Wahabi

Fikih Pergundikan, Dikaji Tapi Disepelekan Pesantren

Oleh Dr. M. Ishom el-Saha, M.Ag Rame mendiskusikan Disertasi seorang doktor bertemakan Milk al-Yamin (Pergundikan) jadi teringat guru saya al-maghfurlah Kiai Ishaq Mranggen Demak. Hampir semua kitab fiqh saya pelajari di bawah bimbingan pengasuh Pesantren Pesantren Raudhatuttalibin Mranggen itu. Uniknya pada saat pengajian sudah sampai Bab Penyelesaian sengketa (Kitab al-aqdhiyah wa al-syahadah) dan akan beranjak ke Bab terakhir kitab fiqh, yakni Kitab al-Itqi (Kitab Perbudakan), beliau selalu berkata “pengajian sudah khatam”. Bagi beliau, tujuan belajar fiqh di luar masalah ubudiah ialah untuk

Membongkar Kebohongan Buku “Mantan Kyai NU Menggugat Shalawat dan Dzikir Syirik” Mahrus Ali

Buku berjudul “Mantan Kiai NU Menggugat Sholawat dan Dzikir Syirik” yang dikarang oleh H Mahrus Ali memang telah menimbulkan kontroversi(2008). Sejak diterbitkan, buku itu telah memancing perseteruan terutama bagi kalangan ahlussunnah dari Nahdliyin (sebutan untuk warga NU). Hingga akhirnya kiai NU, KH. Abdullah Syamsul Arifin, Wakil Katib Syuriah PWNU Jatim, mengarang buku berjudul Membongkar Kebohongan Buku “Mantan Kiai NU Menggugat Sholawat dan Dzikir Syirik”. Seperti judulnya, buku ini memang menjadi sarana untuk meng-counter atas buku kontroversial tersebut. Berikut ini disajikan Video

Dalil Tawasul Dan Istighotsah

Tawasul adalah salah satu jalan dari berbagai jalan tadzorru’ kepada Allah. Sedangkan Wasilah adalah setiap sesuatu yang dijadikan oleh Allah sebagai sabab untuk mendekatkan diri kepadanya. Sebagaimana firmannya : Artinya: Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan. (Q.S.al-Maidah.35). Adapun istighotsah adalah meminta pertolongan kepada orang yang memilikinya, yang pada hakikatnya adalah Allah semata. Akan tetapi allah membolehkan pula meminta pertolongan (istighotsah) kepada para nabi dan para walinya. Dalil-dalil Tawasul

Antara Sunnah dan Bid’ah

Menurut para ulama’ bid’ah dalam ibadah dibagi dua: yaitu bid’ah hasanah dan bid’ah dhalalah. Di antara para ulama’ yang membagi bid’ah ke dalam dua kategori ini adalah: 1. Imam Syaf’i Menurut Imam Syaf’i, bid’ah dibagi dua; bid’ah mahmudah dan bid’ah madzmumah. Jadi bid’ah yang mencocoki sunnah adalah mahmudah, dan yang tidak mencocoki sunnah adalah madzmumah. 2. Imam al-Baihaqi Bid’ah menurut Imam Baihaqi dibagi dua; bid’ah madzmumah dan ghoiru madzmumah. Setiap Bid’ah yang tidak menyalahi al-Qur’an, Sunnah, dan Ijma’ adalah bid’ah ghoiru madzmumah. 3. Imam Nawawi Bid’ah

Antara Nahdliyin dan Wahabi (3)

Salah satu wujud dari sekian upaya Nahdlatul Ulama (NU) dalam ikhtar meyakinkan para pengikutnya, bahwa tidak ada yang perlu diragukan atau disangsikan atas amaliyah keseharian Nahdlatul Ulama(NU). Ketahuilah, bahwa amaliah diniyah warga NU merupakan amaliyah keseharian mayoritas masyarkat Indonesia, bahkan masyarakat muslim dunia penganut paham ahlusunnah wal Jama’ah. Namun belakangan ini warga nahdliyin merasa terusik oleh penafsiran dangakal kelompok-kelompok dakwah yang mengatasnamakan pemurnian ajaran Islam-Wahabisme. Dimana amaliah keseharian NU oleh mereka dianggap “bid’ah dlolalah”. Sedangkan bid’ah dlolalah tempatnya di neraka. Astaghfrullah…Mereka

