Antara Nahdliyin dan Wahabi (2)

Memang diakui, tradisi keilmuan pesantren melalui kitab-kitab Fiqh yang menjadi acuan Nahdliyin tdak terlalu mengedepankan dalil-dalil naqli Al-Qur’an dan Hadits dalam menjelaskan ajaran-ajaran prakts (amaliyah) sehari-hari. Mengapa? Karena para ulama yang menulisnya (muallif) lebih memposisikan diri sebagai guru atau pembimbing umat yang kebanyakan awam katmbang memposisikan diri sebagai professor yang hendak menggugah pemikiran dan penalaran para mahasiswanya.
Disamping itu, menghadirkan dalil Qur’an atau Hadits asal comot lepas dari konteksnya, dan memaknainya secara harfyah akan melahirkan distorsi makna. Bahkan ketka kita memilih satu teks ayat atau hadits tetentu, sebenarnya ada pertanyaan teroritk yang harus dijawab secara jujur: kenapa dalam issu (qadliyah) tertentu seseorang memilih ayat ini, bukan ayat itu; atau kenapa merujuknya keada hadits ini bukan hadits itu?
Walhasil, ketika para kyai atau ulama NU dalam menyampaikan piwulang-piwulangnya tidak selalu dengan menyertakan dalil Qur’an atau Hadist Nabi bukan karena tidak adanya nash yang dimaksud, melainkan lebih untuk menghindari kebingungan yang tidak diperlukan bagi awam. Buktinya dalam karya kitab-kitab induk yang lebih merupakan konsumsi akademis, para ulama NU juga tidak kekurangan ayat atau Hadits untuk dihadirkan. Pada saat yang sama para ulama kita sadar bahwa yang paling asasi dalam beribadah bukan pada bentuknya melainkan pada kekhusukan dan keiklasan NU dalam menjalankannya semata karena Allah SWT.
Dimana-mana, di semua tradisi umat beragama, ketika orang terlalu fanatik dengan teks (nash) absolute keagamannya ditambah pemahaman harifyah yang lepas dari konteks nash itu sendiri hadir, selalu menimbulkan sikap tatharruf (ekstrim atau berlebihan) dan sikap intoleran terhadap orang lain, dengan penuh klaim kebenaran hanya bagi dirinya sendiri. Satu contoh misalnya, soal syarat menghadap kiblat (istqbalul qiblat) dalam sholat. Mengacu kepada kitab-kitab Fqih, para ulama kita mengatakan bahwa bagi kita orang Indonesia menghadap kiblat cukup dengan mengarahkan dada/ muka kita ke arah Barat sedikit ke utara. Tidak ada kewajiban untuk menemukan arah yang 100% persis ke Masjidil Haram atau Ka’bah. Karena hal itu hampir-hampir mustahil kecuali mereka yang salat di Masjid Haram. Tapi karena pemahaman yang begitu harfiyah, ada sekelompok orang yang mengharuskan setiap kita dalam shalat secara persis menghadap ke Ka’bah.
Bahkan lebih dari itu, yang harus menghadap kiblat bukan saja orang yang salat, bahkan bangunan tempat salat (Mushalla atau Masjid) pun demikian. Masjid dan Musahlla yang tidak peris menghadap kiblat harus dirobohkan. Dan ironisnya hal itu diklaimnya sebagai Pencerahan dalam Beragama.
Seharusnya semua kita menyadari bahwa ibadah, khususnya shalat, konsep dasarnya adalah penyerahan diri penuh kerendahan hat kepada Allah SWT, jauh dari sikap sombong dan klaim bahwa kebenaran seolah hanya miliknya sambil menuding orang lain sebagai domba-domba yang sesat. Peringatan Al-Qur’an (Al-Ma’un) sungguh wajib selalu kita hayat :
…. Celakalah orang-orang yang salat, tapi lupa akan hakikat salatnya (sebagai penyerahan diri kepada Allah dengan penuh kerendahan hat); merekalah yang menyombongkan diri (sebagai yang paling benar), dan memboikot pertolongan kepada orang lain (yang berbeda keyakinan dan tatacara ibadah atau salatnya)
Diadopsi dari Buku Amaliyah NU dan Dalilnya

1 Comment

Leave a comment

Your email address will not be published.