Wahabi

ANCAMAN WAHABI DALAM KONTEKS IDEOLOGI, MILITER DAN POLITIK TERHADAP KEUTUHAN NKRI

Wahabi semakin giat menciptakan perpecahan di wilayah NKRI, tetapi Alhamdulillah keragaman NKRI selalu bersatu padu dibawah panji Pancasila. Sila ke tiga “Persatuan Indonesia” menjadi yang dipegang teguh mayoritas rakyat Indonesia untuk senantiasa waspada dari provokasi kotor dan busuk yang ditebarkan wahabi diwilayah NKRI untuk memecah belah rakyat Indonesia. Melalui rapat umum yang dikemas dalam bahasa Pengajian Umum, melalui kajian kelompok-kelompok wahabi, situs-situs internet, media cetak dan elektronik, kaum wahabi terus menerus berkoar-koar memecah belah persatuan Indonesia. Apa yang direncanakan oleh wahabi

Apakah Wahabi Termasuk Golongan Ahlussunah wal Jamaah?

Golongan Wahabi TIDAK termasuk dalam golongan Ahlussunah wal Jamaah, karena: 1. Golongan Aswaja sama sekali tidak mengkafirkan sesama muslim, yang masih shalat menghadap kiblat. 2. Golongan Aswaja senantiasa bersikap moderat (tawasuth), seimbang (tawazun), dan adil/lurus (‘adalah). 3. Golongan Aswaja senantiasa memegang teguh madzhab (bermadzhab). 4. Dalam Muktamar International Aswaja yang dihadiri oleh ulama seluruh dunia Islam, yang diselenggarakan di Chech, Agustus 2016, menegaskan bahwa yang disebut golongan Aswaja saat ini adalah mereka yang secara akidah mengikuti Imam al-Asyari dan al-Maturidi, dan secara fikih mengikuti

Pendapat Para Ulama Tentang Wahabi

Yang jelas, kelompok wahabi ini memiliki pemahaman yang ekstrim, kaku & keras. Mereka menolak rasionalisme, tradisi & beragam khazanah intelektual Islam. Bahkan, mereka ini dikategorikan sebagai Neo-khawarij pada zaman ini. Mengenai kelompok ini, Imam Ash-Shawi (ulama terkemuka abad 12 H. & semasa dengan Abdul Wahab) mengatakan dalam kitab Hasyiah Jalalainnya: هَذِهِ اْلآَيَةُ نَزَلَتْ فِي الْخَوَارِجِ الَّذِيْنَ يُحَرِّفُوْنَ تَأْوِيْلَ الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ وَيَسْتَحِلُّوْنَ بِذَلِكَ دِمَاءَ الْمُسْلِمِيْنَ وَأَمْوَالَهُمْ كَمَا هُوَ مُشَاهَدٌ اْلآَنَ فِيْ نَظَائِرِهِمْ وَهُمْ فِرْقَةٌ بِأَرْضِ الْحِجَازِ يُقَالُ لَهُمُ الْوَهَّابِيَّةُ يَحْسَبُوْنَ أَنَّهُمْ عَلىَ شَيْءٍ

Penamaan dan Sejarah Kelahiran Wahabi

Wahabi adalah sebutan bagi kelompok yang mengikuti ajaran & pemikiran Muhamad bin Abdul Wahab yang muncul di Najed (sekarang Arab Saudi) pada abad 18 M. Kelahiran wahabi beberapa abad yang lalu, tak terlepas dari sejarah politik keluarga/dinasti Sa’ud yang ingin menguasai Hijaz (Makkah & Madinah) dan dunia Islam. Kelompok ini termasuk kelompok separatis dan gerakannya berkedok memurnikan (purifikasi) tauhid & menjauhkan manusia dari kemusyrikan. Kelompok ini tidak sekadar menjadi gerakan pemikiran keagamaan, tetapi ia sudah menjelma menjadi agama (agama baru) di

Ajaran dan Doktrin Wahabi

**Sejak kemunculannya, kelompok ini memiliki doktrin yang berbahaya, yang menjadi karakteristik dasar gerakannya, yaitu: ~*Suka mengafirkan setiap orang yang secara akidah & madzhab berbeda dengan mereka. ~*Akidah mereka ini pada dasarnya akidah yang berasal dari pemikiran Ibnu Taimiyah, yaitu memtajsimkan/menjisimkan san menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya. ~*Akidah/tauhid bagi mereka ada tiga (trilogi tauhid): tauhid Uluhiyah, tauhid Rububiyah, tauhid aswa wa shifat. Dalam pandangan mereka, orang penganut Aswaja Nahdliyah termasuk pelaku syirik. Sebab hanya mengimani tauhid rububiyah saja (yaitu tauhid yang mengimani bahwa Allah itu