Antara Nahdliyin dan Wahabi (2)

Memang diakui, tradisi keilmuan pesantren melalui kitab-kitab Fiqh yang menjadi acuan Nahdliyin tdak terlalu mengedepankan dalil-dalil naqli Al-Qur’an dan Hadits dalam menjelaskan ajaran-ajaran prakts (amaliyah) sehari-hari. Mengapa? Karena para ulama yang menulisnya (muallif) lebih memposisikan diri sebagai guru atau pembimbing umat yang kebanyakan awam katmbang memposisikan diri sebagai professor yang hendak menggugah pemikiran dan penalaran para mahasiswanya. Disamping itu, menghadirkan dalil Qur’an atau Hadits asal comot lepas dari konteksnya, dan memaknainya secara harfyah akan melahirkan distorsi makna. Bahkan ketka kita memilih

Antara Nahdliyin dan Wahabi (1)

Sebagai warga Nahdliyin yang menjaga tradisi-tradisi ibadah yang telah dilakukan turun temurun sejak para wali menyebarkan agama Islam ke Nusantara, kita tentu memiliki banyak tantangan. Terutama dari gerakan wahabisasi yang akhir-akhir ini semakin marak. Gerakan ini ingin menghapuskan praktek-praktek ibadah yang telah diajarkan sejak saman Rasulullah SAW, para sahabat, tabi’in dan seterusnya hingga sampai pada kita di masa sekarang ini. Gerakan-gerakan yang ingin menghancurkan praktik-praktik ibadah yang telah menjadi tradisi ini muncul karena khazanah keagamaan mereka sangat minim. Biasanya, dalam satu,

Daftar Media Islam Radikal (Salafi-Wahabi) Versi Siber NU

Daftar media Islam radikal (Salafi-Wahabi) versi siber NU yang dikembangkan Tim Cyber NU dan LTNNU PBNU ini harus dipahami semu akalangan. Tim Cyber NU dan LTNNU PBNU beberapa waktu lalu memang merilis website-website Islam radikal yang perlu diwaspadai. Website-website ini terbiasa memposting artikel radikal dan sangat berhahaya bagi umat Islam. Tim Cyber NU dan LTNNU PBNU merilis website-website islam radikal yang perlu diwaspadai. Website-website ini terbiasa memposting artikel dan berita berbau sara dan mengancam NKRI. LEVEL I Arrahmah Media http://arrahmah.com Voa Islam http://voa-islam.com Al Mustaqbal

MKNU di SMK Islam 1 Blitar, KH Marzuki Mustamar : Panggah NU, Islamnya Murni, Wasilahnya Jelas, Sanadnya Sambung, Tidak Ada Hadits Yang Dicurangi, dan Ilmunya lengkap

Blitar – Sejumlah pendidik dan tenaga kependidikan muslim di Kota Blitar mengikuti Madrasah Kader Nahdlatul Ulama (MKNU) berjumlah total 115 peserta di Pondok Pesantren Al Muhsin SMK Islam 1 Blitar, selama tiga hari (2-4 Agustus 2019). “Alhamdulillah, peserta komposisi MKNU yang digelar kali ini berbeda. Karena para pesertanya adalah seluruh pendidik dan tenaga kependidikan di SMK Islam 1 Blitar,” terang Susiyah, S.Sos pengurus LAZISNU dalam rilis yang diterima nublitar.or.id, Jum’at, 2 Agustus 2019 Para pemateri, terusnya, merupakan sejumlah pengurus PBNU, yakni Drs.

Buku Pintar Salafi Wahabi yang diterbitkan oleh Harakah Islamiyah