Islam Nusantara

Fakta Sejarah Perkembangan Islam di Nusantara, Ustadz Arif: Islam Berkembang Melalui Budaya

Blitar – Pembelokan sejarah yang dilakukan kelompok khilafahisme selama ini menjadi keprihatinan banyak pihak. Termasuk bagi kalangan masyarakat Blitar. Perlu kiranya masyarakat yang tahu untuk meluruskan sejarah yang terbelok itu. Diskusi pelurusan sejarah yang dilakukan Aswaja Center Kota Blitar pada acara Podcast Aswaja, menjadi bahan pembicaraan yang menarik. Peserta sangat antusias memperhatikan kata demi kata yang terucap dari Arif Muzayin, badayawan-sejarawan Blitar. Seperti mengutip Republika.co.id Film “Jejak Khilafah di Nusantara” yang tayang secara virtual selalu menyisakan polemik. Tayangan tersebut pun akhirnya diblokir

Amaliah Aswaja, Kyai Sukamto: Harus Ada Fikroh, Harokah dan Ghirah.

Blitar – Perkembangan radikalisme semakin hari dinilai semakin merajalela, sebab itu perlu diantisipasi agar tidak semakin tumbuh subur. Dinilai efektif cegah radikalisme, Aswaja  Center Kota Blitar telah melakukan pencegahan secara dini dan telah terbukti dengan menggelar Kajian Islam Ahlussunah wal Jama’ah (Kiswah) di Pondok Pesantren Bustanul Muta’allimin, Kota Blitar. Ahad, 30/08/2020. Ketua Aswaja Center Kota Blitar, Jatim, Kyai Sukamto Abdul Hamid mengajak seluruh warga dan pengurus NU untuk secara kolektif menjalankan harakah, fikrah dan ghirrah dalam ber NU. “Sejak awal, Nahdlatul Ulama

Sikap Aswaja An Nahdliyah Terhadap Hari Besar Keagamaan dan Kenegaraan

Blitar – Islam sebagai agama samawi memiliki banyak ciri khas (khashaish) yang membedakannya dari agama lain. Ciri khas Islam yang paling menonjol adalah tawassuth, tasamuh, i’tidal dan tawazun. Tawassuth berarti mengambil jalan tengah, yaitu sikap tidak condong kepada ekstrem kanan maupun kelompok ekstrem kiri. Tasamuh berarti toleran, maksudnya Islam itu toleran terhadap perbedaan pandangan dalam masalah agama budaya dan adat istiadat.I’tidal artinya tegak lurus yaitu sikap tegak menjunjung tinggi keharusan berlaku adil dan lurus di tengah-tengah kehidupan bersama. Dan tawazun

Rais Syuriah PCNU Kota Blitar Bimbing Seorang Mualaf Masuk Islam

Blitar, Rais Syuriah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Blitar, Jawa Timur KH Abdil Karim Muhaimin membimbing seorang mualaf mengikrarkan dua kalimat syahadat, Senin (1/6) siang. Kali ini yang dibimbing masuk Islam oleh Gus Karim adalah seorang warga asal jalan Wr Supratman No. 92 Bendogerit Kota Blitar, Angga Hendra Setiawan. Prosesi pembacaan dua kalimat syahadat dilaksanakan di Kantor PCNU Kota Blitar dan disaksikan beberapa jamaah. Acara pembacaan ikrar dua kalimat syahadat berlangsung khidmat dan lancar turut disaksikan oleh Ketua Tanfidziyah PCNU Kota

Konsep Ahlussunah wal Jamaah dalam Harlah NU 94

Blitar –  Gerakan Pemuda (GP) Ansor dan Fatayat Nahdlatul Ulama (NU) Sananwetan Kota Blitar, Jawa Timur, bersinergi untuk menggelar Harlah NU ke 94. Kerjasama keduanya diwujudkan dalam diba’an dan pengajian rutin. Diungkap oleh alumnus Universitas Al Azhar Mesir, Ustadz H. M. Abd Rouf, Lc., Grad.Dip, MA di Masjid Hidayatullah Kota Blitar. Ahad (8/3/2020) Ust Rouf menjelaskan, siapa itu Ahlussunah wal Jamaah? Secara sekilas, pertanyaan ini mungkin amat mudah dijawab. Apalagi bagi warga Nahdliyin—yang setiap hari secara doktrinal mengikuti dan mengamalkan tradisi Aswaja

