GOYANGAN JARI MENGGERAKKAN NEGERI

Era digital tak bisa dihindari. Ini juga yang digarap media. Memenuhi kebutuhan pembaca. Tidak hanya cukup menyajikan cetak. Suguhan media berbalut digital harus disiapkan untuk menjawab kebutuhan pembaca.
Ya, perubahan zaman saat ini ditandai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Lihatlah. Banyak produk telekomunikasi maupun elektronik mengggunakan teknologi digital.
Setidaknya, narasi tersebut memotret teknologi berkembang pesat. Berpacu dengan waktu. Menghilangkan sekat jarak. Dunia dalam lipatan. Dalam genggaman. Ini juga paralel dengan pertumbuhan media yang pesat. Dalam berbagai diskusi, tak jarang disampaikan, saat muncul media online, masa depan cetak akan habis. Ketika muncul televisi, radio akan tamat. Dahlan Iskan, mantan CEO Jawa Pos Group, boleh berkata, tidak ada koran mati karena munculnya online. Yang ada karena manajemennya tidak baik. Buktinya banyak media cetak saat ini yang masih survive.
Demikian juga radio. Banyak yang masih bertahan. Pangsa pasarnya masih ada. Yang bertahan ini, biasanya, terus melakukan inovasi, menyesuaikan selera zaman. Hanya, fakta juga tak terbantahkan. Banyak media cetak yang gulung tikar. Tentu dengan berbagai alasan. Demikian juga radio.
Orang dapat duduk di depan komputer, laptop atau dengan menggenggam smartphone-nya, dan melihat serta memilih informasi yang penting. Tinggal mengklik, muncul yang diinginkan. Media berbasis internet rasanya sudah menjadi kebutuhan. Baik media yang mainstream maupun media sosial (medsos).
Sumpah serapah, cacian, hinaan, termasuk nyinyiran dengan mudahnya ditemukan di jagat maya. Padahal, ini bukan ciri khas budaya timur, budaya Nusantara. Bukan juga ajaran Islam. Imam Nawawi dalam kitab Syarah al-Muhadzab menyebutkan, panggilan-panggilan kepada orang lain dengan panggilan yang buruk seperti memanggil dengan nama hewan anjing, keledai, bisa mengakibatkan pelakunya mendapatkan ta’zir atau hukuman dari pemerintah. Ini menunjukkan, panggilan tidak baik kepada orang lain merupakan sikap yang dilarang agama.
Tapi, apa lacur. Dunia maya. Media sosial. Rasanya saat ini kerap digunakan ajang saling menyerang dan mencaci. Bahkan mengklaim dirinya paling benar dan mengkafirkan lainnya atau mereka yang tidak sejalan dengan kelompoknya. Barangkali ini relevan, kenapa Gus Nadirsyah Hosen, rais syuriah PCI NU Australia-Selandia Baru mengajak para kiai dan gus, aktif di medsos melawan ujaran kebencian.
Belum banyak, para kiai, termasuk kiai muda, putra kiai—gus—dan santri yang aktif mengambil peran di medsos. Menebar kebaikan, berdakwah, menyuguhkan Islam rahmatan lil ’alamin. Memang belakangan ini, anak-anak muda Nahdlatul Ulama (NU), banyak yang melek medsos. Kawan-kawan GP Ansor misalnya. Banyak yang aktif di mesos. Ini tentunya bagian angin sepoi untuk memberi warna dan menyebar virus kebaikan. Asal jangan ikut-ikutan terbawa arus. Memposting hujatan, kebencian, hinaan, atau memproduksi, memposting, dan menyebar hoaks. Hanya, masih banyak diperlukan para kiai, gus, santri, dan anak-anak muda NU menebar kedamaian di lini maya.
Sekadar secuil gambaran. Saat ini di antara deretan kiai NU yang aktif menebar kebajikan, ketenangan, kedamaian, dan berdakwah dengan santun di medsos adalah KH Mustofa Bisri. Sebut saja di Facebook maupun Twitter. Untuk yang terakhir, dengan akun di Twitter, @gusmusgusmu, punya 1,9 juta followers.
Gus Nadir juga selain aktif di medsos melalui akun di Twitter @na_dirs, dengan 164 ribu followers, juga menyuguhkan nadirhosen.net. Tak ketinggalan ceramah-ceramah Gus Muwafik, sapaan KH Ahmad Muwafiq, yang menenangkan dan tidak membuat hati marah, yang diunggah dan sangat mudah ditemukan diYouTube.
Fenomena pengajian di dunia maya bermunculan. Bak jamur di musim hujan. Ini yang harus ditangkap. Agar tidak hanya diisi oleh mereka yang menebar kebencian, hujatan, hoaks, dan hal-hal negatif lainnya. Ramainya dunia maya selaras dengan kemudahan mengakses dan perkembangan teknologi. Hanya menggerakkan jari. Menggoyangkan jari. Pesan sudah sampai dengan cepat. Jika pesan baik, akan semakin tersebar virus kebaikan. Sebaliknya, jika itu hoaks, memproduksi kejelekan, dengan cepat pula menjelajah ke seantero dunia. Kalau dulu ada pepatah, terpelesetnya mulut membawa maut. Bisa jadi saat ini salah menggoyangkan jari bisa saling benci dan berujung bui.
Inilah momentum. Termasuk para kiai dan santri. Memang tidak harus semua.Tapi, dakwah di dunia maya, masih banyak membutuhkan orang-orang yang memang mempunyai kemampuan bidang agama mumpuni. Oleh karena itu, transformasi dakwah yang sejuk di era digital dan mengena mau tidak mau harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.
Persepsi dakwah hanya defensif, berdakwah pada orang-orang yang sudah baik, harus diubah. Saatnya keluar, seperti melalui medsos. Berdakwah di era digital saat ini, sekali lagi, tak bisa dipandang sebelah mata. Selain menguasai ilmu agama, juga melek teknologi.
Islam yang sejuk tidak serta merta hanya disuguhkan oleh kiai, ustad, penceramah, dan santri. Tak hanya di dunia nyata, tapi juga jagad maya. Dan, lebih dari itu, virus Islam yang lembut harus merasuk dan disebar sesuai profesinya masing-masing. Tidak hanya kiai, ustad, dan penceramah saja. Tapi petani, pedagang, penjahit, atau tukang tambal ban pun bisa.
Artikel ini mengadopsi dari tulisan M. Izzul Mutho dalam buku Cyber NU; Beraswaja Di Era Digital.

No comments yet.

Leave a comment

Your email address will not be published.