Teknologi

Beragama yang Sederhana di Era Dakwah Digital: Merespon Tulisan Ulil Abshar Abdalla

Oleh Mamang M Haerudin (Aa) Kemarin. Selasa, 23 Juni 2020, Ulil Abshar Abdalla (Gus Ulil) menurunkan tulisan ringan berjudul: Perlunya Beragama yang “Ngintelek.” Saya merasa tulisan ini paling mewakili mengapa kemudian dakwah akar rumput dan dakwah digital kita “kalah saing” dan tertinggal jauh sekali. Pengajian online atau Ngaji Ihya ala Gus Ulil mau tidak mau telah menjadi rujukan utama dakwah digital kita. Harus saya akui, selain alim, Gus Ulil punya kemampuan public speaking yang menyihir. Hanya saja kemampuan sihirnya hanya menjangkau

GOYANGAN JARI MENGGERAKKAN NEGERI

Era digital tak bisa dihindari. Ini juga yang digarap media. Memenuhi kebutuhan pembaca. Tidak hanya cukup menyajikan cetak. Suguhan media berbalut digital harus disiapkan untuk menjawab kebutuhan pembaca. Ya, perubahan zaman saat ini ditandai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Lihatlah. Banyak produk telekomunikasi maupun elektronik mengggunakan teknologi digital. Setidaknya, narasi tersebut memotret teknologi berkembang pesat. Berpacu dengan waktu. Menghilangkan sekat jarak. Dunia dalam lipatan. Dalam genggaman. Ini juga paralel dengan pertumbuhan media yang pesat. Dalam berbagai diskusi, tak jarang disampaikan, saat

Dakwah Millennial di Era Perang Pemikiran

Sejatinya, media sosial mampu menjadi salah satu wasilah (baca:perantara) dakwah. Menyampaikan yang ma’ruf dan mencegah dari munkar. Melihat begitu besarnya waktu yang diberikan Generasi Millenial untuk berinteraksi dengan Media Sosial. Ada tiga hal yang bisa kita perhatikan: Pertama, jika kita belum bisa membuat karya sendiri berupa tulisan atau tayangan yang bermanfaat, maka optimalkan untuk melakukan re-posting dan re-sharing dari hal-hal yang baik dan bermanfaat dari pengguna lain. Tentunya setelah dirasa, postingan itu bebas untuk di repost (baca: posting ulang) atau telah

Revolusi Industri 4.0, KH Said Aqil Siroj: Manfaatkan Semaksimal Mungkin

Blitar Online – Kehadiran revolusi industri 4.0 sangatlah menantang zaman saat ini. Ia bisa meruntuhkan hubungan manusia mengingat kemudahan komunikasi mampu mendekatkan yang jauh, tetapi dalam waktu yang sama juga menjauhkan yang dekat. “Untungnya di NU ini bentengnya masih ada, yaitu majelis tahlilan, majelis yasinan, maulid diba,” ujar Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj saat memberikan sambutan pada Grand Opening Bengkel Kreatif Hello Indonesia (BKHI) Nahdlatul Ulama di Bengkel Kreatif Hello Indonesia, Jalan Merpati Raya, Sawah Baru, Ciputat, Kota Tangerang