Opini

Beragama yang Sederhana di Era Dakwah Digital: Merespon Tulisan Ulil Abshar Abdalla

Oleh Mamang M Haerudin (Aa) Kemarin. Selasa, 23 Juni 2020, Ulil Abshar Abdalla (Gus Ulil) menurunkan tulisan ringan berjudul: Perlunya Beragama yang “Ngintelek.” Saya merasa tulisan ini paling mewakili mengapa kemudian dakwah akar rumput dan dakwah digital kita “kalah saing” dan tertinggal jauh sekali. Pengajian online atau Ngaji Ihya ala Gus Ulil mau tidak mau telah menjadi rujukan utama dakwah digital kita. Harus saya akui, selain alim, Gus Ulil punya kemampuan public speaking yang menyihir. Hanya saja kemampuan sihirnya hanya menjangkau

ANCAMAN WAHABI DALAM KONTEKS IDEOLOGI, MILITER DAN POLITIK TERHADAP KEUTUHAN NKRI

Wahabi semakin giat menciptakan perpecahan di wilayah NKRI, tetapi Alhamdulillah keragaman NKRI selalu bersatu padu dibawah panji Pancasila. Sila ke tiga “Persatuan Indonesia” menjadi yang dipegang teguh mayoritas rakyat Indonesia untuk senantiasa waspada dari provokasi kotor dan busuk yang ditebarkan wahabi diwilayah NKRI untuk memecah belah rakyat Indonesia. Melalui rapat umum yang dikemas dalam bahasa Pengajian Umum, melalui kajian kelompok-kelompok wahabi, situs-situs internet, media cetak dan elektronik, kaum wahabi terus menerus berkoar-koar memecah belah persatuan Indonesia. Apa yang direncanakan oleh wahabi

Mari Sekolahkan Putra Putri Kita di Sekolah NU

Gelorakan Semangat Juang NU. Maraknya aksi kekerasan dalam beberapa periode ini tak lepas dari kurangnya kontrol masyarakat dalam membendung faham-faham radikalisme di negeri ini. Faham-faham tersebut telah didesain rapi, terorganisir dan massif lewat berbagai forum kajian dan dunia pendidikan. Secara tidak sadar para generasi muda di negeri ini telah dicekoki beragam faham radikal, di bangku sekolah hingga kuliah. Minimnya pengetahuan agama ala ahlussunnah wal jamaah annahdliyah menjadikan mereka dengan mudah dicuci otaknya. Dalam waktu yang tidak lama, telah lahir para generasi berjubah

GOYANGAN JARI MENGGERAKKAN NEGERI

Era digital tak bisa dihindari. Ini juga yang digarap media. Memenuhi kebutuhan pembaca. Tidak hanya cukup menyajikan cetak. Suguhan media berbalut digital harus disiapkan untuk menjawab kebutuhan pembaca. Ya, perubahan zaman saat ini ditandai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Lihatlah. Banyak produk telekomunikasi maupun elektronik mengggunakan teknologi digital. Setidaknya, narasi tersebut memotret teknologi berkembang pesat. Berpacu dengan waktu. Menghilangkan sekat jarak. Dunia dalam lipatan. Dalam genggaman. Ini juga paralel dengan pertumbuhan media yang pesat. Dalam berbagai diskusi, tak jarang disampaikan, saat

Meraba Islam di Indonesia, Kini dan Nanti

Islam datang dengan penuh kelembutan, didakwahkan oleh manusia yang penuh teladan dan diakui kebenarannya oleh lawan dan kawan. Islam tidak mengatur urusan ibadah semata, namun segala sisi kehidupan manusia. Komprehensif. Islam merupakan agama Allah yang langsung diturunkan kepada suri teladan terbaik bagi umat manusia, Nabi Muhammad Saw. Muhammad Saw membawa Islam dengan penuh kelembutan, tak ada satu helai pun bulu dari umatnya yang runtuh karena kekerasan. Beliau juga berpesan, “Tidaklah dikatakan muslim bila ia tidak mampu melindungi orang di sampingnya dari

