Konflik Permanen, Barangkali Palestina Butuh Pancasila ?

Palestina saat ini tengah ramai diberitakan di media mengenai konflik tiada akhir antara Israel dan Palestina. Seakan serangan bertubi-tubi antara pihak Israel dengan Hamas Palestina di Jalur Gaza tak kunjung menemukan titik temu.
Konflik permanen ini diperparah dengan adanya perang saudara antara Hamas dengan Fatah. Hamas dengan ideologi Islam sedangkan Fatah dengan ideologi nasionalis. Ketegangan Hamas dan Fatah meningkat tahun 2005 setelah presiden Yasser Arafat meninggal dunia pada 11 November 2004.
Tahun 2007, perang saudara pecah. Persis 1 tahun usai Hamas memenangkan pemilu 2006. Mayoritas peperangan terjadi di Jalur Gaza, dimana Hamas yang menguasai kawasan tersebut.
Hamas dan Fatah memang berbeda pandangan dalam menyikapi perlawanan terhadap Israel. Beberapa kali gap antara Hamas dan Fatah terlihat. Misalnya Fatah menolak perlawanan bersenjata terhadap Israel yang bertolak belakang dengan Hamas yang kerap melepaskan roket dan misil ketika perang melawan Israel.
Dilansir dari CNN Indonesia, Fatah masuk dalam kompromi terkait masalah Al-Quds. Fatah juga  mempromosikan kerjasama keamanan dengan Israel, mendapatkan dana dari UE dan sebagian negara Arab hingga berhasil memproklamasikan kemerdekaan Palestina tahun 1988. Saat ini, telah ada 147 negara yang mengakui kemerdekaan Palestina, Indonesia pendukung paling awal.
Di satu sisi, Hamas berpegang teguh pandangannya selama ini. Hamas memegang keyakinan terhadap semua wilayah di Palestina dalam satu keutuhan dan menolak mengakui keberadaan Israel. Untuk itu, Hamas memilih caranya sendiri, yakni mengangkat senjata dan berperang melawan Israel demi keutuhan kesatuan wilayah Palestina. Hal ini tak mengherankan lagi sebab Hamas merupakan organisasi Islam Palestina didirikan tahun 1987 sebagai cabang dari Ikhwanul Muslimin Mesir.
Tahun 2013, pada peringatan tahun pertama terpilihnya presiden Morsi dari Ikhwanul Muslimin, ribuan masyarakat dari seluruh penjuru Mesir berdemonstrasi di jalan menuntut pengunduran diri presiden. Alasan dari tuntutan tersebut yakni sang presiden semakin otoriter dan menjalankan agama Islam tanpa mempertimpangkan kepentingan pihak lain. Ditahun tersebut, militer Mesir pada akhirnya menyatakan berakhirnya kepemimpinan Mohammed Morsi sebagai presiden. Di negara asalnya sendiri Ikhwanul Muslimin tertolak, bahkan puluhan pemimpinnya dijatuhi hukuman mati, usai melakukan serangan berdarah terhadap rakyat Mesir dan berusaha untuk menghancurkan negara.
Tahun 2017, Hamas dan Fatah akhirnya sepakat berdamai untuk menuju pemerintahan Palestina bersatu. Kesepakatan rekonsiliasi itu dicapai di Kairo, Mesir. Masyarakat Palestina menyambut baik rekonsiliasi panjang setelah sebelum-sebelumnya gagal sepakat. Perang saudara 10 tahun pun usai.
Lalu? Bagaimana perkembangan Palestina kedepannya? Apakah ini konflik agama? Konflik ideologi ? Konflik daerah kekuasaan? Atau konflik memperebutkan aset ekonomi. Apa latar belakannya? Tentunya kondisi ini sudah menjadi masalah kemanusiaan dimana ribuan warga sipil telah menjadi korban pertempuran yang telah berlangsung lama. Nilai-nilai kemurnian seakan ternodai dengan munculnya aksi-aksi kekerasan dalam menyelesaikan setiap konflik Israel Palestina.
Walau perang satu dekade Hamas-Fatah telah usai, tapi sel-sel konflik tetap ada. Ketidak cocokkan Hamas Fatah terus terlihat, diberbagai media. Saling menyalahkan antar kelompok dan saling membenarkan kelompok sendiri. Salah satu penyebabnya yakni perbedaan mendasar ideologi. Antara ideologi nasionalis dengan ideologi islam.
Hamas berjuang melawan Israel dengan senjata, sedangkan Fatah melawan dengan diplomasi. Keduanya sangat dibutuhkan Palestina. Perlu ideologi yang terus menerus digaungkan untuk menyatukan keduanya , menyatukan masyarakat Palestina. Layaknya ideologi Pancasila di Indonesia.
Ideologi Pancasila hadir dengan kesahajaan ungkapan yang terumus dengan sederhana dalam lima sila namun merangkum keseluruhan eksistensi sebagai bangsa dan negara yang berdaulat. Bayangkan; beribu pulau, beribu suku, beribu bahasa daerah, beribu karakter dan beribu kepentingan, semua hanya cukup terdeskripsi dalam ungkapan-ungkapan yang gamblang, jelas, jernih, tidak bias.
Pancasila menjadi rahasia di balik kekokohan Indonesia, jua menjadi titik temu, titik kumpul dan titik simpul dari ajaran agama di Indonesia. Artinya seorang penganut agama akan mencapai derajat tertinggi jika telah menjadi insan pancasila seutuhnya.
Agama dan pancasila satu ruh, satu jiwa, bersenyawa. Inilah yang membedakan ideologi pancasila dengan ideologi kapitalisme dan komunisme. Di dalam ideologi kapitalisme dan komunisme, agama bagian luar dari ideologi, sedang di dalam Pancasila, agama built in dan include.
Nilai-nilai pancasila diakui sebagai solusi penyelesaian konflik, sehingga tidak mungkin khilafah bisa mengganti posisi Pancasila. Ajaran khilafah tidak terdapat dalam rukun Islam dan rukun Iman, tetapi khilafah adalah bagian produk ijtihad masa lalu.
Kecuali dengan sistem paksa di bawah todongan senjata. Realitasnya sistem paksa di bawah todongan senjata memicu perlawanan bersenjata juga. Melahirkan konflik kekerasan-diskriminasi tak berujung. Walhasil khilafah menjadi sumber konflik. Dimanapun khilafah bersemi, disitu selalu ada konflik.

No comments yet.

Leave a comment

Your email address will not be published.