3 Pesan Penting PCNU Kota Blitar Saat Lantik Ranting NU Bendo

Blitar – Saat melantik secara terpadu Pengurus Ranting NU Bendo, Rais Syuriah Nahdlatul Ulama Kota Blitar, KH Abdil Karim Muhaimin mengingatkan kepada para pengurus untuk senantiasa meningkatkan semangat dalam berkhidmah di ormas terbesar di Indonesia yang merupakan warisan para ulama tersebut. Selasa (17/3//2020)
Menurutnya ada tiga semangat yang perlu dijaga yaitu semangat menjaga, mengawal dan melestarikan Islam Ahlussunnah Wal Jamaah, semangat menjaga negara untuk ibadah, dan semangat menjaga kerukunan, ketentraman dan keamanan masyarakat.
Dalam sambutannya KH Abdil Karim Muhaimin menjelaskan awal Nahdlatul Ulama didirikan. Pada tahun 1926, di Surabaya, para kiai pesantren Ahlussunah wal Jamaah (Aswaja) mendirikan jamiyah (organisasi) bernama Nahdlatul Ulama, kebangkitan para ulama.
Konsekuensi dengan menggunakan kata nahdlatul adalah kebangkitan yang telah terangkai sejak berabad-abad lalu. Bukan kebangkitan yang tiba-tiba sebab ulama Aswaja memiliki sanad keilmuan dan perjuangan sama dengan ulama-ulama sebelumnya. Paling tidak, kebangkitan ulama NU merupakan kelanjutan dari gerakan Wali Songo dan ulama penyebar Islam lainnya di Nusantara. Selama ratusan tahun, perjuangan tersebut turun-temurun, sambung-menyambung, bergerak mempertahankan Islam di Nusantara.
Jamiyyah NU didirikan sebagai ormas Islam yang memperjuangkan ajaran Islam Ahlus Sunnah an Nahdliyah yang garis besarnya memiliki beberapa tujuan.
Pertama, menjaga, mengawal dan melestarikan Islam Ahlussunnah Wal Jamaah. Mobilitas perjuangan ulama pesantren yang tergabung dalam Nahdlatul Ulama (NU) berupaya keras menjaga kemerdekaan bermadzhab di tanah Hijaz (Mekkah dan Madinah). Hal itu dilakukan karena Raja Ibnu Sa’ud dari Najed dengan paham Wahabi berusaha melarang madzhab berkembang di Hijaz. Sentimen anti-madzhab yang berupaya memberangus tradisi dan budaya yang berkembang di dunia Islam menjadi ancaman bagi kemajuan peradaban Islam itu sendiri.
Karena itu KH Abdul Wahab Chasbullah bergerak cepat dengan membentuk Komite Hijaz. Komite ini bersepakat menyusun risalah atau mandat dan materi pokok yang hendak disampaikan langsung kepada Raja Ibnu Sa’ud di Mekkah dalam forum Muktamar Dunia Islam.
“Mohon umat Islam tetap dibebaskan untuk melaksanakan Islam sesuai madzhabnya dan mohon tidak terus menghancurkan sejarah kebesaran Islam di tanah Hijaz.” ungkap Gus Karim malam itu.
Kedua, menjaga negara yang digunakan untuk ibadah. Menjaga NKRI, ini wajib dilakukan hingga anak cucu.
Ketiga, menjaga kerukunan, ketentraman dan keamaan masyarakat.
Semangat ibadah juga perlu untuk terus dipertahankan yaitu dengan mengamalkan dan menegakkan aqidah Ahlussunnah wal Jamaah An Nahdliyah. Di tengah perkembangan teknologi yang berimbas pada arus informasi tanpa batas saat ini ujarnya, pengurus NU harus menjadi pencerah bagi warga NU dengan tidak ikut-ikutan termakan informasi hoaks, fitnah dan profokasi dari segelintir kelompok yang mengusung misi melemahkan NU.
Pengurus NU juga lanjutnya harus menjunjung tinggi semangat kebhinekaan yang sudah menjadi sunnatullah (ketetapan Allah) yang diberikan kepada negeri Indonesia ini.
Malam itu, penulis yang juga ikut dilantik sebagai pengurus ranting NU Bendo. Berfikir bahwa besarnya NU merupakan besarnya NKRI. Lemahnya NU merupakan lemahnya NKRI. Jadi harus terus semangat dalam perjuangan.
Pelantikan NU ranting Bendo ini sekaligus agenda Turba (TURun keBAwah) PCNU ke-28 di Masjid Baitul Hasanah, Jl Cisadane No 45 Bendo Kota Blitar.
Hadir ketua Tanfidziah PCNU Kota Blitar, Dr. Habib Bawafi, M.Hi beserta jajarannya. Hingga puluhan masyarakat se-kelurahan Bendo.

No comments yet.

Leave a comment

Your email address will not be published.