MENGAKHIRI BULAN RAMADHAN (Risalah Ramadhan 6)

A. Mengumandangkan Takbir
Mengumandangkan Takbir untuk ‘Idul Fitri mulai terbenam matahari sampai shalat ‘Id dilaksanakan. Dikumandangkannya takbir itu baik oleh perseorangan maupun berjama’ah, sebagai rasa syukur sekaligus untuk syiar Islam.
Dalam Alqur’an Allah berfirman :

وَلِتُكْمِلُوا العِدَّةَ وَلِتُكَبِّروا اللهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ (البقرة : 185 )

Artinya : Dan hendaklah kamu sempurnakan bilangan puasa serta bertakbir (membesarkan) Allah atas petunjuk yang telah diberikanNya kepadamu, semoga dengan denikian kamu menjadi ummat yang bersyukur (QS. Al Baqarah : 185)
B. Mengeluarkan Zakat Fitrah.
       Menjelang ‘Idul Fitri ada kewajiban yang harus dilaksanakan ialah mengeluarkan zakat fitrah yang berlaku bagi setiap muslim, baik laki-laki, perempuan, tua-muda, merdekan atau hamba dan diserahkan kepada yang berhak menerimanya.
Kewajiban ini berdasar Hadits Rasulullah SAW.

فَرَضَ رَسُوْلُ اللهِ ص م زَكَاةَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ اَو صَاعًا مِنْ شَعِيْرٍ عَلَى الْعَبْدِ وَالْحُرِّ وَالذَّكَرِ وَاْلأُنْثَى وَالصَّغِيْرِ وَالْكَبِيْرِ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ وَاَمَرَ بِهَا اَنْ تُؤَدِّىَ قَبْلَ خُرُوْجِ النَّاسِ اِلَى الًّلاَةِ  (رَوَاه البخارى)

Artinya Rasulullah SAW telah mewajibkan zakat fitrah yaitu dengan mengeluarkan satu gantang kurma atau satu gantang sya‘ir atas budak, dan orang merdeka laki-laki atau perempuan, kecil maupun besar dari semua orang Islam dan Rasulullah menyuruh membayar zakat fitrah sebelum orang-orang menunaikkan Shalat ‘Idul Fitri . (HR. Imam Bukhari)
Dalam Hadits lain Rasulullah SAW juga menegaskan sebagai berikut:

فَرَضَ رَسُوْلُ اللهِ ص م زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً للِصَّآئِمِ وَطُمَةً للْمَـسَكِيْنِ فَمَنْ اَدَاهَا قَبْاَ الصَّلاَةِ فَهِيَ زَكَاةٌ مَقْبُوْلَةٌ وَمَنْ اَدَاهَا بَعْد الصَّلاَةِ فَهِيَ صَدَقَةٌ مِنَ الصَّدَقَاتِ (رواه ابن ماجه وابو داود)

Artinya : Rasulullah SAW telah mewajibkan Zakat fitrah untuk mensucikan orang yang berpuasa dari perkataan / ucapan keji dan kotor yang dilakukannya sewaktu mereka berpuasa dan untuk menjadi makanan bagi orang-orang miskin. Barang siapa menunaikan itu sebelum shalat ‘Id, maka ia diterima sebagai zakat dan barang siapa yang membayarkan sesudah shalat ‘Id, maka ia termasuk sedekah biasa. (HR. Ibnu Majah dan Abu Dawud)
Dari hadits diatas dapat ditarik suatu pelajaran, antara lain:
  1. Orang yang wajib m,engeluarkan zakat fitrah ada sewaktu sebelum terbenam matahari pada penghabisan bulan Ramadhan. Hal ini termasuk bayi yang baru lahir sebelum terbenam matahari akhir Ramadhan.
  2. Orang yang bbenar-benar mempunyai kelebihan harta dari keperluan makanan untuk diri sendiri dan untuk yang wajib diberi nafkah.
  3. Waktu membayarnya boleh dari awal bulan Ramadhan sampai sebelum shalat ‘Id dilaksanakan. Tetapi waktu wajibnya adalah setelah terbenam matahari akhir Ramadhan.
Adapun hikmah dari zakat fitrah antara lain :
  1. Sebagai tanda syukur kepada Allah SWT atas nikmat yang telah diberikan kepada ummat manusia,
  2. Guna mendapatkan hubungan rasa kasih sayang antara yang mampu dengan yang tidak mampu.
  3. Guna mencegah kejahatan yang timbul akibat dari kemiskinan.
  4. Untuk membersihkan diri dari sifat kikir
  5. Untuk menghindarkan diri dari akhlaq yang tercela.
  6. Untuk memupuk akhlaq yang terpuji dan mulia.
     Sedang zakat fitrah seperti yang ditegaskan dalam hadits diatas adalah menjadi makanan mereka para fakir miskin sehingga pada hari gembira itu tidak seorangpun mengalami kesusahan karena tidak bisa makan.
C. Melaksanakan Shalat ‘Idul Fitri
     Pada tanggal 1 Syawal kita disunatkan  untuk melaksanakan Shalat ‘Id.  Ada beberapa tuntutan yang harus dikerjakan:
  1. Disunatkan dengan berjama’ah
  2. Takbir 7 kali setelah membaca do’a iftitah pada rokaat pertama dan bertakbir 5 kali pada rokaat ke 2 sebelum membaca Surat Al-Fatihah
  3. Mengangkat 2 tangan setinggi bahu pada tiap-tiap takbir.
  4. Membaca Tasbih diantara beberapa takbir
  5. Menyaringkan bacaan kecuali makmum
  6. Hendaklah khutbah pertama diawali dengan 9 kali takbir
  7. Disunatkan mandi dan berpakaian yang sebaik-baiknya
  8. Disunatkan makan sebelum pergi shalat ‘Id
  9. Sewaktu pergi dan pulang dari shalat ‘Id untuk melewati jalan yang berbeda.
  10. Khutbah dua kali sesudah shalat ‘Id.
Drs. Qomaruddin AM, pengasuh pondok pesantren Al-Muhsin Kota Blitar dan tenaga pengajar SMK Islam 1 Blitar