Mengurai Benang Merah Ziarah Kubur

Dari zaman ulama naik unta hingga para kyai naik toyota, perdebatan seputar tradisi ziarah yang tetap ramai dibicarakan. Ziarah kubur merupakan salah satu perbuatan yang mengalami perubahan (nasikh-mansukh). Pada zaman awal Islam, Rasulullah melarang melakukan praktik ini, tapi kemudian larangan tersebut mansukh (diubah) menjadi suatu perbuatan yang diperbolehkan untuk dilakukan.
Hal ini dimaksudkan untuk menjaga aqidah umat Islam, dulu beliau (Nabi) khawatir kalau ziarah kubur diperbolehkan, umat Islam akan menjadi penyembah kuburan. Setelah akidah umat Islam kuat dan tidak ada kekhawatian untuk berbuat syirik, Rasulullah membolehkan para sahabatnya untuk melakukan ziarah kubur. Karena ziarah kubur dapat membantu umat Islam untuk mengingat saat kematiannya.
 “Dahulu saya melarang kalian berziarah kubur, namun kini berziarahlah kalian!. Dalam riwayat lain; ‘(Maka siapa yang ingin berziarah ke kubur, hendaknya berziarah), karena sesungguhnya (ziarah kubur) itu mengingat kan kalian kepada akhirat”. (HR.Muslim)
Dengan adanya hadits ini maka ziarah kubur itu hukumnya boleh bagi laki-laki dan perempuan.Walau telah dijelaskan dengan detail, masih saja ada kelompok yang menganggap bahwa berziarah kubur merupakan perbuatan syirik dan bagi yang melaksanakannya dihukumi kafir, sungguh sebuah justifikasi yang terlalu gegabah. Tidak bisa dibantah bahwa ada kelompok yang selalu menyatakan orang lain kafir, kalau tidak sama dengan dia. Oleh sebab itu, kelompok takfiri ini berbahaya, karena selalu memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa.
Meskipun kelompok takfiri menganggap bahwa ziarah adalah ritual bid’ah dan mengandung kesyirikan, namun hal itu tidaklah diambil pusing bagi para pecinta ziarah para wali. Begitu banyak para peziarah peziarah ke makan-makam para wali setiap harinya hingga tidak bisa lagi di hitung berapa jumlah para peziarah setiap harinya. Itu mencerminkan bahwa ziarah memang wahana yang tepat mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Terhadap permasalahan ziarah kubur ini, Rasulullah memberikan pedoman bagi umatnya yang hidup di akhir zaman agar mengikuti Sawadul A’zham (jamaah kaum muslimin dan ulama yang terbanyak), karena kesepakatan golongan terbanyak (makruf) ini mendekati ijma’, sehingga kemungkinan terjadinya kekeliruan sangatlah kecil.
Hal itu sesuai dengan Sabda Rasulullah, “Sesungguhnya umatku tidak akan bersepakat pada kesesatan. Oleh karena itu, apabila kalian melihat terjadi perselisihan maka ikutilah kelompok mayoritas atau Sawadul A’zham”.
Dari sini, paling tidak pandangan yang menganggap syirik serta sesat bagi para pecinta ziarah baik para wali maupun sanak keluarga bisa terpatahkan. Perilaku ziarah kubur juga dilakukan oleh Rasulullah, hal ini dilakukan setelah Malaikat Jibril menemui Rasulullah seraya berkata:
Artinya: Tuhanmu memerintahkanmu agar mendatangi ahli kubur baqi’ agar engkau memintakan ampunan buat mereka. (HR Muslim)
Bahkan legalitas melaksanakan ziarah kubur ini telah disepakati oleh seluruh mazhab umat Islam.
 
Artinya: Ziarah kubur diperbolehkan oleh seluruh mazhab umat Islam. (KH Ali Maksum Krapyak, Hujjah Ahlussunnah Wal Jama’ah, hal. 53).
Maka dapat disimpulkan bahwa praktik ziarah kubur merupakan salah satu ajaran agama Islam yang secara tegas dianjurkan oleh syariat. Dan sebaiknya seseorang pada saat melaksanakan ziarah kubur agar senantiasa menjaga adab-adab dalam berziarah kubur, agar ziarah kubur yang dilakukannya mendapatkan pahala dan kemanfaatan serta dilakukan dengan cara yang benar.
Sumber : Buletin Aswaja Center

No comments yet.

Leave a comment

Your email address will not be published.