Daftar Perguruan Tinggi yang Berafiliasi dengan Nahdlatul Ulama di Indonesia

Berikut ini informasi kampus Nahdlatul Ulama (NU) se-Indonesia yang perlu diketahui. Bagi siapa saja yang ingin kuliah insyaallah selamat dari radikalisme. Berikut daftar Perguruan Tinggi yang berafiliasi dengan Nahdlatul Ulama: 1. Universitas NU Gorontalo 2. Universitas NU Sulawesi Tenggara 3. Universitas NU Samarinda Kaltim 4. Universitas NU Kalsel 5. Universitas NU Kalbar 6. Universitas NU Blitar 7. Universitas NU Lampung 8. Universitas NU Sumbar 9. Universitas NU NTB 10. Universitas NU Malut 11. Universitas NU Jakarta 12. Universitas NU Cirebon 13. Universitas NU Purwokerto 14. Universitas NU Cilacap 15. Universitas Maarif NU Kebumen 16. Universitas NU Jogjakarta 17. Universitas

GOYANGAN JARI MENGGERAKKAN NEGERI

Era digital tak bisa dihindari. Ini juga yang digarap media. Memenuhi kebutuhan pembaca. Tidak hanya cukup menyajikan cetak. Suguhan media berbalut digital harus disiapkan untuk menjawab kebutuhan pembaca. Ya, perubahan zaman saat ini ditandai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Lihatlah. Banyak produk telekomunikasi maupun elektronik mengggunakan teknologi digital. Setidaknya, narasi tersebut memotret teknologi berkembang pesat. Berpacu dengan waktu. Menghilangkan sekat jarak. Dunia dalam lipatan. Dalam genggaman. Ini juga paralel dengan pertumbuhan media yang pesat. Dalam berbagai diskusi, tak jarang disampaikan, saat

Memahami Amar Ma’ruf Nahi Munkar Dengan Benar

Blitar – Tim Aswaja NU Center Kota Blitar menebar virus-virus Aswaja An-Nahdliyah kepada para santri di Kunir Wonodadi Kab Blitar. Sebagai wujud gerakan Ahlussunnah wal Jamaah Lintas Area. Sabtu (22/2/2020). Amar ma’rūf nahi munkar adalah salah satu pilar agama Islam yang sangat penting. Tegaknya amar ma’rūf nahi munkar akan menjamin tegaknya Islam dan baiknya masyarakat. Sebaliknya, diabaikannya amar ma’rūf nahi munkar akan menyebabkan maraknya kemunkaran. Pelaksanaan terhadap ajaran amar ma’ruf nahi munkar seringkali dilakukan dengan cara -cara yang justru didalam prespektif

Meraba Islam di Indonesia, Kini dan Nanti

Islam datang dengan penuh kelembutan, didakwahkan oleh manusia yang penuh teladan dan diakui kebenarannya oleh lawan dan kawan. Islam tidak mengatur urusan ibadah semata, namun segala sisi kehidupan manusia. Komprehensif. Islam merupakan agama Allah yang langsung diturunkan kepada suri teladan terbaik bagi umat manusia, Nabi Muhammad Saw. Muhammad Saw membawa Islam dengan penuh kelembutan, tak ada satu helai pun bulu dari umatnya yang runtuh karena kekerasan. Beliau juga berpesan, “Tidaklah dikatakan muslim bila ia tidak mampu melindungi orang di sampingnya dari

Upaya Meraba Wajah Muslim Indonesia di Masa Depan

Sebetulnya, seperti apa wajah umat Islam Indonesia? Banyak peristiwa besar yang berkaitan dengan umat Islam terjadi beberapa tahun belakangan ini, mulai dari aksi 212 hingga terpilihnya KH. Ma’ruf Amin sebagai wapres. Lantas, siapa yang yang jadi representasi Islam Indonesia? Apakah kelompok 212 yang anti Ahok, atau sosok KH. Ma’ruf Amin yang seorang NU, atau seperti Jokowi; muslim, tidak berlatar pesantren, berpartai PDIP, berasal dari Solo yang kental kultur Jawa? Pertanyaan-pertanyaan itu mengiringi pembacaan saya terhadap buku Wajah Muslim Indonesia besutan Hasanuddin