PERMASALAHANNYA PUASA RAMADHAN (Risalah Ramadhan 2)

A. Penetapan Awal Puasa Bulan Ramadhan
 Awal Puasa Bulan Ramadhan ditetapkan dengan cara :
  1. Ru’yatul Hilal (melihat tanggal 1 bulan Ramadhan).
    Hal ini didasarkan pada salah satu Hadits Nabi SAW berikut:

صُوْمُوْا لِرُؤْيَتِهِ وَاَفْطِرُوْا ِرُؤْيَتِهِ فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاَكْمِلُوْا عِدَّةَ شَعْبَانَ ثَلاَثِيْنَ يَوْمًا(رواه البخارى)

Puasalah kamu sekalian degan melihat bulan dan berbukalah kamu sekalian dengan melihat bulan (pula). Jika bulan tidak nampak lantaran langit  mendung, maka sempurnakanlah bulan Sya’ban 30 hari (HR. Bukhori)
  1. Hisab
Tanggal satu bulan Ramadhan dan tanggal satu Syawal biasanya umat Islam menunggu pengumuman pemerintah. Akan tetapi jika pengumuman tidak didasari “Ru’yatul Hilal” atau hanya berdasarkan hisab semata, yaitu menetapkan tanggal satu bulan Ramadhan cukup hanya dengan perhitungan berdasarkan ilmu falaq, maka kita boleh tidak mengikutinya.
Hal ini didasarkan pada penjelasan berikut:

لاَيُثْبَتُ رَمَضَانَ كَغَيْرِهِ مِنَ الُّهُوْرِ إِلاَّ بِرُؤْيَةِ الْهِلاَلِ اَوْإِكْمَالِ الْعِدَّةَ ثَلاَثِيْنَ بِلاَ فَارِقٍ .

 Artinya: Bulan Ramadhan sebagaimana bulan-bulan yang lain tidak ditetapkan tanggalnya kecuali dengan melihat hilal atau menyempurnakan hitungan 30 hari     
Al Ibnu Mantsur fi Itsbatisy Syuhur

لَوْ كَانَ اْلإِمَامُ يُرَى الْحِسَابَ فِى الْهِلاَلِ فَأَثْبَتَ بِهِ لَمْ يُتَّبَعْ لإِِجْمَاعِ السَّلَفِ عَلَى خِلاَفِهِ

 Seandainya Imam (pemerintah) mengetahui tanggal dengan hisab, lalu ia menetapkan tanggal dengan hisab tersebut, maka berdasarkan ijma’ ulama’ salaf penetapan tersebut tidak wajib diikuti.
B. Keutamaan Bulan Ramadhan
Dalam beberapa Hadits Nabi SAW ditegaskan sebagi berikut:

عَنِ الْفَارِسِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ :خَطَبَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِى آَخِرِ يَوْمٍ مِنْ شَعْبَاَنَ فَقَالَ اَيُّهَا النَّاسُ قَدْ اَظَلَّكُمْ شَهْرٌ عَظِيْمٌ مُبَارَكٌ فِيْهِ لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ اَلْفِ شَهْرٍ جَعَلَ اللهُ صِيَامَهُ فَرِيْضَةً وَقِيَامَ لَيْلِهِ تَطَوُّعًا مَنْ تَقَرَّبَ فِيْهِ بِخَصْلَةٍ مِنْ خِصَالِ الْخَيْرِ كَانَ كَمَنْ اَدَى الْفَرِيْضَةَ فِيْمَا سِوَاهُ وَهُوَ شَهْرُ الصَّبْرِ وَالصَّبْرُ ثَوَابُهُ الْجَنَّةُ وَهُوَ شَهْرُ الْمُوَاسَاةِ وَهُوَ شَهْرٌ يُزَادُ فِيْهِ رِزْقُ الْمُؤْمِنِ وَهُوَ شَهْرٌ . اَوَّلُهُ رَحْمَةٌ اَوْسَاتُهُ مَغْفِرَةٌ وَآَخِرُهُ عِتْقٌ مِنَ النَّارِ

