Ats-Tsawabit dan Al-Mutaghayirat Dalam Tradisi Pemikiran Islam

Blitar – Ahlussunah Wal Jama’ah NU Center (ASNUTER) Kota Blitar menggelar Kajian Islam Ahlussunah Wal Jama’ah (Kiswah) perdana di Hall Asnuter Jl. Kalimantan, komplek RA Hidayatullah Kota Blitar, Jawa Timur. Ahad (1/3/2020)
Hadir sebagai pemateri utama, alumnus Universitas Al Azhar Mesir, Ustadz H. M. Abd Rouf, Lc., Grad.Dip, MA menjelaskan kegiatan kiswah dalam rangka mengupayakan terwujudnya risalah islamiyah Ahlussunah Wal Jama’ah di kota Blitar.
Pada pertemuan tersebut ingin menggali pembaharuan pemikiran Islam berdasarkan konteksnya. Menurut dia, pembaharuan pemikiran Islam penting dilakukan untuk memperkokoh pemahaman masyarakat terhadap Islam. Pembaharuan masuk kepada masalah-masalah yang ril seperti radikalisme dan terorisme.
Ustadz Abd Rouf menjelaskan bahwa dalam khazanah pemikiran keislaman, persoalan tentang ats-tsawabit (yang sakral) dan al-mutaghayirat (yang profan) dalam agama selalu menarik dan amat penting untuk dikaji. Sebab dari pemahaman yang jernih atas keduanya—dan batas-batas antar keduanya, akan menjadi tolok ukur seorang muslim dalam memahami dan mengamalkan ajaran agamanya; apakah ia akan mengekpresikan cara beragama secara inklusif (terbuka, toleran, dan penuh kasih), ataukah sebaliknya, akan mengekspresikan cara beragama secara eksklusif (rigid, hitam-putih, dan intoleran).
Terlebih apabila dicermati, isu-isu yang diketengahkan oleh kelompok Islam ekstremis—dan atau gerakan Islam trans-nasional, semisal khilafah islamiyah, hakimiyah, jahiliyah modern, dan bahkan tuduhan-tuduhan heretik (bid’ah) dan takfirisme, berasal dari kekaburan dalam memahami tema ini. Bahkan, dalam lingkup sebagian masyarakat kita (an-Nahdliyin) berbeda pengamalan madzhab fikih—non Syafi’i misalnya, juga dianggap bukan pengikut Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdliyah.
“Fenomena beragama seperti ini jelas menunjukkan bahwa mereka “minhum” dan sebagian masyarakat kita, entah sadar ataupun tidak, telah terjebak pada penarikan wilayah yang notabene-nya masuk dalam kategori al-mutaghayirat (profan/sebagai ekspresi Islam historis) ke wilayah ast-tsawabit (sakral/sebagai ekspresi Islam normatif). Oleh sebab itu, mengembalikan pemahaman dan batas antar kedua wilayah itu pada relnya, menjadi sebuah kebutuhan saat ini.” Ucapnya mantab.
Selain itu, pemahaman yang jelas atas Ats-Tsawabit dan Al-Mutaghayirat dalam arus pemikiran keislaman klasik maupun kontemporer.  Ustadz Abd Rouf juga memberikan bekal dasar pada generasi Nahdliyin milenial, dalam menyikapi isu-isu agama kaum ektremis, dan bahkan mencounter balik wacana mereka secara lebih tajam dan bernash.
Kiswah perdana ASNUTER Kota Blitar. Ahad, 1/3/2020.
Tentu saja, semua itu akan dibingkai dalam perspektif kajian tradisi pemikiran Ahlussunah wal Jamaah an-Nahdliyah.
Pertemuan perdana tersebut menjelaskan agama & pemikiran agama. Tentu saja berbeda, karena agama itu berasal dari Tuhan sedang pemikiran keagamaan berasal dari manusia. Agama itu konsep kebenaran Tuhan sedang pemikiran keagamaan adalah tafsiran, filosofi, sudut pandang, pemikiran, filsafat manusiawi. Sebab itu bila agama hakikatnya pasti benar maka pemikiran keagamaan itu kebenarannya bersifat relatif, bisa benar bisa melenceng menjadi salah.
Juga menjelaskan mengenai watak nalar ilmu-ilmu Islam. Selama ini telah banyak pemikiran Islam yang diambil dalam rangka peningkatan kualitas. Islam menganggap apa yang semua ada dijagat raya ini adalah manesfestasi dari eksistensi tuhan itu sendiri. Maka apa-apa yang ada semaunya adalah dari tuhan.
Lebih lanjut menjelaskan bagaimana berinteraksi dengan warisan khazanah keislaman (turats) yang tepat di zaman ini. Hingga meneropong potensi pengembangan & pembaharuan ilmu-ilmu Islam, khususnya teologi Ahlussunah wal Jamaah dalam konteks saat ini.

 

 

No comments yet.

Leave a comment

Your email address will not be published.