Islam Nusantara

Gus Mus: Iman Itu Menenteramkan Hati, Tidak Membuat Resah

Iman merupakan wujud keteguhan hati orang-orang beragama. Sedangkan agama adalah jalan hidup yang sarat dengan nilai-nilai universal. Sehingga seseorang yang beriman hendaknya mampu menciptakan ketenteraman, tidak membuat keresahan. Terkait prinsip iman ditegaskan oleh Pengasuh Pondok Pesantren Raudhatut Thalibin Leteh, Rembang, Jawa Tengah KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus). Prinsip iman tersebut perlu ditegaskan oleh Gus Mus melihat fenomena akhir-akhir ini. “Iman itu menentramkan hati, tidak membuat resah,” tegas Gus Mus, Jumat (3/4) dalam instagramnya. Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) itu juga menegaskan

Sanad Keilmuan KH Ma’ruf Amin: Dari Banten Sampai Makkah

Sosok KH Ma’ruf Amin sudah dikenal masyarakat luas sebagai ulama yang ahli di bidang dakwah dan ilmu fiqih. Tentu saja di balik itu, ia memperoleh ilmu tidak dari guru dan tempat sembarangan. Bahkan, ia dijuluki sebagai “Santri Kelana” yang selama mudanya gemar belajar dari satu tempat ke tempat yang lain. Sanad keilmuan Kiai Ma’ruf bersambung dengan jalur para ulama Nusantara yang mendirikan Nahdlatul Ulama (NU). Pertama-tama, Kiai Ma’ruf belajar kepada ayahnya, Kiai Muhammad Amin, yang terkenal sebagai ahli fiqih. Kiai Amin belajar di

NU Sananwetan Mempersembahkan Peringatan Isro’ Mi’roj dan Laitatul Ijtima’ ke Masyarakat

NUBLITAR.OR.ID – Isra Mi’raj merupakan hari untuk memperingati perjalanan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad, SAW ke surga yang hanya ditempuh dalam waktu semalam. Perjalanan ini dilakukan setelah Nabi Muhammad, SAW melakukan meditasi di sebuah gua di dekat kota Mekah dan kemudian bertemu dengan Malaikat Jibril. Di dalam gua itu, Nabi Muhammad, SAW mematuhi perintah Allah, SWT untuk menjalankan ajaran Islam dan mengajarkan tentang Keesaan Tuhan. “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al

Bendera NU Berkibar di Kota Blitar

NUBLITAR.OR.ID – Bendera Nahdlatul Ulama (NU) terpancang di beberapa wilayah dikota Blitar. Hal ini ditegaskan oleh Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Blitar dengan menginstruksikan seluruh warga NU untuk memperingati Hari Lahir (Harlah) NU ke-96 versi tahun Hijriah. Rangkaian kegiatan Harlah Ke-96 NU dilingkungan PCNU Kota Blitar : 1. Jum’at, 22 Maret 2019 Pukul 13.30 acara Ziarah makam Muassis NU Kota Blitar, tempat kumpul di Masjid Agung Kota Blitar, berbusana atasan putih & bersarung 2. Sabtu, 23 Maret 2019 pukul 04.30 (Bakda subuh

Doa Bernada Mengancam Tuhan gara-gara Pilpres?

Salah satu tata cara berdoa memang hendaknya dilakukan dengan redaksi yang mantap dan mendesak seperti “Ya Allah kabulkan doaku”, bukan dengan redaksi yang setengah-setengah semisal “Ya Allah kabulkanlah bila Engkau berkenan”. Meskipun redaksi doa terkesan memaksa, tetap saja tak ada yang bisa memaksa Allah. Nabi Muhammad bersabda: لَا يَقُولَنَّ أَحَدُكُمْ: اللهُمَّ اغْفِرْ لِي إِنْ شِئْتَ، اللهُمَّ ارْحَمْنِي إِنْ شِئْتَ، لِيَعْزِمْ فِي الدُّعَاءِ، فَإِنَّ اللهَ صَانِعٌ مَا شَاءَ، لَا مُكْرِهَ لَهُ “Janganlah sekali-kali seseorang dari kalian mengatakan; ‘Ya Allah, ampunilah aku jika Engkau

Islam Nusantara, Manifestasi Islam Rahmatan lil Alamin

Oleh Adi Candra Wirinata Mungkin seluruh umat Islam menginginkan adanya perubahan sosial-politik dengan syari’at Islam, tapi harus disadari bahwa lahirnnya Islam bertujuan menghapus ketidak-manusiawian, bukan menyingkirkan kebudayaan. Sebagaimana perkembangan Islam di Nusantara, khususnya di Jawa, tidak begitu saja menggantikan kebudayaan yang telah ada. Seperti yang telah tercatat dalam sejarah, bahwa Nusantara kaya akan budaya. Oleh karena itu, tidak bisa dipertentangkan antara budaya dan agama, selama tidak bertentangan dengan akidah Islam. Dakwah Islam di Nusantara pertama kali lebih mementingkan keamanan dan kenyamanan rakyat