Tantangan NU Di Masa Depan, Kyai Purnomo: Harus Tetap Menjaga NKRI

Blitar – Nahdlatul Ulama (NU) telah mengalami perjalanan panjang sebagai organisasi: hampir 100 tahun! Dalam perjalanan panjang itu, NU telah memberi sumbangsih besar bagi agama, masyarakat, bangsa, dan negara. Dalam menyongsong tantangan masa depan,  Aswaja NU Center Kota Blitar menggelar Kajian Islam Ahlussunah wal Jama’ah (Kiswah) di Markas Dakwah Hidayatullah, Jalan Kalimantan Komplek RA Hidayatullah Kota Blitar. Ahad, 16/08/2020.
Wakil ketua Tanfidziyah PCNU Kota Blitar, Kyai Purnomo, M.HI saat didapuk menjadi pemateri tunggal menjelaskan bahwa NU selalu berhaluan Islam Ahlussunah wal Jama’ah (Aswaja). Dan seseorang yang ber aswaja itu harus menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
“Dulu ketika terdapat pemberontak, Nahdlatul Ulama tampil menanggulangi terlebih  dahulu. NU itu berjuang mulai sebelum kemerdekaan, saat kemerdekaan dan terus berjuang hingga saat ini.” Ucapnya tegas.
Sebagai salah satu organisasi kemasyarakatan Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama pada tahun 1984 melalui mukatamarnya di Situbondo, menyatakan sikap kembali ke khittah 1926. Gagasan kembali ke khittah 1926 ini sudah melalui proses perjalanan panjang, berdasarkan introspeksi dari kalangan tokoh-tokohnya sendiri. Karena kiprahnya sebelum itu bukan saja telah mengabaikan tugas-tugas pengabdiannya, melainkan juga telah menimbulkan ketegangan dan konflik berkepanjangan pada tingkat interen NU.
Khittah Nahdlatul Ulama adalah landasan berpikir, bersikap, dan bertindak warga Nahdlatul Ulama yang harus dicerminkan dalam tingkah-laku perseorangan maupun organisasi serta dalam setiap pengambilan keputusan.
“Tahun 1984, NU kembali kepada ke khittah, kembali pada tujuan pendirian organisasi, memikirkan yang lebih luas dari pada sekedar kekuasaan,” katanya.
Secara politis, NU telah meninggalkan gelanggang politik praktis dan memfokuskan kegiatannya pada peran sosial kemasyarakatan yang lebih terkoordinasi. Tujuan luhur dan strategis ini akan tercapai manakala para pemimpin NU, baik pada tataran masyarakat maupun dalam kepengurusannya tetap konsisten dan menjadikan butir-butir khittah 1926 sebagai panduan dalam berkiprah, bukannya sebagai ajang mencari kebenaran dan kepentingan pribadi semata.
“Maka kalau ada warga nahdliyin ingin mendaftar menjadi wali kota atau wakil wali kota, gunakan nama pribadi. NU itu tidak egois, menjaga bagaimana masyarat tetap harmoni,” tuturnya.
“Sejak dulu Nahdlatul Ulama selalu mempertahankan Pancasila dan NKRI ala Ahlussunah wal Jama’ah. NU berperan dan andil dalam mendirikan negara. Selama NU eksis, selama itu pula Pancasila tetap eksis,” imbuhnya.
Dalam menghadapi tantangan kedepan Kyai Purnomo menjelaskan NU harus tetap kuat dengan Ahlussunah wa Jama’ah sampai kapan pun. Hingga bagaimana menangkal faham-faham yang tidak Ahlussunah wal jama’ah.
“Potensi NU di kota Blitar sangat banyak, terutama disisi kuantitas dan kuantitas. Doktor-doktor kita banyak, sarjana-sarjana kita banyak. Kita punya TK, kita punya SD Ma’arif, SMP Maarif ada, Perguruan Tinggi ada, hingga pesantren pun banyak. Untuk itu, perlu adanya keterpaduan pada semua lembaga dan banom NU. “tuturnya
Dalam kultur budaya, NU memiliki budaya yang sangat tangguh. Dengan nilai-nilai Ahlussunah wa Jama’ah senantiasa cocok diterapkan di negara Indonesia.
“Mari kita isi kemerdekaan ini sesuai perannya masing-masing di masyarakat. Kalau anda menjadi guru atau dosen jadilah yang baik. Kalau anda menjadi karyawan jadilah karyawan yang ta’at dan rajin. Kalau anda menjadi pelajar jadilah pelajar yang rajin,”pungkasnya.
Kajian Islam Ahlussunah wal Jama’ah kali ini dihadiri puluhan audien. Tetap mempertahankan protokol kesehatan dengan selalu memakai masker dan mempertahankan jarak.

No comments yet.

Leave a comment

Your email address will not be published.