Hukum Menguburkan Mayit Muslim Baru Di Area Pemakaman Umum

Sebagaimana telah diterangkan dalam kitab-kitab salaf bahwa tidak boleh mengubur mayit di area pekuburan orang non muslim demikian pula sebaliknya, hal ini apabila di terapkan dalam kontek ke-indonesiaan tentu masih menyisakan kejanggalan mengingat rata-rata area pemakaman adalah bersifat umum artinya siapapun dan dengan latar belakang agama apapun punya hak yang sama atas pemakaman tersebut, sehingga banyak mayit orang Islam bercampur menjadi satu dengan mayit non muslim dalam satu area pemakaman.
Pertanyaan: Bagaimanakah hukum menguburkan mayit muslim baru di area pemakaman umum, mengingat mayit muslim dan nonmuslim bercampur dalam satu area pemakaman?
Jawaban : Tidak boleh kecuali jika sudah tidak ada lokasi lain yang layak.
Referensi Kitab :

نهاية المحتاج ج 3 ص 8

قَالَ فِي الرَّوْضَةِ : وَلَا يُدْفَنُ مُسْلِمٌ فِي مَقْبَرَةِ الْكُفَّارِ وَلَا كَافِرٌ فِي مَقْبَرَةِ الْمُسْلِمِينَ . قَالَ فِي الْخَادِمِ : ثُمَّ لَا يَخْفَى أَنَّهُ حَرَامٌ , وَلِهَذَا قَالَ فِي الذَّخَائِرِ لَا يَجُوزُ بِالِاتِّفَاقِ ا هـ . وَانْظُرْ إذَا لَمْ يُوجَدْ مَوْضِعٌ صَالِحٌ لِدَفْنِ الذِّمِّيِّ غَيْرُ مَقْبَرَةِ الْمُسْلِمِينَ وَلَا أَمْكَنَ نَقْلُهُ لِصَالِحٍ لِذَلِكَ هَلْ يَجُوزُ دَفْنُهُ حِينَئِذٍ فِي مَقْبَرَةِ الْمُسْلِمِينَ , وَلَوْ لَمْ يَكُنْ دَفْنُهُ إلَّا فِي لَحْدٍ وَاحِدٍ مَعَ مُسْلِمٍ هَلْ يَجُوزُ لِلضَّرُورَةِ ؟ فِيهِ نَظَرٌ , وَيُحْتَمَلُ الْجَوَازُ لِلضَّرُورَةِ ; لِأَنَّهُ لَا سَبِيلَ إلَى تَرْكِهِ مِنْ غَيْرِ دَفْنٍ فَلْيُتَحَرَّرْ ا هـ سم عَلَى مَنْهَجٍ :  وَيُقَالُ مِثْلُهُ فِي الْمُسْلِمِ الَّذِي لَمْ يَتَيَسَّرْ دَفْنُهُ إلَّا مَعَ الذِّمِّيِّينَ

Orang islam tidak boleh memakamkan di pemakaman orang-orang non muslim, dan tidak boleh pula memakamkan  orang non muslim di pemakaman orang-orang islam, dan ini jelas haram hukumnya bahkan ulama’ telah menyepakatinya.
Perlu mendapat perhatian dalam masalah ketika tidak ditemukan pemakaman yang layak untuk makam orang kafir selain di pemakaman orang-orang islam, dipindah ke tempat lain pun juga tidak memungkinkan, apakah dalam kondisi seperti itu boleh memakamkannya di pemakaman muslim atas pertimbangan darurat ? . bisa jadi boleh atas pertimbangan darurat karena tidak ada jalan untuk membiarkannya tanpa dimakamkan. Hal sedemikian juga berlaku bagi mayit muslim yang tidak mungkin lagi dimakamkan kecuali bersama orang-orang kafir dzimmi.