 Artinya : Sahabat Salman Al Farisi berkata: pada akhir bulan Sya’ban Rasulullah SAW berkhutbah kepada kami: Hai manusia sesungguhnya kalian telah dinaungi bulan yang agung dan penuh berkah didalamnya, adaLailatul Qodar yang lebih baik dari seribu bulan
malam. Allah menjadikan puasa dibulan ini sebagai ibadah wajib dan shalat malam sebagai amalan sunnah. Barang siapa mendekatkan diri kepada Allah dengan salah satu kebaikan dibulan ini bagaikan melakukan amal wajib dibulan lainnya. Ia merupakan bulan kesabaran sedangkan sabar pahalanya adalah surga. Ia bulan tolong menolong, bulan dimana rizki orang mukmin ditambah. Ia bulan yang awalnya Rahmat, pertengahannya penuh ampunan dan akhirnya bebas dari neraka.
 Dalam Hadits lain diterangkan

لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ مَا فِى هَذَا الشَّهْرِ مِنَ الْخَيْرَاتِ لَتَمَنَّتْ اُمَّتِى اَنْ يَكُوْنَ  رَمَضَانُ الشَّنَةَ كُلَّهَا (رواه الطبرانى)

Rasulullah SAW Bersabda : sekiranya orang-orang mngetahui keutamaan yang terdapat didalam bulan Ramadhan niscaya umatKu berangan-angan agar seluruh tahun menjadi Ramadhan (HR. Tabrani)    

 قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلَّى اللهُُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اِذَا دَخَلَ رَمَضَانُ فُتِحـتْ اَبْوَابَ الْجَنَّةِ وَاُغْلِقَتْ اَبْوَابَ جَهَنَّمَ وَصُدِفَتِ الشَّيَاطِيْنُ وَ فُتِحـتْ اَبْوَابُ الرَّحْمَةُ (رواه مسلم)

 Rasulullah SAW Bersabda : Bila bulan Ramadhan telah tiba, maka dibukalah pintu-pintu surga dan ditutuplah pintu-pintu neraka, syetan-syetan dibelenggu serta dibulah pintu-pintu rahmat (HR. Muslim)
Karena itu bagi orang yang beriman tentu akan menyambunt kedatangan bulan Ramadhan dengan gembira, sebailknya bagi orang yang kurang beriman bahkan tidak beriman sama sekali kedatangan bulan Ramadhan akan disambut dengan hati sedih, ini pertanda hatinya kurang bersih.
C. Keutamaan orang yang berpuasa bulan Ramadhan
Sejalan dengan keutamaan bulan Ramadhan, maka Rasulullah SAW juga menerangkan keutamaan orang-orang yang melaksanakan puasa Ramadhan sebagaimana ditegaskan dalam sabda Beliau sebagai berikut :

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ وَعَرَفَ حُدُوْدَهُ وَتَحَفَظَ مَا يَنْبَغِى لَهُ اَنْ يَتَحَفَظَ كَفّلإرَ مَا قَبْلَهُ (رواه ابن حبان)

Artinya: Barang siapa berpuasa bulan Ramadhan dan mengerti aturan-aturannya serta menjaga hal-hal yang semestinya dijaga, maka dihapuslah dosa-dosanya sebelumnya (HR. Ibnu Hibban)

 عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : ٌضالَ رَسُوْلُ اللهِ ص م كُلُّ عَمَلِ اِبْنِى اَدَمَ يُضَاعَفَ الْحَسَنَةُ بِعَشْرِ اَمْثَلِهَا اِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ ٌضالَ اللهُ تَعَالَى اِلاَّ صَوْمَ فَهُوَ لِى وَاَنَا اَجْزِ بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامُهُ مِنْ اَجْلِى .للِصَّآئِمِ فَرْحَتَانِ فَرْحَةٌ عِنْدَ اِفْطَرِهِ وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَآء رَبِّهِ وَلُحُوْفُ فَمِّ الصّآئِمِ اَطْيَبُ عِنْدَ اللهِ مِنْ رِيْحٍ الْمِسْكِ (رواه مسلم)

