mengambil sikap konfrontasi dengan masyarakat, tetapi beliau menghargai tradisi lokal dan lebih memilih berdamai daripada memaksakan keyakinannya. Sebab itu, al-Qaraf, seorang ulama madzhab Maliki, mengatakan kalau mau berdakwah atau mengeluarkan fatwa jangan hanya terpaku pada kitab, tetapi tanyalah terlebih dahulu bagaimana situasi dan latar belakang orang yang meminta fatwa kepada kita. Itu artnya, seorang da’i ataupun mufi mest hat-hat dalam berpendapat agar tdak menabrak kebiasaan masyarakat.
Kebiasaan yang dimaksud di sini tentu kebiasaan yang baik. Kalau kebiasaan buruk tentu harus diubah, meskipun cara mengubahnya harus bertahap, tdak bisa sekaligus. Kebiasaan baik itu juga tdak mest harus dilakukan Rasulullah. Selama kebiasaan tersebut tidak bertentangan dengan syariat, maka tetap boleh dilakukan, walaupun tdak dilakukan Rasulullah.
Dengan adanya tulisan ini, paling tidak masyarakat sudah bisa membedakan mana kelompok salaf-wahabi dan mana ahlussunnah wal jama’ah.
Diadobsi dari Buku Pintar Salafi Wahabi