Fenomena Pendidikan Agama Islam Di Masa Pandemi

Blitar – Ber bulan bulan pandemi melanda. Semua kegiatan termasuk proses belajar mengaji diberhentikan dan dilanjutkan belajar  melalui daring. Pendidikan agama bagi generasi muda merupakan investasi penting jangka panjang harus tetap diberikan sejak dini. Karena agama merupakan pondasi dasar yang harus dimiliki oleh setiap anak. Dengan agama anak-anak lebih mengetahui arti pentingnya spiritualitas bagi masa depannya.
Hal itu disampaikan oleh Kasi Pemda Kemeng Kota Blitar, H. Habiburohman, M.Ag saat menjadi narasumber acara Podcast Aswaja yang diselenggarakan di Studio Aswaja, jalan Cisadane 9 Bendo Kota Bltar pada Senin malam (14/9/2020).
Peran madrasah diniyah sangat penting untuk mengajarkan dan menanamkan moral dan akhlak yang baik dalam pembentukan karakter dan kepribadian yang baik bagi seorang anak. Saat pandemi, banyak orang tua  yang mengeluh karena anaknya kurang memiliki kegiatan positif. Hingga tetap memfasilitasi putra putri nya untuk pergi mengaji, mengapa ? karena ada beberapa ilmu pengetahuan yang kemungkinan tidak dapat disalurkan melalui dalam jaringan, seperti praktik ibadah shalat hingga baca tulis Al-Qur’an. Karena tidak ada yang dapat menjamin apakah peserta didik tersebut paham atau tidak.
“Sementara ini dibuat hanya mengaji saja, anak-anak datang untuk setoran, lalu pulang. Harapannya ghiroh/semangatnya tidak putus ditengah pandemi,” ungkap ketua lembaga falakiyah kota Blitar ini.
Ustadz Habiburohman menjelaskan bahwa madrasah diniyah yang menggelar pembelajaran harus melaksanakan protokol kesehatan, seperti memakai masker, cuci tangan, menjaga jarak hingga mengurangi waktu mengaji.
“Mematuhi protokol kesehatan, dimanapun kita berada. Di luar rumah hingga di lembaga pendidikan, protokol kesehatan mutlak dilaksanakan, demi kesehatan dan keselamatan seluruh warga madrasah,” katanya
Dilokasi pondok pesantren, santri tidak bisa langsung serta merta seluruh santri masuk pesantren. Ada pembagian disesuaikan dengan jadwal, bergelombang, dapat memakan waktu 1-2 bulan.
“Saat memasuki pondok, santri melakukan isolasi mandiri selama 14 hari. Santri yang telah masuk pesantren tidak boleh keluar. Untuk orang tua yang ingin sambang, barangnya dititipkan pada satpam. Ini ujian bagi santri baru dan orang tua, saya sendiri merasakan hal itu,” ucapnya.
Dilokasi yang berbeda, ada beberapa lembaga (madrasah) yang belum berani membuka kegiatan belajar mengajar.

No comments yet.

Leave a comment

Your email address will not be published.