Simfoni Keragaman Budaya Warga Surabaya

Kemajuan teknologi dan informasi tidak hanya berdampak positif, tetapi memiliki dampak negatif terutama menyangkut sikap intoleransi dan radikalisme mengarah pada terorisme. Generasi milenial harus terus diberikan pendidikan karakter untuk membentengi diri dari serangan hal-hal negatif tersebut. Derasnya arus informasi di media sosial juga membuat generasi milenial kelimpungan dalam memilah informasi, sehingga informasi yang berseliweran dikhawatirkan bermuatan paham radikal.
Car Free Day Surabaya adalah tempat yang pas untuk menikmati long weekend. Jika beruntung, kita bisa melihat parade multi kultural yang memikat. Kegiatan ini bebas kendaraan, diharapkan tidak hanya mampu mengurangi emisi karbon, tetapi juga menimbulkan interaksi sosial seperti munculnya komunitas bersepeda yang bisa menciptakan budaya bersepeda, serta untuk memberi ruang berbagai komunitas untuk mengekspresikan keahliannya.
Berikut merupakan paparan temuan survei tim Simfoni Digital (SD) mengenai isu intoleransi dan radikalisme saat mengikuti Car Free Day di pelataran Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya, Ahad (8/9)
Salah satu warga yang terbiasa ikut car free day, Tasya (21) mengatakan,”kita sebagai kaum milenial harus bisa memilih teman, antara yang radikal dengan yang tidak radikal. Agar bisa menangkal radikalisme,” katanya lembut.
Disisi lain salah satu security car free day, bapak Waris (42) mengungkapkan,” Kalau ada ajaran agama yang bertentangan dengan nasionalisme maka saya akan menolaknya, karena itu hanya akan menyebabkan keresahan dan kerusakan”, ujarnya.
Ia menambahkan bahwa “Sebagaimana Timur Tengah, mereka kebanyakan bersikap intoleransi terhadap perbedaan. Akibatnya banyak kelompok yang mengkafirkan kelompok lainnya. Hingga timbullah perpecahan dan peperangan sampai sekarang.”
“Kita sebagai warga negara Indonesia sudah seharusnya berdakwah multikultural, yang harus bersifat sejuk dan mendamaikan.” tambah bapak yang mengaku alumni pondok pesantren di Tulungagung ini.
Disaat yang sama, tim SD juga menemukan kenyataan bahwa Indonesia itu membutuhkan Islam yang toleran, Islam yang ramah, dan Islam yang menyejukkan ummat. Hal ini dapat dilihat pada acara car free day, banyaknya keanekaragaman budaya yang dapat dinikmati semua orang. Masyarakat dapat mengikuti car free day dengan aman dan tentram sebab toleran terhadap perbedaan.
Salah satu pedagang kaki lima, bapak Mulyono (47) mengutarakan,” Disekitar Masjid ini hampir tidak ada sikap intoleran. Semua orang bebas mengekspresikan keinginannya tetapi tetap mengikuti norma yang berlaku. Disini, untuk wanita bercadar jarang , tetapi kalau orang yang memakai attribut khilafah ada. Walaupun jumlahnya sedikit,” tuturnya sesekali melayani pembeli.
Dalam paparan temuan survei tersebut, salah satu tim SD, Arif Hermawan mengaku optimistis dengan efektivitas kearifan lokal dalam menangkal paham radikal di era milenial. Ia mengatakan saat ini Tim SD berupaya dalam mencegah menyebarnya paham radikal, yakni dengan memperbanyak pesan positif dan antiradikal.