Tepatkah Salafi-Wahabi Disebut Ahli Hadis?

Istilah ahli hadis belakangan ini seakan-akan sudah menjadi madzhab tersendiri yang berbeda dengan madzhab fikih lainnya. Padahal dulu, setiap ahli hadis pasti merujuk pada salah satu fikih empat madzhab. Misalnya, al-Bukhari, Muslim, al-Nasa’i, Ibnu Khuzaimah, al-Daraquthni, al-Hakim, al-Baihaqi, al-Nawawi, Ibnu Hajar, al-‘Iraqi, dan al-Suyuthi dikenal ahli hadis yang bermadzhab al-Syaf’i.
Dilihat dari aspek keilmuan, tidak tepat salaf-wahabi diidentkkan dengan ahli hadis. Mereka memang sering mengutip hadis, tetapi bukan berat ahli hadis. Sebab ahli hadis adalah orang yang menguasai ilmu hadis dirayah dan riwayah, memahami ilmu sanad dan matan, mendalami ilmu jarah wa ta’dil, mengetahui ‘illah hadis dan metode pemahaman hadis (thuruq fahmil hadis).
Sementara sebagian salaf-wahabi tidak mendalami keseluruhan ilmu ini, terutama terkait cara memahami hadis. Sebab itu, pendapat keagamaan mereka seringkali memicu perdebatan dan berbeda dengan mayoritas ulama. Ini akibat memahami hadis dari makna literalnya saja, tanpa menggunakan ilmu pemahaman hadis.