Upaya Meraba Wajah Muslim Indonesia di Masa Depan

Sebetulnya, seperti apa wajah umat Islam Indonesia? Banyak peristiwa besar yang berkaitan dengan umat Islam terjadi beberapa tahun belakangan ini, mulai dari aksi 212 hingga terpilihnya KH. Ma’ruf Amin sebagai wapres. Lantas, siapa yang yang jadi representasi Islam Indonesia? Apakah kelompok 212 yang anti Ahok, atau sosok KH. Ma’ruf Amin yang seorang NU, atau seperti Jokowi; muslim, tidak berlatar pesantren, berpartai PDIP, berasal dari Solo yang kental kultur Jawa? Pertanyaan-pertanyaan itu mengiringi pembacaan saya terhadap buku Wajah Muslim Indonesia besutan Hasanuddin

Suka Artis Korea Menyebabkan Kafir? Benarkah?

Indonesia seolah tidak berhenti dari isu-isu yang menarik dibahas. Beberapa hari terakhir, ustad Abdus Somad memberikan statement kontroversial bahwa, siapa yang suka dengan drama/artis Korea yang notabene nonmuslim dapat menyebabkan seorang menjadi kafir. Benarkah? Yuk kita kaji sambil sesekali menyeruput kopi. Dalam salah satu kitabnya, imam Khatib Syirbini mengatakan, خَاتِمَةٌ تَحْرُمُ مَوَدَّةُ الْكَافِرِ لِقَوْلِهِ تَعَالَى: {لا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ (Haram mencintai nonmuslim, karena Allah Swt berfirman, “Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan

BURSA CALON WALIKOTA BLITAR

Pilkada kota Blitar 2020 semakin dekat, sejumlah nama bakal calon mulai muncul dipermukaan. Diantaranya adalah Muhtar Lubi, M.Ag atau yang akrab dipanggil Gus Lubi. Saat dikonfirmasi NUBLITAR.OR.ID beliau mengatakan bahwa siap maju sebagai cawali atau cawawali manakala diberi mandat oleh para tokoh kyai NU dan dikehendaki warga kota blitar. Beliau mengatakan bahwa kota blitar butuh pemimpin yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat, tidak hanya dari segi ekonomi tapi juga pembentukan karakter yang religius bagi masyarakat utamanya generasi muda. Beliau siap maju

Dakwah Millennial di Era Perang Pemikiran

Sejatinya, media sosial mampu menjadi salah satu wasilah (baca:perantara) dakwah. Menyampaikan yang ma’ruf dan mencegah dari munkar. Melihat begitu besarnya waktu yang diberikan Generasi Millenial untuk berinteraksi dengan Media Sosial. Ada tiga hal yang bisa kita perhatikan: Pertama, jika kita belum bisa membuat karya sendiri berupa tulisan atau tayangan yang bermanfaat, maka optimalkan untuk melakukan re-posting dan re-sharing dari hal-hal yang baik dan bermanfaat dari pengguna lain. Tentunya setelah dirasa, postingan itu bebas untuk di repost (baca: posting ulang) atau telah

​Ketika Agama Kehilangan Tuhan

Dulu agama menghancurkan berhala. Kini agama jadi berhala. Tak kenal Tuhannya, yang penting agamanya. Dulu orang berhenti membunuh karena agama. Sekarang orang saling membunuh karena agama. Dulu orang saling mengasihi karena beragama. Kini orang saling membenci karena beragama. Agama tak pernah berubah ajarannya dari dulu,Tuhannya pun tak pernah berubah dari dulu. Lalu yang berubah apanya? Manusianya? Dulu orang belajar agama sebagai modal, untuk mempelajari ilmu lainnya. Sekarang orang malas belajar ilmu lainnya, maunya belajar agama saja. Dulu pemimpin agama dipilih berdasarkan kepintarannya, yang paling cerdas