Beragama yang Sederhana di Era Dakwah Digital: Merespon Tulisan Ulil Abshar Abdalla

Oleh Mamang M Haerudin (Aa)
Kemarin. Selasa, 23 Juni 2020, Ulil Abshar Abdalla (Gus Ulil) menurunkan tulisan ringan berjudul: Perlunya Beragama yang “Ngintelek.” Saya merasa tulisan ini paling mewakili mengapa kemudian dakwah akar rumput dan dakwah digital kita “kalah saing” dan tertinggal jauh sekali. Pengajian online atau Ngaji Ihya ala Gus Ulil mau tidak mau telah menjadi rujukan utama dakwah digital kita. Harus saya akui, selain alim, Gus Ulil punya kemampuan public speaking yang menyihir. Hanya saja kemampuan sihirnya hanya menjangkau kalangan menengah atas kota dan sebagian kalangan santri saja.
Tulisan Gus Ulil kemarin itu, yang kemudian membuat saya semakin mengangguk. Lantaran mendapat komentar dari Dr. Faqihuddin Abdul Kodir. Komentarnya begini:
“Tetapi masalahnya, sekarang, kita menghadapi orang-orang yang jauh lebih banyak lagi, dari barisan yang kedua, populis dan militan. Gak tahu benarkah jumlahnya banyak, tapi yang jelas sangat “nyaring” sekali. Suara ini, kata orang, yang membuat Mas Ulil banting strategi, agar tidak mati suri. Pertanyaanya, jika Cak Nur cukup elegan membuat gambaran Islam bagi mereka yang modernis, progresif, dan ngintelek, apa dan bagaimanakah mendakwahkan agama untuk mereka yang nyaring itu, yang sekarang semakin diechokan oleh media sosial dan internet. Ini umat kita juga, dan jumlahnya, katanya, jauh lebih banyak. Gimana Mas?”
Pertanyaan bernada gelisah yang dilontarkan Pak Faqih bukan tanpa alasan. Sayang, Gus Ulil tidak menjawabnya. Hanya memberikan kode untuk menggelar diskusi online mirip Halalbihalal Ngaji Ihya kemarin. Komentar dari Pak Faqih memang telak sekali, sampai bilang teman-teman hijrah lah yang membuat Gus Ulil pensiun dan membubarkan JIL, atau dalam bahasa Pak Faqih “banting strategi agar tidak mati suri.” Saya juga mengoleksi dan membaca tekun buku-buku Cak Nur (Alm Prof. Dr. Nurcholish Madjid), selain buku-buku Alm Gus Dur, Alm Prof. Dr. Harun Nasution, KH. Husein Muhammad, Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj, Dr. Jalaluddin Rakhmat, Prof. Dr. Musdah Mulia, sampai para intelektual penerusnya Abdul Moqsith Ghazali, Zuhairi Misrawi, Luthfie Assyaukanie, termasuk Ulil Abshar Abdalla. Mereka ini puncak dari para ulama dan cendekiawan Islam di Indonesia. Tidak aneh jika kemudian Gus Ulil mengidolakan Cak Nur.
Maka saya harus katakan bahwa Gus Ulil adalah titisan Cak Nur. Sebagai orang yang paham betul pemikiran Cak Nur. Apa yang disebut sebagai bergama yang “ngintelek”, tidak lain adalah intelektualitas yang dimiliki Gus Ulil. Saya sudah tidak ragu bahwa Cak Nur dan Gus Ulil itu setara. Sama-sama pandai dalam ilmu agama. Namun saya tidak akan membahasnya lebih lanjut. Saya akan konsen–sebagaimana telah saya bahas juga dalam tulisan sebelum-sebelumnya–berkaitan dengan signifikansi dakwah digital. Dan hasil dari tulisan-tulisan saya tentang dakwah digital berikut hasil cermatan saya terhadap respon-respon pembaca, sementara ini saya semakin berani mengatakan, bahwa dakwah digital kita memang “belum ada apa-apanya.” Masih kalah kreatif, tidak inovatif, kalah viral, dan asyik sendiri.
Berulang kali telah saya sampaikan, saya tidak sedang bicara soal tawadu, berkah dan apalah itu. Ini murni analisa tentang efektivitas dakwah digital. Kita ataupun teman-teman hijrah sama-sama melakukan upaya dakwah digital, namun upaya dan hasilnya jauh berbeda. Saya berani mengatakan demikian, paling tidak karena sejak lahir sampai hari ini saya hidup dalam tradisi NU (secara jemaah maupun jam’iyah) dan Pesantren, sementara selama 2 tahun 4 bulan saya menyengaja diri “belajar merunduk” bersama teman-teman hijrah. Berbaur dengan mereka, sampai hari ini tidak ada ketegangan, kami masih akrab. Saya juga masih mengisi kajian online dan offline di hadapan teman-teman hijrah.
