Suka Artis Korea Menyebabkan Kafir? Benarkah?

Indonesia seolah tidak berhenti dari isu-isu yang menarik dibahas. Beberapa hari terakhir, ustad Abdus Somad memberikan statement kontroversial bahwa, siapa yang suka dengan drama/artis Korea yang notabene nonmuslim dapat menyebabkan seorang menjadi kafir.
Benarkah? Yuk kita kaji sambil sesekali menyeruput kopi.
Dalam salah satu kitabnya, imam Khatib Syirbini mengatakan,

خَاتِمَةٌ تَحْرُمُ مَوَدَّةُ الْكَافِرِ لِقَوْلِهِ تَعَالَى: {لا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ

(Haram mencintai nonmuslim, karena Allah Swt berfirman, “Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhir saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya”)
Bukankah cinta itu spontan seperti yang disenandungkan para penyair itu? Memang demikian adanya, tapi cinta yang diharamkan disini adalah cinta yang diusahakan. Dalam artian membiarkan saja gejala cinta tumbuh.
Cinta adalah urusan hati, bukan sikap. Maka haram mencintai nonmuslim bukan berarti kita boleh menyakiti mereka. Sekali lagi ini urusan hati, bukan sikap.
Sedangkan bergaul dan bersikap baik kepada nonmuslim hukumnya boleh, bahkan menjadi hal baik jika dalam rangka mendakwahkan agama islam.
Kalau kita cermati, pendapat Abdus Somad terkesan ‘nggebyah uyah’ semua rasa cinta kepada nonmuslim dapat menyebabkan kafir. Padahal, Ar-Ramli menyatakan bahwa mencintai nonmuslim dapat menyebabkan kafir hanya jika mencintai sisi kafirnya. Berikut pendapat beliau dalam kitab Nihayatul Muhtaj,

وَتَحْرُمُ مُوَادَّتُهُ وَهُوَ الْمَيْلُ إلَيْهِ بِالْقَلْبِ لَا مِنْ حَيْثُ وَصْفُ الْكُفْرِ وَإِلَّا كَانَتْ كُفْرًا.

Sampai di sini jelas, bahwa mencintai artis korea hukumnya tidak sampai kafir. Karena apa? Ya karena artis Korea dicintai bukan karena agamanya, tapi karena kulitnya mulus putih kayak terigu.
Wallahua’lam.
Sebuah Catatan  Agung Wicaksono