Konsep Ahlussunah wal Jamaah dalam Harlah NU 94

Blitar –  Gerakan Pemuda (GP) Ansor dan Fatayat Nahdlatul Ulama (NU) Sananwetan Kota Blitar, Jawa Timur, bersinergi untuk menggelar Harlah NU ke 94.
Kerjasama keduanya diwujudkan dalam diba’an dan pengajian rutin. Diungkap oleh alumnus Universitas Al Azhar Mesir, Ustadz H. M. Abd Rouf, Lc., Grad.Dip, MA di Masjid Hidayatullah Kota Blitar. Ahad (8/3/2020)
Ust Rouf menjelaskan, siapa itu Ahlussunah wal Jamaah? Secara sekilas, pertanyaan ini mungkin amat mudah dijawab. Apalagi bagi warga Nahdliyin—yang setiap hari secara doktrinal mengikuti dan mengamalkan tradisi Aswaja (an-Nadhliyah)—pasti akan menjawab dengan tegas: “NU”.
Apakah memang benar demikian?! Apabila iya, apa landasan normatif; filosofinya sehingga bisa mengatakan atau mengklaim bahwa yang disebut Aswaja itu adalah NU?! Lantas, apakah memang Aswaja itu hanya NU saja, sementara yang selain NU tidak termasuk golongan Aswaja? Dan apabila bukan Aswaja, pastinya kelak akan masuk neraka, sebagaimana nash yang tertera dalam hadits yang mayshur mengenai perpecahan umat itu.
“Apalagi saat ini, banyak sekali muncul varian Islam, dengan beragam latarbelakang dan gerakan ideologinya, mulai dari yang kalem, moderat, hingga yang garang sekalipun, semuanya mengklaim diri sebagai penganut resmi paham Aswaja.” Ucap koordinator Kiswah Aswaja NU Center Kota Blitar ini.
Lebih lanjut Ust Rouf menjelaskan, bila ditelusuri, muasal klaim ini sebenarnya bersumber dari perbedaan masing-masing golongan dalam menginterpretasikan konsep Aswaja.
Ragam pemahaman ini, bila tidak didasari dengan semangat pemikiran yang jernih dan wawasan khazanah keislaman yang kuat, tentu akan mengantarkan pada pertentangan, perpecahan, dan perseteruan di kalangan umat Islam.
Tentu saja sangat bertolak belakang dengan semangat awal yang diusung oleh ajaran Aswaja, yaitu sebagai perekat umat dan pencipta perdamaian baik itu pada tingkat regional maupun internasional (as-salam al-iqlimi wal ‘alami).
“Oleh sebab itu, menjernihkan ulang konsep Aswaja sebagaimana pada makna asal nya—seperti yang dikukuhi oleh para ulama penyangga peradaban Islam—pada saat ini menjadi sebuah kemestian. Sebab, diakui atau tidak, membincangkan perihal ini, sejatinya sama saja kita tengah membincangkan kepribadian dan identitas umat Islam, filosofi hubungannya dengan golongan lain, dan perannya dalam menciptakan iklim dunia yang toleran dan damai.” tuturnya lembut.
Lebih lanjut, pembahasan Ahlussunnah wal jama’ah, mengantarkan pada pengetahuan yang benar (berdasarkan pada konsensus para ulama) mengenai siapa itu golongan yang layak disebut Aswaja.
Berikut ini 5 perbedaan Aswaja secara umum dengan Aswaja An-Nahdliyah, dan golongan-golongan lain yang mengaku sebagai Aswaja, berhasil dihimpun redaksi kala itu.
Pertama, Aswaja NU dengan yang lain sama-sama menyatakan ummatan wasathan (umat moderat).
Kedua, Aswaja NU punya manhaj (cara) atau metodologi yang jelas. Pada saat ini, Ahlussunnah wal Jama’ah dikenal dengan sebutan Asy’ariyyah (para pengikut Imam Abul Hasan al-Asy’ari) dan Maturidiyyah (para pengikut Imam Abu Manshur al-Maturidi)
Ketiga, tidak mudah mengafirkan seorang muslim dengan sebab dosa besar yang ia lakukan.
Sementara yang keempat, lanjut dia, adalah meyakini bahwa Nabi Muhammad adalah Nabi dan Rasul yang terakhir. Dan mengagungkan para sahabat Nabi secara keseluruhan, lebih-lebih khulafaur Rasyidin.
Kelima, Aswaja NU merupakan kelompok mayoritas.
Di samping itu, golongan yang beraswaja tersebut sudah digambarkan oleh Nabi Muhammad SAW, yaitu kelompok yang diistimewakan dengan memperoleh balasan surga di antara kelompok-kelompok yang lain.
“Rasulullah mengabarkan kepada kita bahwa umatnya akan terpecah belah menjadi 73 golongan. Sebanyak 72 di antaranya berhak masuk neraka, dan satu golongan akan masuk ke dalam surga, yang kemudian dikenal sebagai Ahlussunnah wal Jama’ah,” pungkasnya tegas.

No comments yet.

Leave a comment

Your email address will not be published.