admin

About admin

This author admin has created 228 entries.

MKNU di SMK Islam 1 Blitar, KH Marzuki Mustamar : Panggah NU, Islamnya Murni, Wasilahnya Jelas, Sanadnya Sambung, Tidak Ada Hadits Yang Dicurangi, dan Ilmunya lengkap

Blitar – Sejumlah pendidik dan tenaga kependidikan muslim di Kota Blitar mengikuti Madrasah Kader Nahdlatul Ulama (MKNU) berjumlah total 115 peserta di Pondok Pesantren Al Muhsin SMK Islam 1 Blitar, selama tiga hari (2-4 Agustus 2019). “Alhamdulillah, peserta komposisi MKNU yang digelar kali ini berbeda. Karena para pesertanya adalah seluruh pendidik dan tenaga kependidikan di SMK Islam 1 Blitar,” terang Susiyah, S.Sos pengurus LAZISNU dalam rilis yang diterima nublitar.or.id, Jum’at, 2 Agustus 2019 Para pemateri, terusnya, merupakan sejumlah pengurus PBNU, yakni Drs.

TK Al Hidayah Ikut Mencerdaskan Pendidikan Masyarakat Kota Blitar

Blitar – Ikatan Pengelola TK Muslimat (IPTKM) Nahdlatul Ulama Kota Blitar menggelar koordinasi rutin setiap Sabtu Pon. Kegiatan kali ini dilaksanakan di TK Al Hidayah XXV Al Hikmah Dimoro, jl. Soka RT.02 RW.01 Dimoro kec. Sukorejo kota Blitar, Sabtu, 27 Juli 2019. Ibu Hj. Umi Hasanah bertindak selaku ketua, menyampaikan bahwa IPTKM NU ini bertujuan untuk meningkatkan, mutu pendidikan TK. Al Hidayah yang berakidahkan Ahlussunnah wal jama’ah, kesejahteraan para guru, sarana prasana, dan juga berupaya memotivasi warga masyarakat khususnya anggota muslimat

UNU Blitar Ungkap Fakta Ilmiah Probiotik dari Kotoran Kelinci

Blitar – Dilatarbelakangi rasa penasaran tingkah laku unik kelinci yang memakan kotorannya sendiri untuk memenuhi nutrisinya, mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Blitar yang tergabung dalam kelompok Program Kreativitas Mahasiswa-Penelitian (PKM-P) melakukan penelitian untuk mengetahui mikroorganisme yang terkandung dalam kotoran lunak kelinci tersebut. Penelitian yang didanai oleh Kemenristekdikti tersebut dilaksanakan di laboratorium FPIK Universitas Brawijaya (UB) Malang selama tiga bulan. Mulai bulan April hingga Juli 2019. Penelitian ini mengambil judul ‘Isolasi Bakteri Asam Laktat (BAL) dan Uji Aktivitas Anti-bakterinya’. Penelitian yang dilakukan oleh

Buku Pintar Salafi Wahabi yang diterbitkan oleh Harakah Islamiyah

Mungkinkah Ahlussunnah wal Jama’ah Berdamai dengan Salafi- Wahabi?

Pengikut ahlussunnah wal jama’ah mungkin saja berdamai dan bersahabat dengan salaf-wahabi. Apalagi mereka masih saudara seiman dan seagama, meskipun meresahkan. Paling tidak antara ASWAJA dan salaf-wahabi rukun Iman dan Islamnya masih sama. Dalam tradisi ahlussunnah wa al-Jama’ah perbedaan pendapat adalah sesuatu yang wajar dan biasa. Aswaja sendiri mengakui adanya perbedaan pendapat dan ijthad di kalangan ulama. Andaikan salaf-wahabi tidak menyalahkan pendapat dan amaliah ahlussunnah wa al-jama’ah, tentu kehidupan beragama masyarakat Indonesia akan lebih baik. Katakan saja, amaliah ini menurut kami tidak

Bagaimana Cara Memahami Ayat Mutasyabihat?

