Fakta Sejarah Perkembangan Islam di Nusantara, Ustadz Arif: Islam Berkembang Melalui Budaya

Blitar – Pembelokan sejarah yang dilakukan kelompok khilafahisme selama ini menjadi keprihatinan banyak pihak. Termasuk bagi kalangan masyarakat Blitar. Perlu kiranya masyarakat yang tahu untuk meluruskan sejarah yang terbelok itu.
Diskusi pelurusan sejarah yang dilakukan Aswaja Center Kota Blitar pada acara Podcast Aswaja, menjadi bahan pembicaraan yang menarik. Peserta sangat antusias memperhatikan kata demi kata yang terucap dari Arif Muzayin, badayawan-sejarawan Blitar.
Seperti mengutip Republika.co.id Film “Jejak Khilafah di Nusantara” yang tayang secara virtual selalu menyisakan polemik. Tayangan tersebut pun akhirnya diblokir penayangannya. Belum ada pernyataan resmi soal hal ini. Berikut beberapa alasannya :
Pertama, tidak ada bukti pada dokumen-dokumen di Arsip Turki Utsmani yang menunjukkan bahwa Kesultanan Demak memiliki kontak dengan Turki Utsmani.
Kedua, kesultanan yang ada di Pulau Jawa tidak dianggap sebagai vassal atau naungan Turki Utsmani, termasuk juga bukan wakil sultan-sultan Utsmani di Jawa.
Ketiga, tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara Turki Utsmani dan Kesultanan Yogyakarta.
Malam itu, narasumber acara Podcast Aswaja Center, Dr. Arif Muzayin Shofyan, M.Pd mengungkapkan beberapa hal yang perlu diketahui publik. Berlokasi di studio Aswaja, Jl Cisadane 9 Bendo Kota Blitar. Jum’at, 4 September 2020.
Ustadz Arif  mengungkapkan bahwa Islam di Indonesia itu masuk ke nusantara melalui jalur perdagangan. Meskipun diketahui bahwa penyebaran Islam dimulai di sisi barat Nusantara, lambat namun pasti Islam menunjukkan perkembangannya di Nusantara.
Hasil penyebaran Islam dimantapkan dengan proses pemahaman dan pengamalan ajaran Islam, antara lain melalui jalur pendidikan yang kemudian dikenal dengan nama pesantren.
“Yang jelas Islam di Indonesia berbeda dengan di dunia, dimana disini ada pesantren. Apa pesantren berasal dari bahasa Arab? kan tidak tapi kata tersebut tetap digunakan agar bisa lebih diterima masyarakat,” ucap budayawan Blitar ini.
Menghadapi masyarakat Jawa, para Wali Songo tetap menghargai kebiasaan dan budaya yang dilakukan oleh masyarakat. Islam hadir di Nusantara tanpa menghilangkan budaya-budaya yang ada. Tidak kaku dalam masalah-masalah tertentu ketika mereka berdakwah. Hingga Islam bisa berpadu antara ajaran agama dengan budaya, sehingga peradaban dan kerukunan tetap terjaga.
“Islam menyebar di Nusantara menggunakan budaya, termasuk Sunan Kali Jaga yang juga menggunakan media wayang,” tuturnya.
“Kenapa Islam bisa diterima? karena pendekatan kultural, pendekatan akhlaq yang ramah, melalui budaya dan sosial yang baik. Jadi sebetulnya Islam dan budaya itu tidak bertentangan,” tuturnya.
“Islam itu bukan masalah pakaian tapi masalah nilai-nilai yang perlu diaktualisasikan. Agama itu intinya ya tatanan-tatanan nilai. Karena Nabi Muhammad SAW sendiri diutus untuk memperbaiki akhlaq umat,” ucap nya.
Ustadz Arif bersama Nono Eyang Jawi menggelar Podcast Aswaja. Jum’at, 4/9/20
Islam ramah dan Islam marah. Sebenarnya Islam itu cuma satu. Tapi untuk memfokuskan satu pembahasan dalam berbagai tema dalam keislaman sehingga dipersempitlah satu pokok bahasan supaya lebih runtut pembahasannya.
“Kalau ada orang Islam yang meyampaikan dakwah dengan teriak-teriak, menurut saya itu Islamnya perlu dipertanyakan. Islam itu harus disampaikan dengan budi pekerti yang baik, supaya bisa diterima,” katanya.
“Coba kita lihat di literatur-literatur, apakah Nabi Muhammad itu seorang yang pemarah atau kah beliau itu seorang yang ramah?” ungkap dosen UNU Blitar ini.
Negara Indonesia adalah negara yang multireligi, semua agama boleh masuk, pemersatu, mengajak masuk agama tidak boleh memaksakan diri, apalagi merugikan dan menggangu orang lain.
“Kita harus membangun Islam di Nusantara, sebagaimana Islam yang disampaikan para wali, Islam yang ramah, melalui sastra-sastra indah, hingga melalui syair-syair baik. Jangan sampai kita menyampaikan Islam dengan nada-nada yang justru membuat masyarakat tidak simpatik dengan kita,” pungkasnya.

No comments yet.

Leave a comment

Your email address will not be published.