Melihat Lebih Dekat Tradisi ‘Kupatan’ di Plosokerep Kota Blitar

Blitar – Pada umumnya, puncak kemeriahan Perayaan Idul Fitri terjadi pada hari H lebaran. Namun di Plosokerep, Kota Blitar puncak kemeriahan justru juga terjadi pada H+7 atau yang biasa disebut Lebaran Ketupat.
Warga saling bersilaturahmi dan anjangsana ke rumah sanak saudara untuk bermaaf-maafan. Tradisi ini sudah berlangsung sejak puluhan tahun silam. Sebab para tokoh agama dan sebagian besar masyarakat terlebih dahulu melaksanakan puasa sunnah Syawal selama enam hari sebelum Lebaran Ketupat.
Menurut pengurus Langgar An Nur, Bapak Isman Hadi,  tradisi Lebaran Ketupat awalnya hanya dilakukan leluhurnya mbah Irodikoro yang merupakan salah satu laskar Diponegoro yang sedang menjadi buronan Belanda. Kala itu mbah Irodikoro rutin melaksanakan puasa sunnah Syawal selama enam hari setelah hari pertama Idul Fitri.
Baca Juga Langgar Panggung Saksi Bisu Sejarah Ketupat di Plosokerep
“Awalnya satu keluarga, kemudian diikuti warga sekitar dan sekarang hampir se-kota Blitar,” kata Bapak Isman Hadi, Rabu (12/6/2019).
Baca juga Langgar An Nur Plosokerep, Saksi Bisu Perjuangan Pangeran Diponegoro di Blitar
Tradisi kupatan di Plosokerep berkembang pesat. Bahkan beberapa daerah ikut serta melestarikan tradisi ini dengan berbagai inovasi dengan menyediakan aneka hiburan.
“Tapi di sini beda, warga ramai berkunjung karena murni ingin silaturahmi. Meskipun tidak ada hiburan di Plosokerep tetap ramai saat kupatan. Kupatan  menjadi hidangan khusus yang banyak disukai warga Plosokerep karena varian pendukungnya. Ada sayur lodeh dengan bermacam-macam bahan, urap-urap, bubuk kedelai, dan lain sebagainya,” imbuhnya.
Reporter: Choiriyah
Editor: Abd Umar