Fikih Pergundikan, Dikaji Tapi Disepelekan Pesantren

Oleh Dr. M. Ishom el-Saha, M.Ag Rame mendiskusikan Disertasi seorang doktor bertemakan Milk al-Yamin (Pergundikan) jadi teringat guru saya al-maghfurlah Kiai Ishaq Mranggen Demak. Hampir semua kitab fiqh saya pelajari di bawah bimbingan pengasuh Pesantren Pesantren Raudhatuttalibin Mranggen itu. Uniknya pada saat pengajian sudah sampai Bab Penyelesaian sengketa (Kitab al-aqdhiyah wa al-syahadah) dan akan beranjak ke Bab terakhir kitab fiqh, yakni Kitab al-Itqi (Kitab Perbudakan), beliau selalu berkata “pengajian sudah khatam”. Bagi beliau, tujuan belajar fiqh di luar masalah ubudiah ialah untuk

Membongkar Kebohongan Buku “Mantan Kyai NU Menggugat Shalawat dan Dzikir Syirik” Mahrus Ali

Buku berjudul “Mantan Kiai NU Menggugat Sholawat dan Dzikir Syirik” yang dikarang oleh H Mahrus Ali memang telah menimbulkan kontroversi(2008). Sejak diterbitkan, buku itu telah memancing perseteruan terutama bagi kalangan ahlussunnah dari Nahdliyin (sebutan untuk warga NU). Hingga akhirnya kiai NU, KH. Abdullah Syamsul Arifin, Wakil Katib Syuriah PWNU Jatim, mengarang buku berjudul Membongkar Kebohongan Buku “Mantan Kiai NU Menggugat Sholawat dan Dzikir Syirik”. Seperti judulnya, buku ini memang menjadi sarana untuk meng-counter atas buku kontroversial tersebut. Berikut ini disajikan Video

Dalil Tawasul Dan Istighotsah

Tawasul adalah salah satu jalan dari berbagai jalan tadzorru’ kepada Allah. Sedangkan Wasilah adalah setiap sesuatu yang dijadikan oleh Allah sebagai sabab untuk mendekatkan diri kepadanya. Sebagaimana firmannya : Artinya: Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan. (Q.S.al-Maidah.35). Adapun istighotsah adalah meminta pertolongan kepada orang yang memilikinya, yang pada hakikatnya adalah Allah semata. Akan tetapi allah membolehkan pula meminta pertolongan (istighotsah) kepada para nabi dan para walinya. Dalil-dalil Tawasul

Antara Sunnah dan Bid’ah

Menurut para ulama’ bid’ah dalam ibadah dibagi dua: yaitu bid’ah hasanah dan bid’ah dhalalah. Di antara para ulama’ yang membagi bid’ah ke dalam dua kategori ini adalah: 1. Imam Syaf’i Menurut Imam Syaf’i, bid’ah dibagi dua; bid’ah mahmudah dan bid’ah madzmumah. Jadi bid’ah yang mencocoki sunnah adalah mahmudah, dan yang tidak mencocoki sunnah adalah madzmumah. 2. Imam al-Baihaqi Bid’ah menurut Imam Baihaqi dibagi dua; bid’ah madzmumah dan ghoiru madzmumah. Setiap Bid’ah yang tidak menyalahi al-Qur’an, Sunnah, dan Ijma’ adalah bid’ah ghoiru madzmumah. 3. Imam Nawawi Bid’ah

Antara Nahdliyin dan Wahabi (3)

Salah satu wujud dari sekian upaya Nahdlatul Ulama (NU) dalam ikhtar meyakinkan para pengikutnya, bahwa tidak ada yang perlu diragukan atau disangsikan atas amaliyah keseharian Nahdlatul Ulama(NU). Ketahuilah, bahwa amaliah diniyah warga NU merupakan amaliyah keseharian mayoritas masyarkat Indonesia, bahkan masyarakat muslim dunia penganut paham ahlusunnah wal Jama’ah. Namun belakangan ini warga nahdliyin merasa terusik oleh penafsiran dangakal kelompok-kelompok dakwah yang mengatasnamakan pemurnian ajaran Islam-Wahabisme. Dimana amaliah keseharian NU oleh mereka dianggap “bid’ah dlolalah”. Sedangkan bid’ah dlolalah tempatnya di neraka. Astaghfrullah…Mereka