Supaya tidak salah dalam memahami ayat mutasyabihat, sepert ayat tentang sifat-sifat Tuhan, ada dua pendekatan yang digunakan ulama dalam memahami ayat tersebut: Pertama, tafwidh, yaitu menyerahkan makna dan hakikat ayat tersebut sepenuhnya pada Allah SWT, sembari meyakini bahwa Allah tidak serupa dengan makhluk. Kedua, takwil, yaitu tidak memahami ayat mutasyabihat sesuai dengan makna aslinya, dengan tujuan untuk mensucikan Tuhan (tanzih) dan supaya terhindar dari tajsim dan tasybih (menyerupai Allah dengan makhluk). Pendekatan takwil ini berat memahami ayat-ayat mutasyabihat sebagai majaz atau metafore, sehingga

Apa Saja Kekeliruan Salafi-Wahabi dalam Akidah?

a. Membagi Tauhid Menjadi Tiga Salaf-wahabi meyakini bahwa tauhid dibagi tiga: tauhid rububiyyah, yaitu mengakui Tuhan sebagai Sang Pencipta dan mengatur jagad raya. Tauhid Rububiyyah ini diyakini oleh semua orang, baik musyrik maupun mukmin; tauhid uluhiyyah, yaitu melaksanakan ibadah yang hanya ditujukan untuk Allah; tauhid asma’ wa sifat, yaitu menetapkan hakikat nama dan sifat Tuhan berdasarkan makna literalnya. Pembagian tauhid sepert ini bermasalah karena beberapa alasan: Pertama, Rasulullah SAW, sahabat, dan ulama salaf tidak pernah membagi tauhid dalam tiga kategori sepert ini. Bahkan

Benarkah Tidak Boleh Beramal dengan Hadis Dhaif?

Sebagian pengikut salaf-wahabi di Indonesia tidak mau menggunakan hadis dhaif dalam beramal dan mengkritk orang lain yang beramal dengan hadis dhaif. Pandangan ini sekaligus memperkuat kesimpulan bahwa mereka bukanlah ahli hadis. Sebab kebanyakan ahli hadis membolehkan beramal dengan hadis dhaif dengan persyaratan berikut ini: 1. Hadis dhaif yang digunakan tidak berkaitan dengan masalah akidah dan halal-haram. 2. Dibolehkan mengamalkan hadis dhaif yang berkaitan dengan keutamaan beramal (fadhail a’mal) dan nasihat. 3. Perawi yang meriwayatkannya tidak terlalu dhaif dan kandungan hadisnya sejalan dengan hadis shahih

Tepatkah Salafi-Wahabi Disebut Ahli Hadis?

Istilah ahli hadis belakangan ini seakan-akan sudah menjadi madzhab tersendiri yang berbeda dengan madzhab fikih lainnya. Padahal dulu, setiap ahli hadis pasti merujuk pada salah satu fikih empat madzhab. Misalnya, al-Bukhari, Muslim, al-Nasa’i, Ibnu Khuzaimah, al-Daraquthni, al-Hakim, al-Baihaqi, al-Nawawi, Ibnu Hajar, al-‘Iraqi, dan al-Suyuthi dikenal ahli hadis yang bermadzhab al-Syaf’i. Dilihat dari aspek keilmuan, tidak tepat salaf-wahabi diidentkkan dengan ahli hadis. Mereka memang sering mengutip hadis, tetapi bukan berat ahli hadis. Sebab ahli hadis adalah orang yang menguasai ilmu hadis dirayah

Benarkah Salafi-Wahabi tidak Bermadzhab?

Meskipun salaf-wahabi suka menyerang orang yang bertaqlid pada madzhab tertentu, namun faktanya salaf-wahabi juga tidak terlepas dari pengaruh-pengaruh tokoh yang menjadi rujukan mereka. Dilihat dari tokoh yang dirujuk, sepert Imam Ahmad bin Hanbal, Ibnu Taymiyyah, Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, dan Muhammad bin Abdul Wahab, wahabi tampaknya lebih dekat dengan pandangan fikih Hanabilah, sekalipun mereka masih malu-malu mengakuinya. Sebagaimana yang diketahui, sejak berganti nama dari wahabi menjadi salaf, kelompok ini mengaku melepaskan diri dari madzhab fikih dan merujuk langsung pada al-Qur’an dan hadis.