Opini

Dakwah Millennial di Era Perang Pemikiran

Sejatinya, media sosial mampu menjadi salah satu wasilah (baca:perantara) dakwah. Menyampaikan yang ma’ruf dan mencegah dari munkar. Melihat begitu besarnya waktu yang diberikan Generasi Millenial untuk berinteraksi dengan Media Sosial. Ada tiga hal yang bisa kita perhatikan: Pertama, jika kita belum bisa membuat karya sendiri berupa tulisan atau tayangan yang bermanfaat, maka optimalkan untuk melakukan re-posting dan re-sharing dari hal-hal yang baik dan bermanfaat dari pengguna lain. Tentunya setelah dirasa, postingan itu bebas untuk di repost (baca: posting ulang) atau telah

​Ketika Agama Kehilangan Tuhan

Dulu agama menghancurkan berhala. Kini agama jadi berhala. Tak kenal Tuhannya, yang penting agamanya. Dulu orang berhenti membunuh karena agama. Sekarang orang saling membunuh karena agama. Dulu orang saling mengasihi karena beragama. Kini orang saling membenci karena beragama. Agama tak pernah berubah ajarannya dari dulu,Tuhannya pun tak pernah berubah dari dulu. Lalu yang berubah apanya? Manusianya? Dulu orang belajar agama sebagai modal, untuk mempelajari ilmu lainnya. Sekarang orang malas belajar ilmu lainnya, maunya belajar agama saja. Dulu pemimpin agama dipilih berdasarkan kepintarannya, yang paling cerdas

Waspada HASMI, Apa dan Siapa Kelompok Ini?

Sebuah kelompok bernama HASMI atau Harakah Sunniyyah untuk Masyarakat Islami menyangkal tudingan teroris untuk mereka yang telah tersebar luas di berbagai media massa. Dikatakan ormas Islam ini yang berkonsentrasi pada dakwah umum, sosial dan pendidikan. Hasmi merupakan Ormas Islam resmi yang terdaftar di Kemdagri dirjen kesbangpol dengan no 01-00-00/0064/D.III.4/III/2012 yang didirikan sejak tahun 2005 yang berdomisili di jalan raya Cimanglid Gang Purnama RT 05/01 Sukamantri Tamansari Bogor dan bergerak dalam bidang dakwah umum, sosial dan pendidikan.(4) PCNU Pamekasan, KH Abdul Ghoffar, Sabtu

NU Factor Jokowi Menang

Setelah melalui kontestasi yang melelahkan, saya bersyukur Jokowi-KMA akhirnya menang melawan narasi politik identitas. Unggul 55 persen boleh dibilang tidak setimpal dibandingkan dengan apa yang sudah dicapai Jokowi selama 4 setengah tahun. Bandingkan dengan kemenangan SBY di periode kedua yang menyentuh angka 66 persen. Kerja-kerja nyata Jokowi, yang secara teori adalah aset paling tangible untuk dibarter dengan dukungan elektoral seperti pembangunan infrastruktur yg massif, bagi-bagi sertifikat, segala jenis Kartu Indonesia Sejahtera, dll ternyata sama sekali tdk dibeli oleh rakyat Indonesia. Jokowi