Sikap Aswaja An Nahdliyah Terhadap Hari Besar Keagamaan dan Kenegaraan

Blitar – Islam sebagai agama samawi memiliki banyak ciri khas (khashaish) yang membedakannya dari agama lain. Ciri khas Islam yang paling menonjol adalah tawassuth, tasamuh, i’tidal dan tawazun. Tawassuth berarti mengambil jalan tengah, yaitu sikap tidak condong kepada ekstrem kanan maupun kelompok ekstrem kiri. Tasamuh berarti toleran, maksudnya Islam itu toleran terhadap perbedaan pandangan dalam masalah agama budaya dan adat istiadat.I’tidal artinya tegak lurus yaitu sikap tegak menjunjung tinggi keharusan berlaku adil dan lurus di tengah-tengah kehidupan bersama. Dan tawazun artinya seimbang, yaitu sikap seimbang dalam berkhidmah demi terciptanya keserasian hubungan antara sesama umat manusia dan antara manusia dengan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Ungkapan tawassuth, tasamuh, i’tidal dan tawazun menjadi salah satu pedoman masyarakat nahdliyin. Dalam memperluas pandangan pemikiran, Aswaja NU Center menggelar  Kajian Islam Ahlussunah wal Jama’ah (Kiswah) yang rutin digelar setiap Ahad di berbagai tempat dengan tema yang disesuaikan.
Kali ini, kiswah mengambil tema sikap aswaja an nahdliyah terhadap hari besar keagamaan dan kenegaraan dengan narasumber adalah KH Dr Wahidul Anam, M.Ag, Wakil Rektor III IAIN Kediri, berlokasi di Jl. Kapuas No 20 Kauman Kota Blitar. Ahad, 23 Agustus 2020.
Allah SWT menciptakan manusia dengan berbagai variasi warna kulit, bahasa, tabiat, dan bentuk tubuh. Dengan keragaman inilah justru terdapat keindahan dan kesempurnaan. Dengan kata lain, perbedaan merupakan fitrah dan kehendak Allah.
“Orang yang berbeda pendapat itu hal yang wajar. Biasa saja. Akan tetapi akan jadi masalah jika mengatakan yang berbeda pendapat dengan dirinya itu kafir, bid’ah, keluar dari Islam dan lain sebagainya.” ungkap Kyai Wahid.
Dalam kondisi umat islam saat ini, semakin banyak perbedaan pandang mengenai perkembangan tradisi-tradisi nenek moyang terdahulu. Tahlilan, jika di artikan secara bahasa yakni, membaca kalimat Laa ilaha illa Allah dan bernilai ibadah bagi yang membacanya, namun secara istilah tahlilan tersebut menjadi persoalan di tengah-tengah masyarakat mengenai pelaksanaannya, karena dianggap sabagai aktivitas keagamaan pada waktu-waktu tertentu.
“Silahkan mengikuti tahlilan, silahkan tidak mengikuti tahlilan. Jangan sampai yang ikut tahlilan menyalahkan yang tidak ikut tahlilan, atau yang tidak tahlilan menyalahkan bahwa tahlilan itu salah,” kata Kyai yang juga pengasuh Pondok Mahasiswa Madrasah AsSunnah AnNawawiyah Kota Blitar ini.
Berkenaan dengan syirik, manusia masih terus berusaha menafsirkan pengertian dan pemahamannya. Ada sebagian kelompok mengatakan bahwa penghormatan kepada bendera merah putih itu media syirik. Ketika manusia disibukkan aktivitas penghormatan kepada bendera sehingga melupakan kewajiban kepada Tuhan, itu kesalahan manusia.
“Apakah penghormatan kepada bendera itu sebagai bentuk kesyirikan? kan tidak. Itu merupakan semangat cinta bangsa dan penghormatan kepada cinta tanah air,” tuturnya.
“Mengapa umat Indonesia harus hormat bendera? bahwa bendera itu merupakan salah satu simbol dan itu upaya kita menuangkan rasa cinta kita terhadap tanah air. Sama saja dengan menghormati guru, menghormati orang tua, menyanyikan lagu indonesia raya, hingga menghormati agama lain,” tandasnya.
Peran generasi muda Indonesia zaman sekarang adalah mengisi kemerdekaan dengan kegiatan-kegiatan bersifat positif. Selain giat belajar, kegiatan positif pemuda di antaranya memupuk rasa cinta tanah air dan patriot bangsa, salah satunya memahami simbol- simbol negara.
“Dalam konteks NKRI, kita bisa seperti ini, bisa mengaji, bisa karena negaranya aman. Itu bukti pentingnya menjaga simbol-simbol agama dan negara. Watak dari bangsa kita adalah agama. Mari kita dalam beragama dan bernegara selalu memegang teguh Ahlussunah wal Jama’ah,” tuturnya.
Perbedaan pandangan  Ahlussunah wal Jama’ah dengan yang non Ahlussunah wal Jama’ah adalah perbedaan pada konsep bernegara. Berbeda pandangan, negara sebagai integrasi dari kekuasaan politik, negara sebagai organisasi pokok dari kekuasaan politik. Berbeda konsep negara sebagai alat (agency) dari masyarakat yang mempunyai kekuasaan untuk mengatur hubungan-hubungan manusia dalam masyarakat dan menertibkan gejala-gejala kekuasaan dalam masyarakat.
“Fitrah manusia itu berbeda, fitrah itu yang tidak bisa dihindari. Yang tidak boleh itu mengklim kebenaran, dan menyatakan yang berbeda keyakinan dengan dirinya itu salah. Kita sebagain kader-kader Aswaja harus terus tawassuth, tasamuh, i’tidal dan tawazun. Keberagamaan kita adalah keberagamaan yang rohmatan lil alamin,” pungkasnya.

No comments yet.

Leave a comment

Your email address will not be published.