Daerah

Langgar An Nur Plosokerep, Saksi Bisu Perjuangan Pangeran Diponegoro di Blitar

Sejarah mencatatat bahwa dalam perjuangannya melawan penjajah Belanda, Pangeran Diponegoro menggunakan strategi perang gerilya dan bersembunyi di hutan-hutan sebagai basis pertahanan. Dalam persembunyiannya, Pangeran Diponegoro beserta pengikutnya selalu meninggalkan jejak di tempat yang pernah disinggahinya ketika sembunyi dari kejaran pasukan Belanda. Salah satunya ketika Pangeran Diponegoro berada di wilayah Blitar. Ada sebuah langgar (musala) yang diyakini masyarakat sekitar sebagai peninggalan Pangeran Diponegoro bersama pengikutnya. Langgar bernama An Nur ini berada di Jalan Kemuning, Kelurahan Plosokerep, Kecamatan Sananwetan, Kota Blitar. “Masyarakat biasa menyebutnya

Meriahkan Ramadhan, Nahdliyin Plosokerep Gelar Malam Ganjil Iktikaf Dan Sahur Bersama

BLITAR KOTA-Selama Romadhon 1440 Hijriah, masjid Ussisa Littaqwa memiliki banyak kegiatan untuk mengisi bulan penuh berkah ini. Mulai pagi hingga malam, rangkaian agenda positif berlangsung untuk memberikan manfaat kepada masyarakat sekitar. Salah satu yang menarik perhatian jamaah adalah ngaji pasan sore hari jelang waktu berbuka. Praktis mendekati waktu berbuka puasa, masjid yang berada di Kelurahan Plosokerep, Kecamatan Sananwetan, selalu didatangi jamaah. Baik masyarakat sekitar maupun orang luar Kelurahan Plosokerep. Untuk pengajian sore ada tiga pemateri yang digilir dengan tema-tema tertentu. “Masing-masing

Corak dan Karakteristik Ulama Indonesia Abad ke-17

Salah satu hasil riset Balai Penelitian Pengembangan (Balai Litbang) Makassar Kementerian Agama tahun 2018 menyatakan Gowa dan Takalar di Provinsi Sulawesi Selatan pernah menjadi sentra pembentukan jaringan intelektual ulama pada pertengahan abad ke-17. Diawali dengan sentra-sentra kaderisasi ulama angngaji kitta yang tadinya membanggakan berubah menjadi kemerosotan. Misalnya di Bontoala, Makkasar sebagai basis pengembangan Islam, hancur karena terjadinya perang Rompegading tahun 1824. Setelah pusat pemerintahan dan institusi syara di Bontoala, Makassar lenyap, kegiatan berpindah ke Labuang Maros, Sulawesi Selatan. Begitupun dengan kaderisasi ulama

KH Abdussalam Shokhib: Santri Harus Respons Perubahan Zaman

Jombang — Pengasuh Pesantren Mambaul Ma’arif Denanyar Jombang, Jawa Timur KH Abdussalam Shokhib mengajak para santri agar bisa merespons perubahan zaman. Menurutnya, perubahan zaman yang tiap saat terjadi dengan begitu cepat, sehingga para santri harus menyikapi dengan benar agar tidak tergilas oleh arus itu. “Kita tiap saat merasakan perubahan zaman yang begitu cepat. Kita sebagai santri harus bisa menyikapi dengan benar, tidak boleh tergilas oleh arus perubahan itu,” ucapnya. Ia pun mengutip ucapan dari Al-Ghazali yang menyatakan bahwa santri yang cerdas adalah

KH Marzuki Mustamar: Saya Tak Rela Dunia-Akhirat Bendera NU Digunakan Kampanye Sandiaga Uno

