Deradikalisasi

NU – PKI SETERU ABADI

Oleh Ayik Heriansyah, Pengurus LD PWNU Jabar 1. PKI dan NU seteru abadi baik secara agama maupun politik. PKI anti agama, NU sangat agamis. PKI ingin membentuk negara komunis, NU mempertahankan NKRI yang berdasarkan Pancasila dan UUD 45. 2. Perseteruan NU dan PKI berujung pada bentrok fisik. Sejak pra pemberontakan PKI di Madiun 1948 sampai pra G 30 S 1965 benturan-benturan fisik terus terjadi. Benturan-benturan fisik ini tercatat di buku putih yang diterbitkan oleh PBNU dengan judul BENTURAN NU VS PKI. 3. Pada

Memahami Amar Ma’ruf Nahi Munkar Dengan Benar

Blitar – Tim Aswaja NU Center Kota Blitar menebar virus-virus Aswaja An-Nahdliyah kepada para santri di Kunir Wonodadi Kab Blitar. Sebagai wujud gerakan Ahlussunnah wal Jamaah Lintas Area. Sabtu (22/2/2020). Amar ma’rūf nahi munkar adalah salah satu pilar agama Islam yang sangat penting. Tegaknya amar ma’rūf nahi munkar akan menjamin tegaknya Islam dan baiknya masyarakat. Sebaliknya, diabaikannya amar ma’rūf nahi munkar akan menyebabkan maraknya kemunkaran. Pelaksanaan terhadap ajaran amar ma’ruf nahi munkar seringkali dilakukan dengan cara -cara yang justru didalam prespektif

Metode Penyebaran Radikalisme

Blitar, PCNU Kota Blitar berulang kali menyampaikan tentang bahaya radikalisme. Tak hanya jajaran Syuriah dan Tanfidziyah PCNU Kota Blitar, sejumlah masyarakat Blitar juga turut mengutarakan itu secara terbuka kepada publik. Sempat ada usulan penggunaan istilah baru untuk disematkan pada kelompok berpaham radikal. Istilah yang diusulkan itu adalah manipulator agama. Lantas apa saja metode penyebaran radikalisme? Berikut beberapa metode yang berhasil dihimpun penulis: Buku-buku, risalah dari penjara, video provokatif Majalah, media cetak online termasuk media sosial, whatsapp, facebook, instagram, twitter, website dan lain sebagainya Melalui kegiatan

Cara Mujarab Membendung Radikalisme, Mantan Teroris: Ber NU dengan Konsisten

Blitar – Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Blitar, pada Ahad (1/12/2019) bertempat di Aula KPRI Kota Blitar, menggelar sarasehan menangkal gerakan radikalisme dengan moderasi agama (memperkuat dai moderat berdivisi keummatan dan kebangsaan) guna mewujudkan situasi kantibmas yang aman dan kondusif di wilayah Kota Blitar. Acara kerjasama antara PCNU Kota Blitar dengan Kemenag Kota Blitar ini dihadiri ketua PCNU Kota Blitar Dr. Habib Bawafi.M.HI, dan Drs. Solekan. M.PdI dari Kemenag Kota Blitar. Acara tersebut dihadiri semua unsur PCNU Kota Blitar baik

Karena Kalah Semua Jadi Salah

Generasi kalah, maka semuanya jadi salah. Perkara mubah jadi haram. Masalah muamalah jadi aqidah. Beda fiqh jadi dkafirkan. Ribut perkara siyasah, pahal ujungnya cuma jadi siasat. Sudah miskin tradisi dan rendah literasi, tambah lagi mental orang kalah dalam hal budaya, ekonomi dan politik. Cadar yang menutup tubuhmu itu gak seberapa. Yang parah itu kalau sampai menutupi dirimu dari pandangan dan perspektif yang berbeda seolah dirimu lebih baik dan lebih benar, dan selain dirimu dan kelompokmu keliru. Jidat hitam itu gak perlu dipersoalkan.