الفقه الإسلامي وأدلته للزحيلي (7/ 5109)

السُّؤَالُ الْخَامِسُ: مَا حُكْمُ دَفْنِ الْمُسْلِمِ فِيْ مَقَابِرِ غَيْرِ الْمُسْلِمِيْنَ ، حَيْثُ لَا يَسْمَحُ لِلدَّفْنِ خَارِجَ الْمَقَابِرِ الْمُعَدَّةِ لِذَلِكَ وَلَا تُوْجَدُ مَقَابِرُ خَاصَّةً بِالْمُسْلِمِيْنَ فِيْ مُعْظَمِ الْوِلَايَاتِ الْأَمْرِيْكِيَّةِ وَالْأَقْطَارِ الْأَوْرُبِيَّةِ ؟

الْجَوَابُ : إِنَّ دَفْنَ الْمُسْلِمِ فِيْ مَقَابِرِ غَيْرِ الْمُسْلِمْيْنَ فِيْ بِلَادٍ غَيْرِ إِسْلَامِيَّةٍ جَائِزٌ لِلضَّرُوْرَةِ .

Pertanyaan : apa hukum memakamkan orang muslim di selain pemakaman orang islam jika tidak memungkinan memakamkannya ditempat lain serta tidak ditemukan pemakaman yang dikhususkan untuk orang-orang islam, seperti yang ada sebagian besar wilayah amerikan dan eropa ?
Jawaban : hukum memakamkan orang islam di pemakaman yang bukan untuk orang-orang islam di negara-negara  yang bukan negara islam adalah boleh karena pertimbangan darurat.
Pertanyaan : Tindakan apa yang harus di lakukan pemerintah dalam menyikapi pemakaman yang sudah terjadi yaitu adanya percampuran  mayat muslim dan non muslim dalam satu area pemakaman umum ? Adakah kewajiban membongkar dan memindahkan mayit  ke tempat lain?
Jawaban : Tindakan pemerintah adalah menyediakan area pemakaman secara terpisah antara warga muslim dan non muslim, jika tidak memungkinkan maka menyekat area pemakaman yang sudah ada dan membedakan antara pemakaman muslim dan non muslim. Dan tidak boleh memindahkan jenazah yang sudah terlanjur dimakamkan di pemakaman tersebut.
Referensi Kitab :

كشاف القناع ج 3 ص 147

 ( وَيَنْبَغِي مُبَاعَدَةُ مَقَابِرِهِمْ عَنْ مَقَابِرِ الْمُسْلِمِينَ وَظَاهِرُهُ : وُجُوبًا , لِئَلَّا تَصِيرَ الْمَقْبَرَتَانِ مَقْبَرَةً وَاحِدَةً ; لِأَنَّهُ لَا يَجُوزُ دَفْنُهُمْ فِي مَقَابِرِ الْمُسْلِمِينَ وَكُلَّمَا بَعُدَتْ ) مَقَابِرُهُمْ ( عَنْهَا كَانَ أَصْلَحَ ) لِلتَّبَاعُدِ عَنْ الْمَفْسَدَةِ .

Seyogyanya pemakaman orang-orang kafir berjauhan dengan pemakaman orang islam, mestinya ini hukumnya wajib, agar dua pemakaman tidak menjadi satu area pemakaman, karena tidak boleh memakamkan orang-orang kafir di pemakaman orang islam, jarak jauh antara kedua pemakaman tersebut lebih maslah karena hal tersebut juga menjauhkan dari mafsadah.

الترمشي  ﺟ 3 ﺻ 468

وَيُنْبَشُ أَيْضًا إِنْ لَحِقَهُ نَدَاوَةٌ أَوْ سَيْلٌ أَوْ  دُفِنَ كَافِرٌ بِالْحَرَمِ

(قوله : أَوْ  دُفِنَ كَافِرٌ بِالْحَرَمِ) إلى أن قال  – وَمَحَلُ ذَلِكَ مَالَمْ يَتَهَرَّ وَيَتَقَطَّعْ وَإِلَّا تُرِكَ كَمَا فِيْ التُّحْفَةِ .

Dan jenazah digali lagi adalah apabila tanah pemakaman basah atau terkena banjir atau adanya orang kafir dimakamkan di tanah haram, ketentuan ini berlaku apabila jenajah belum rontok (protol) dan terpotong-potong, apabila kondisi jenazah sudah semacam itu maka dibiarkan saja sebaimana keterangan dalam kitab Tuhfah.
Oleh : LBM PCNU  Kab. Blitar