Fenomena Romli, Sebutan Penggembira di Setiap Acara Besar NU

Romli namanya. Bukan kejadian alam, bukan nama acara, apalagi nama tokoh bersejarah. Romli adalah Rombongan Liar. Segerombolan / individu yang hadir tidak terkoordinir resmi / bukan undangan resmi. Tujuannya yaitu sebagai penggembira.

Selain Rombongan Liar, ada yang mengartikannya Rombongan Lillahita’ala, yang dengan niat ikhlas karena Allah walaupun dengan ongkos / biaya sendiri. Ada juga yang mengistilahkan Muhibbin.

Namanya juga penggembira, tidak ada raut muka tegang bahkan sedih. Biasanya, sesampainya di lokasi acara, ada yang hanya jalan-jalan, ada yang sibuk belanja dan wisata kuliner jika ada bazar. Dan ada pula yang hanya berburu foto selfi sebagai dokumentasi bahwa telah hadir walaupun di luar arena. Romli . . . Romli . . . Gak Ada Loe Gak Rame . . .

Penggembira ini jumlahnya tidak dapat diprediksi pasti. Saking banyaknya, jumlah mereka selalu melebihi jumlah peserta / undangan resmi. Dan merekalah yang membuat acara semakin semarak, bisa menggerakkan sektor ekonomi, dan salah satu simbol kekuatan jam’iyyah.

Romli sendiri memiliki peran yang tidak langsung, tapi sangat berarti. Faktanya, dalam event permusyawaratan kehadiran mereka bisa mencairkan suasana. Biasanya, dalam arena permusyawaratan adu argumen selalu terjadi. Seolah-olah forum permusyawaratan menjadi sangat panas dan tegang. Hadirnya Romli seolah-olah mengalihkan atmosfer ketegangan menjadi keceriaan dengan caranya sendiri. Saking gembiranya, mereka sibuk dengan aktivitas di luar arena dan tak merasakan ketegangan forum di dalam arena. Karena mereka menaruh harapan acara terlaksana sukses dan lancar dengan hasil mufakat yang damai.

Romli bukanlah kebetulan, tapi Romli adalah kebiasaan yang menjadi budaya. Budaya untuk merayakan euforia atas terselenggaranya suatu acara dengan menjunjung tinggi perdamaian, kemaslahatan, dan persatuan jam’iyyah.

Salah satu contohnya Muktamar NU yang baru-baru ini diselenggarakan di Lampung. Tak sedikit media yang menyoroti kehadiran Romli. Demi mendapat berkah dari para ulama sepuh yang hadir di dalamnya, mereka rela berkorban tenaga, waktu, dan harta untuk bisa datang ke lokasi.

Bukan hanya di Nahdlatul Ulama saja, budaya romli bahkan juga terjadi di acara Lembaga dan Banom NU di tingkat pusat / nasional sampai dengan wilayah / provinsi bahkan setingkat cabang.

Hidup Romli . . . . !

No comments yet.

Leave a comment

Your email address will not be published.