Menjawab Dasar Hadits “khilafah ‘ala minhajin nubuwwah”

Oleh Nadirsyah Hosen Beberapa tahun lalu saya mengkritisi Hadis yang sering digunakan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) untuk memprediksi bahwa akan datang kembali sistem pemerintahan khilafah yang sesuai dengan manhaj kenabian (silakan digoogle tulisan saya tsb). Saya sebutkan bahwa riwayat Thabrani soal itu majhul dan riwayat imam Ahmad bermasalah khususnya pada perawi yang bernama Habib bin Salim. Kritikan saya itu juga diikuti oleh sahabat saya Agus Maftuh Abegebriel (sekarang beliau Dubes RI untuk saudi Arabia). Akibat kritikan kami tsb, DPP HTI kemudian berusaha keras

Dalil Tawasul Dan Istighotsah

Tawasul adalah salah satu jalan dari berbagai jalan tadzorru’ kepada Allah. Sedangkan Wasilah adalah setiap sesuatu yang dijadikan oleh Allah sebagai sabab untuk mendekatkan diri kepadanya. Sebagaimana firmannya : Artinya: Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan. (Q.S.al-Maidah.35). Adapun istighotsah adalah meminta pertolongan kepada orang yang memilikinya, yang pada hakikatnya adalah Allah semata. Akan tetapi allah membolehkan pula meminta pertolongan (istighotsah) kepada para nabi dan para walinya. Dalil-dalil Tawasul

Antara Sunnah dan Bid’ah

Menurut para ulama’ bid’ah dalam ibadah dibagi dua: yaitu bid’ah hasanah dan bid’ah dhalalah. Di antara para ulama’ yang membagi bid’ah ke dalam dua kategori ini adalah: 1. Imam Syaf’i Menurut Imam Syaf’i, bid’ah dibagi dua; bid’ah mahmudah dan bid’ah madzmumah. Jadi bid’ah yang mencocoki sunnah adalah mahmudah, dan yang tidak mencocoki sunnah adalah madzmumah. 2. Imam al-Baihaqi Bid’ah menurut Imam Baihaqi dibagi dua; bid’ah madzmumah dan ghoiru madzmumah. Setiap Bid’ah yang tidak menyalahi al-Qur’an, Sunnah, dan Ijma’ adalah bid’ah ghoiru madzmumah. 3. Imam Nawawi Bid’ah

Antara Nahdliyin dan Wahabi (3)

Salah satu wujud dari sekian upaya Nahdlatul Ulama (NU) dalam ikhtar meyakinkan para pengikutnya, bahwa tidak ada yang perlu diragukan atau disangsikan atas amaliyah keseharian Nahdlatul Ulama(NU). Ketahuilah, bahwa amaliah diniyah warga NU merupakan amaliyah keseharian mayoritas masyarkat Indonesia, bahkan masyarakat muslim dunia penganut paham ahlusunnah wal Jama’ah. Namun belakangan ini warga nahdliyin merasa terusik oleh penafsiran dangakal kelompok-kelompok dakwah yang mengatasnamakan pemurnian ajaran Islam-Wahabisme. Dimana amaliah keseharian NU oleh mereka dianggap “bid’ah dlolalah”. Sedangkan bid’ah dlolalah tempatnya di neraka. Astaghfrullah…Mereka

Antara Nahdliyin dan Wahabi (2)

Memang diakui, tradisi keilmuan pesantren melalui kitab-kitab Fiqh yang menjadi acuan Nahdliyin tdak terlalu mengedepankan dalil-dalil naqli Al-Qur’an dan Hadits dalam menjelaskan ajaran-ajaran prakts (amaliyah) sehari-hari. Mengapa? Karena para ulama yang menulisnya (muallif) lebih memposisikan diri sebagai guru atau pembimbing umat yang kebanyakan awam katmbang memposisikan diri sebagai professor yang hendak menggugah pemikiran dan penalaran para mahasiswanya. Disamping itu, menghadirkan dalil Qur’an atau Hadits asal comot lepas dari konteksnya, dan memaknainya secara harfyah akan melahirkan distorsi makna. Bahkan ketka kita memilih