Benarkah Semua yang Tidak Dilakukan Rasul Haram Dikerjakan?

Salaf-wahabi sering mengatakan, “Kalau tidak dilakukan Rasulullah berat itu bid’ah dan tidak boleh dikerjakan”. Mereka juga suka mengatakan, “Kalau anda melakukan apa yang tidak dilakukan Rasulullah, berat seakan-akan anda merasa lebih tahu dari Rasulullah”. Pernyataan kelompok salaf-wahabi ini sangatlah lemah dan tidak memiliki landasan yang kuat. Kelemahan pandangan tersebut sebagai berikut:
Pertama, tidak ada satupun kaidah ushul fikih ataupun fikih yang bunyinya sepert itu. Kaidah itu hanya bikinin kelompok salaf-wahabi saja, alias bid’ah.
Kedua, tidak ada satupun ulama di luar kelompok salaf-wahabi yang mengatakan bahwa apa yang tidak dilakukan Rasulullah SAW berat haram dikerjakan.
Ketiga, kaidah buatan kelompok salaf-wahabi tersebut terbantahkan oleh banyaknya hadis Nabi yang menunjukan sahabat melakukan perbuatan yang tidak dilakukan Nabi SAW.
Keempat, kalau Rasulullah tidak melakukan suatu amalan bukan berat tidak boleh dilakukan. Dalam kasus makan daging dhab (HR: Bukhari-Muslim) misalnya, Rasulullah pada waktu itu tidak ikut memakannya, dan beliau juga tidak melarang sahabat untuk memakannya. Kalau mengikut kaidah salaf-wahabi, mestnya sahabat juga tidak ikut makan, karena Rasulullah tidak mau makan.
Begitu pula dalam masalah shalat tarawih, Rasulullah SAW tdak setap hari shalat ke masjid dan berjemaah dengan para sahabat karena takut nant dipahami sebagai kewajiban.
Permasalahan ini secara jelas disebutkan dalam hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim. Kalau mengikut kaidah salaf-wahabi, mestnya mengerjakan shalat tarawih berjemaah satu bulan penuh di masjid tdak boleh, karena Nabi tdak melakukannya.
Terakhir, Rasulullah SAW tidak melakukan perbuatan kerena pertimbangan sosial. Dalam hadis riwayat ‘Aisyah yang terdapat dalam Shahih al-Bukhari dijelaskan bahwa Rasulullah tidak mau merenovasi ka’bah karena takut masyarakat Mekah belum siap menerimanya.
Fakta sejarah menunjukan, para khalifah setelah Nabi wafat berlomba-lomba untuk merenovasi ka’bah. Sebagian besar ulama pun menyetujuinya. Kalau mengikut kaidah salaf-wahabi mestnya renovasi ka’bah tidak boleh.
Diadopsi dari Buku Pintar Salafi Wahabi yang diterbitkan oleh Harakah Islamiyah