Pamekasan — Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur (Jatim), Marzuki Mustamar mengatakan, tidak rela bendera NU digunakan kampanye oleh cawapres nomor urut 02 Sandiaga Uno. Sandiaga diketahui menggunakan bendera NU saat berkampanye di Stadion Semeru, Kabupaten Lumajang, Kamis 4 April 2019. Kiai Marzuki mengatakan, bendera NU sebagai simbol ahlussunnah wal jamaah, tidak boleh digunakan oleh kelompok yang menentang NU dan punya niat untuk menghancurkan NU dan Indonesia. “Kejadian di Lumajang itu, bendera NU diapakai kampanye cawapres nomor urut 02, saya tidak

NU Lumajang Protes Keras Sandiaga Uno Kibarkan Bendera NU di Kampanye

LUMAJANG — Saat berkampanye di Lumajang pada 4 April 2019 lalu, cawapres Sandiaga Uno sempat mengibarkan bendera NU dari atas panggung. NU Lumajang memprotes keras aksi Sandi ini. “Mencermati adanya kegiatan pengibaran ‘Bendera NU’ pada kegiatan kampanye akbar paslon 02 di Lumajang pada April 2019, pengurus NU Lumajang menyampaikan kekecewaan dan nota keberatan,” kata Rais NU Lumajang KH Husni Zuhri dalam pernyataan mereka yang dikutip pada Sabtu 6 April 2019. Pernyataan ini diteken oleh para pengurus NU Lumajang lainnya. Kembali ke isi

PMII Jombang Instruksikan Kadernya Waspadai Keberadaan Karim

Ketua Umum Pengurus Cabang (PC) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Jombang, Jawa Timur, Irham menginstruksikan segenap jajaran pengurus PMII dan masyarakat untuk selalu mewaspadai keberadaan Komunitas Royatul Islam (Karim). Komunitas ini dinilai cukup membahayakan  generasi bangsa dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) lantaran gerakan Karim tak ubahnya HTI yang beberapa waktu lalu sudah resmi dibubarkan pemerintah. “Kami menginstruksikan kepada anggota dan kader PMII Jombang agar selalu waspada terhadap komunitas-komunitas yang ingin mengkampeyakan paham atau ajaran radikal, khilafah dan memecah belah NU,” ucapnya,

Turba NU Blitar Mantapkan Aswaja dan Konsolidasi Pemilu Damai

NUBLITAR.OR.ID – Ribuan warga NU menghadiri pelaksanaan konsolidasi PCNU se-kab kota Blitar dan Turba Pengurus Wilayah NU (PWNU) Jawa Timur, di Pondok Pesantren (PP) Al-Falah Jeblog Talun Kabupaten Blitar pada Ahad (07/04/19) Siang. Turba tersebut turut dihadiri para pengurus NU  beserta pengasuh pesantren di Jatim. Hadir pula ketua Tanfidziyah PWNU KH Marzuki Mustamar. Pertemuan tidak semata diisi dengan konsolidasi dan pemaparan program organisasi, juga diisi dengan pemahaman Ahlussunnah Waljamaah atau Aswaja. Warga Nahdliyin fokus mendegarkan konsolidasi organisasi NU di PP Al-Falah Jeblog Talun

KartaNU Tidak Ada Kelanjutannya, NU Pekalongan Ganti Dengan KitaNU

NUBLITAR.OR.ID – Mendesaknya pemutakhiran data warga NU di Kota Pekalongan, Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Pekalongan melakukan terobosan pendataan warga NU berbasis teknologi. Pasalnya, program kartanu yang diinisiasi PWNU Jawa Tengah tidak ada kelanjutannya sampai sekarang, bahkan dari PBNU sendiri sistemnya tidak baku, sehingga PCNU Kota Pekalongan melakukan pendataan sendiri mengganti kartanu dengan kitanu. Ketua PCNU Kota Pekalongan, H Muhtarom kepada NU Online, Selasa (2/4) mengatakan, penggantian Kartanu ke Kartu Identitas Tanda Anggota Nahdlatul Ulama (Kitanu) karena kebutuhan mendesak agar seluruh