Saya harus mengatakan, ini sekaligus poin dari respon saya terhadap tulisan Gus Ulil, bahwa kita tidak perlu–minimalnya untuk sementara ini, untuk 10 tahun ke depan–beragama yang “ngintelek.” Kalau yang dimaksud nginteleknya adalah model Cak Nur dan Gus Ulil yang tercermin dari gaya bicara dan pemikirannya. Kalau kita mau menang dalam persaingan sehat dakwah digital, kita harus segera mengubah strategi dakwah akar rumput dan dakwah digital kita dengan canggih, tetapi juga tetap dengan sederhana. Tidak perlu berdakwah dengan bahasa yang “ndakik-ndakik”, seperti para dosen yang sedang mengajar mahasiswa. Jenuh dan membosankan. Malah semakin sederhana bahasanya, justru akan semakin efektif.
Bayangkan seorang da’i nasional, Aa Gym (KH. Abdullah Gymnastiar) diundang khusus untuk menyampaikan ceramah di hadapan para ulama dan jemaah PP Muhammadiyyah. Dan tahu bagaimana responnya? Semua jemaah yang hadir merasa terpukau dan terhibur, ini terbukti dari antusiasme jemaah. Ini bukti bahwa bahasa ceramah sederhana Aa Gym ini jauh lebih dinikmati secara merata, baik oleh kalangan terpelajar/intelek maupun kalangan awam. Agar tulisan ini semakin blak-blakan, padahal Aa Gym tidak sealim Cak Nur dan Gus Ulil bukan? Dan saya merasa mustahil saja, kalau Aa Gym akan diundang serupa oleh PBNU. Kita sejak dulu terlalu banyak meremehkan teman-teman hijrah. Dianggap tidak alim lah, tidak bisa baca kitab kuning dan Al-Qur’an dan cap-cap negatif lainnya (pragmatis, orientasi materi/duit, kapitalis agama, dll, saya sih mesem-mesem aja kalau ada yang bilang begini).
Momen itu yang justru dijadikan motivasi dahsyat oleh teman-teman hijrah untuk bangkit dan tidak patah semangat. Teman-teman hijrah terus berbenah. Lihat hasilnya kini, dakwah digital ada dalam genggaman tangan mereka. Kalau dakwah digital kita dilihat 500 orang online saja (berikut ribuan viewers, ribuan/puluhan ribu subscribers) sudah kegirangan, teman-teman hijrah telah jauh lama melewati masa-masa euforia itu. Percaya nggak? Masih mau mengelak? Teman-teman hijrah terus belajar dari kesalahan dan bully-an, sampai kemudian muncul Ust Adi Hidayat yang pandai membaca kitab kuning, hafal Al-Qur’an dan banyak hadis lengkap dengan letak ayat, baris, halaman dan lembar ke berapa. Muncul lagi Ust Abdul Somad yang kealimannya banyak diakui para ulama NU. Demikian juga dengan Buya Yahya, kemampuan turats dan peronal branding-nya tak terkalahkan. Mereka produktif menulis, memanajemen jemaah, program pemberdayaan umat, dakwah kolaboratif dan masih banyak lagi.
Tulisan ini juga dalam rangka menjawab pertanyaan bernada gelisah dari Pak Faqih, bahwa ghirah militan dan populis ini yang menjadikan teman-teman hijrah mendapat tempat di hati umat. Mereka mampu memenuhi dahaga umat, tidak fanatik Ormas, siapapun yang mau belajar Islam, mereka rangkul. Jadi apa yang dianggap ngintelek, progresif, apalagi liberal ala JIL, kalau terus dilestarikan secara vulgar, haqul yaqin, umat Islam akan semakin ilfil. Dakwah ngintelek, progresif dan liberal, sekali lagi hanya akan dinikmati secara terbatas, oleh hanya sebagian kalangan terpelajar dan sebagian para santri saja. Kita terlalu “asyik sendiri.” Ini yang kemudian sebut sebagai zona nyaman. Itu dulu, insya Allah lain waktu dilanjutkan, karena masih banyak yang belum diulas.
Wallahu a’lam
Pesantren Bersama Al-Insaaniyyah, 24 Juni 2020, 7.17 WIB

No comments yet.

Leave a comment

Your email address will not be published.