Ahlussunnah Wal Jama’ah, Ajaran dan Ciri-Cirinya

Blitar – Pandemi Covid 19 meneror masyarakat kota Blitar. Teror penyakit pernafasan, tak menyurutkan hati para pejuang. Kali ini Aswaja NU Center menggelar Kajian Islam Ahlussunnah wal Jama’ah (Kiswah). Ahad (5/7/2020)
Berlokasi di Hall Asnuter, komplek RA Hidayatullah Kota Blitar, Ketua Aswaja NU Center (Asnuter) Kota Blitar, Kyai Sukamto Abdul Hamid menjelaskan kelompok yang diistimewakan dengan memperoleh balasan surga di antara kelompok-kelompok yang lain yaitu golongan Ahlussunah wal Jama’ah. Sebagaimana digambarkan oleh Nabi Muhammad SAW.
“Rasulullah mengabarkan kepada kita bahwa umatnya akan terpecah belah menjadi 73 golongan. Sebanyak 72 di antaranya berhak masuk neraka, dan satu golongan akan masuk ke dalam surga, yang kemudian dikenal sebagai Ahlussunnah wal Jama’ah,” tuturnya.
Kiswah Online Asnuter via Instagram, Facebook dan Youtube. Ahad, 5/7/2020
Dalam hadist yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi, Rasululloh SAW menjelaskan bahwa golongan yang selamat adalah golongan yang mengikuti apa yang dilakukan oleh Rasululloh dan para sahabatnya. Uniknya, saat ini terdapat banyak golongan dan semuanya mengaku Ahlussunnah Wal Jama’ah. Lantas, golongan mana yang berhak menyandang nama Ahlussunnah wal Jama’ah ?
Kyai Sukamto menjelaskan ajaran dan ciri-ciri Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) yang diadopsi warga Nahdliyin sejak awal pendirian. Ciri tersebut sebagai pembeda antara penganut Aswaja dari lainnya. Menurutnya, alasan munculnya Ahlussunnah wal Jama’ah adalah karena saat itu banyak yang berpecah belah. Antara yang setuju dan yang tidak setuju dengan khulafaurrasyidin.
Ahlussunnah wal Jama’ah memiliki 3 komponen, pertama ahl yang berarti keluarga (ahlul bait), pengikut, dan penduduk. Kedua As-Sunnah diartikan kelompok sahabat Nabi Muhammad, golongn pengikut sunnah/ajaran Nabi, mengikuti jejak langkah sahabat Nabi. Ketiga Al Jama’ah bermakna kelompok yang menjaga kebersamaan dan kekompakan.
“Contoh Sunnah Nabi Muhammad SAW mencakup 3 aspek, sunnah qouliyah (ucapan), sunnah fi’liyah (perlakuan), sunnah taqririyah (sikap nabi terhadap sahabat). Dan ditambahkan pula Sunnah hainiyah (cita2 nabi),” ucapnya.
Aswaja memiliki 3 sendi yang selalu bekerja sama, yakni Islam, Iman dan Ihsan.
“Sebagaimana melakukan ibadah sholat, bahwa apa yang kita lakukan itu betul-betul murni untuk menyembah Allah SWT,” katanya.
Aswaja merupakan golongan mayoritas, dalam hal aqidah mengikuti Imam Abu Hasan Al-Asy’ari (Wafat : 935 M) dan Imam Abu Manshur Al-Maturidi (Wafat : 944 M).
“Terdapat golongan minoritas yaitu pengikut Ibn Taimiyah, yang sering dikenal wahabi / salafi,” katanya.
Dalam bidang fiqh, Aswaja menganut pendapat dari salah satu madzhab empat yaitu Imam Hanafi, Imam Malik, Imam Syafi’i dan Imam Hanbali.
“Kok tidak bermazhab, itu berarti jelas bukan Ahlussunnah wa Jama’ah yang diadopsi Nahdlatul Ulama,” ucapnya.
Dalam bidang tasawuf/akhlak, Aswaja menganut Imam Junaid al-Baghdadi dan Abu Hamid Al-Ghazali.
“Aswaja itu tawassuth (moderat), tawazun(seimbang), I’tidal (tegak lurus) dan tasamuh (toleran). Aswaja itu tidak menyalahkan orang lain, tidak mengkafirkn orang lain. Aswaja memakmurkan berbagai tradisi misalkan tahlilan, manaqiban dan lain sebagainya,” ucapnya.
Kyai Sukamto juga menjelaskan hubungan pancasila terhadap Islam.
“Bahwa sesungguhnya Islam yang ada di Indonesia itu sudah mengikuti tatanan Islam yang telah sesuai dengan Rasulullah SAW. Jika menerapkan hukum Islam di Indonesia, maka wilayah-wilayah Indonesia yang mayoritas non muslim seperti Papua dan Bali bisa dipastikan akan memisahkn diri dari bumi Indonesia,” pungkasnya.
Berikut link Video Kiswah nya https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=176568280549921&id=100045902508802

 

No comments yet.

Leave a comment

Your email address will not be published.