SHALAT TARAWIH (Risalah Ramadhan 3)

A. Ketentuan Shalat Tarawih
Shalat Tarawih merupakan shalat sunnat yang sangat dianjurkan untuk mengamalkannya dengan secara berjama’ah . Hukumnya sunnat muakad, melakukannya tiap dua raka’at salam . Perhatikan Hadits Nabi berikut:

اَنَّهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ مِنْ جَوْفِ الَّيْلِ لَيَالِيَ مِنْ رَمَضَاَنَ, وَهِيَ ثَلاَثٌ مُتَفَرِّقَةٌ لَيْلَةُ الثَّالِثِ وَالْخَامِسِ وَالسَّابِعِ وَالْعِشْرِيْنَ, وَصَلَّى فِى الْمَسْجِدِ وَصَلَّى النَّاسُ بِصَلاَتِهِ فِيْهَا, وَكَانَا يُصَلِّى بِهِمْ ثَمَانَ رَكَعَاةٍ وَيُكَمِّلُوْنَ بَقِيَهَا فِيْ بُيُوْتِهِمْ فَكَانَ يُسْمَعُ لَهُمْ اَزِيْزٌ كَاَزِيْزِ النَّحْلِ (رواه البخاري)

Bahwasanya Rasulullah SAW keluar waktu tengah malam malam bulan Ramadhan yangberbeda, yaitu malam 23, 25 dan 27. Beliau mengerjakan shalat di Masjid dan para sahabat mengerjakan shalat bersama-sama beliau sebanyak 8 rakaat. Lalu mereka sempurnakan sisanya di rumah mereka masing-masing, seakan –akan pada waktu itu terdengar oleh mereka suara gemuruh bagaikan gemuruhnya lebah. (HR. Bukhari)
Imam Malik juga meriwayatkan     dalam kitabnya Al Muwatha’ sebagai berikut:

كَانَ النَّاسُ يَقُمُوْنَ فِى زَمَنِ عُمَرَ ابْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ بِثَلاَثَةٍ وَعِشْرِيْنَ رَكْعَةً .

“Orang-orang pada jaman Umar Bin Khothob melakukan shalat Tarawih 23 rakaat”.
Dalam riwayat lain juga disebutkan :

اِنَّهُمْ يَقُوْمُوْنَ عَلَى عَهْدِى عُمَرَ ابْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ فِى شَهْرِ رَمَضَانَ بِعِشْرِيْنَ رَكْعَةً (رواه البيهقى)

Artinya:Bahwa sesungguhnya para sahabat pada masa Umar Bin Khathab pada bulan Ramadhan melakukan shalat tarowih 20 raka’at (HR. Baihaqi)
 Melihat kandungan hadits diatas, maka dapat kita pahami bahwa sebenarnya tidak ada hadits yang menerangkan secara tegas tentang jumlah raka’at shalat tarowih. Nabi SAW. Melakukan 8 raka’at dimasjid kemudian para sahabat pulang danmmenyempurnakan shalatnya masing-masing sehingga perumahan mereka terdengar gemuruh (suara orang shalat) bagai suara lebah. Lalu berapa raka’at mereka menyempurnakan shalatnya maka disinilah terjadi permasalahannya.
Untuk menjawab permasalahan tersebut, maka kita kembali pada penegasan sahabat ‘Umar Bin Khathab yang melakukan shalat tarowih 20 raka’at yang diikuti oleh para sahabat dan tidak ada seorangpun diantara mereka yang menyanggah pelaksanaan shalat tarowih tersebut. Sedangkan Nabi sendiri menyuruh kita mengikuti jejak Abu Bakar As Shidiq dan ‘Umar Bin Khathab RA, sebagaimana sabda Beliau :

اِقْتَدُوْا بِالّلَذَيْنِ مِنْ بَعْدِى اَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ (رواه احمد والترمذى وابن ماجه)

Artinya:       Sepeninggalku, ikutilah dua orang ini, Abu Bakar dan ‘Umar (HR. Ahmad dan Tirmidzi dan Ibnu Majah)
Memang ada Hadits riwayat Dewi ‘Aisyah yang menunjukkan bahwa Nabi melakukan shalat tidak lebih dari 11 roka’at. Hadits tersebut adalah ;

قَالَتْ مَاكَانَ يَزِيْدُ فِى رَمَضَانَ وَلاَ فِى غَيْرِهِ عَلَى اِحْدَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً

‘Aisyah berkata : Nabi tak pernah hingga melebihi 11 roka’at baik dalam bulan ramadhan maupun diluar ramadhan (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits riwayat ‘Aisyah tersebut diatas adalah hadits tentang shalat witir, sebab dari hadits tersebut dapat kita pahami, bahwa shalat yang dilakukan pada bulan ramadhan dan diluar bulan ramadhan tentulah bukan shalat tarowih. Karena itu yang dimaksud hadits diatas adalah shalat witir yang jumlah raka’atnya paling banyak 11 raka’at. Disamping itu Imam Bukhari menempatkan hadits tersebut dalam bab shalat witir dan bukan dalam bab shalat tarowih.
Adapun shalat tarowih dilakukan 2 raka’at 1 salam karena shalat tarowih termasuk shalat malam (shalatul lail) sebagaimana hadits Nabi berikut :

صَلاَةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى (رواه البخارى ومسلم)

Artinya :Shalat sunnat dimalam hari adalah dua-dua (HR. Bukhari dan Muslim)
B. Fadlilah Shalat Tarowih.
Utsman Al Khaibawy dalam kitabnya “Durratun Nasihin” menerangkan, bahwa ada hadits Nabi yang menegaskan tentang fadlilah (keutamaan) shalat tarowih, mulai malam pertama hingga malam ketiga puluh sebagai berikut :
  1. Pada malam pertama , orang mu’min terlepas dari dosanya, bersih seperti ia dilahirkan dari kandungan ibunya.
  2. Pada malam kedua, dia diampuni dosanya dan juga kedua orang tuanya apabila keduanya orangmu’min juga.
  3. Pada malam ketiga ada salah satu Malaikat memanggil dari bawah ‘Arsy : Bersungguh-sungguhlah dalam beramal, maka Allah akanmengampuni dosamu yang telah lalu.
  4. Pada malam keempat, baginya ada pahala sebanyak pahala orang yang membaca kitab Taurat, Injil, Zabur dan Fur’an / Qur’an.
  5. Pada malam kelima, Allah memberi pahala padanya seperti pahala orang yang mengerjakan shalat di Masjidil Haram, di Masjid Madinah dan Masjid Aqsha.
  6. Pada malam keenam, Allah memberi pada kepadanya seperti pahala orang yang melakukan Thawaf di Baitul Ma’mur dan semua batu dan tanah liat keras memohonkan ampunan untuknya.
  7. Pada malam ketiujuh, Seakan-akan ia bertemu dengan Nabi Musa AS dan membantunya memerangi Fir’aun dan Haaman.
  8. Pada malam kedelapan, Allah ta’ala akan memberikan sesuatu kepadanya seperti apa-apa yang telah diberikan kepada Nabi Ibrahim
  9. Pada malam kesembilan, Seakan-akan dia telah mengerjakan ibadah seperti ibadanya Nabi Muhammad SAW.
  10. Pada malam kesepuluh, Allah akan memberikan rizki kepadanya berupa kebaikan dunia akhirat.
  11. Pada malam kesebelas, Dia akan keluar dari Dunia (mati) nseperti dia dilahirkan dari kandungan ibunya.
  12. Pada malam kedua belas, Besuk pada hari Kiyamat dia akan datang dengan wajah yang bagus seperti bulan Purnama.
  13. Pada malam ketiga belas, Besuk dia dihari Kiyamat akan selamat dan aman dari segala resiko.
  14. Pada malam keempat belas, Para Malaikat telah datang memberikan kesaksian bahwa dia telah sungguh-sungguh mengerjakan shalat Tarowih, maka Allah tidak akan menghisabnya dihari Kiyamat.
  15. Pada malam kelima belas, Para Malaikat dan para pembawa ‘Arsy dan Kursi memohonkan tambahan kebaikan untuk dia.
  16. Pada malam keenam belas, Allah mencatat dia bebas selamat dari Neraka dan bebas masuk Surga.
  17. Pada malam ketujuh belas: dia diberi pahala sebanyak pahala para Nabi
  18. Pada malam kedelapan belas: salah seorang malaikat memanggil hai hamba Aalah sesungguhnya Allah telah ridho kepadamu dan kepada kedua orang tuamu
  19. Pada malam kesembilan belas: Allah mengangkat derajatnya di Surga Firdaus
  20. Pada malam kedua puluh : dia diberi pahala sebanyak pahala para Syuhada’
  21. Pada malam ke dua puluh satu : Allah akan membuatkan rumah mereka dari cahaya Surga
  22. Pada malam kedua puluh dua: di hari Kiyamat dia akan datang dalam keadan aman dari segala rasa susah dan duka
  23. Pada malam kedua puluh tiga: Allah akan membangunkan baginya kota didalam Surga
  24. Pada malam ke kedua puluh empat: baginya 24 do’a yang dikabulkan
  25. Pada malam ke kedua puluh lima: Allah akan menghapuskan siksa kubur darinya
  26. Pada malam ke kedua puluh enam: Allah akan meningkatkan baginya pahala selama 40 tahun
  27. Pada malam ke kedua puluh tujuh: di hari Kiyamat dia akan melewati jembatan dengan mudah dan cepat laksana kilatan halilitar yang menyambar
  28. Pada malam ke kedua puluh delapan: Allah akan mengangkat seribu derajat baginya didalam Surga
  29. Pada malam ke kedua puluh sembilan: Allah akan memberikan baginya paha seribu pahalanya ibadah hajji yang makbul
  30. Pada malam ketiga puluh: Allah berfirman “Makanlah buah-buah Surga, mandilah dengan air Salsabil, minumlah air dari telaga Kautsar, Aku adalah Tuhanmu dan engkau adalah hambaKu” (Majaalis)
Drs. Qomaruddin AM, pengasuh pondok pesantren Al-Muhsin Kota Blitar dan tenaga pengajar SMK Islam 1 Blitar