 Abu Huroiroh RA berkata : Rasulullah SAW bersabda :setiap amal baik manusia dilipat gandakan pahalanya, satu amal baik dilipat gandakan sepuluh sampai tujuh ratus kali. Allah SWT berfirman : kecuali puasa itu untukKu dan Aku sendiri yang akan membalasnya, karena ia telah menahan syahwatnya dan makan semata-mata karena Aku. Bagi orang yang berpuasa memiliki dua kegembiraan, yaitu ketika berbuka dan ketika berjumpa dengan Tuhannya. Sungguhy bau mulut orang yang berpuasa lebih harum disisi Allah dari pada bau minyak wangi (HR. Muslim)
D. Syarat wajib Puasa
  1. Islam
  2. Mukallaf
  3. Mempunyai kemampuan (kuat berpuasa)
E. Syarat shah Puasa
1. Islam
2. Berakal Sehat
3. Suci dari Haidh dan NifasMengerti waktu dibolehkannya berpuasa
F. Rukun Puasa
  1.  Niat puasa pada malam harinya
  2. Menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkan puasa sejak terbit fajar hingga terbenam matahari
G. Hal-hal yang membatalkan Puasa
1. Masuknya barang kerongga tubuh
2. Muntah dengan sengaja
3. Melakukan hubungan suami istri pada siang hari
4. Keluar mani karena syahwat (sengaja)
5. Gila / hilang akal
6. Murtad
H. Sunah-sunah Puasa
1. Segera berbuka bila yakin matahari telah terbenam
2. Berdo’a sebelum berbuka
3. Memberi makanan untuk berbuka kepada orang-orang yang berpuasa
 4. Berbuka dengan kurma atau makanan/ minuman yang manis
 5. Menambah kesungguhan dalam beribadah, seperti sedekah,  membaca Al Qur’an dan lain sebagainya
6.  Mendahulukan mandi junub sebelum terbit fajar
7.  Meninggalkan hal-hal yang kurang berguna, seperti bicara  kotor, menggosip dan lain sebaginya
I. Tingkatan orang yang berpuasa
1. Puasa orang awam, yaitu menahan perut dan kelauan dari menuruti nafsu.
2. Puasa Khusus (istimewa) yaitu puasanya orang-orang shalih, yakni menahan semua anggota tubuh dari pernuatan dosa.
Nabi Muhammad SAW bersabda:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّوْر وّالْعَمَلَ بِهِ وَالْجَهْلَ فَلَيْسَ للهِ حَاجَةٌ
فِى اَنْ يَدَعَ طَعَمَهُ وشَرَابَهُ (رواه البخارى)

 Barang siapa tidak meninggalkan berkata bohong dan melakukan kejahatan, maka Allah tidak akan menerima puasanya meskipun ia telah meninggalkan makan dan minum (HR. Bukhari)

كَمْ مِنْ صَآئِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صَوْمِهِ اِلاَّ الْجُوْعُ وَالْعَطَشُ (رواه ابن حزيمة)

 Artinta: Banyak orang yang berpuasa tidak mendapatkansesuatu kecuali sekedar lapar dan haus (HR. Ibnu Huzaimah)
3. Puasa Khususul Khusus, yaitu menahan hati dari kemauan-kemauan yang rendah dan pemikiran duniawi srta menahan diri dari berfikir selain Allah SWT. Sebab apabila orang berpuasa pada tingkatan ini menganggap batal puasanya jika berfikir selain Allah. Ini adalah tingkatan puasa para Nabi da Shiddiqin.
J. Macam-macam Puasa.
    1. Puasa Wajib. Artinya Puasa yang harus dikerjakan dan mendapat pahala namun jika sampai meninggalka, maka berdosa.
  • Puasa Ramadhan (wajib bagi kaum muslimin laki-laki dan perempuan yang tidak berhalangan untuk berpuasa)
  • Puasa Kifarat (puasa denda yaitu bagi orang yang melanggar ketentuan dalam melaksanakan ibadah Hajji, mencampuri istri pada siang bulan  Ramadhan dll )
  • Puasa Nadzar (dengan catatan nadzar yang baik)
  • Puasa Yamin (sumpah yaitu jika seseorang tidak bisa menepati apa yang pernah disumpahkan)
2. Puasa Sunnah, ada tiga macam kelompok:
  • Kelompok Puasa sunat yang bisa diulang setiap bulan, misalnya:    puasa pada awal dan pertengahan bulan Qomariyah
  • Kelompok Puasa yang bisa diulang setiap Minggu,misalnya: Puasa pada hari Senin dan Kamis.
  • Kelompok Puasa sunat yang diulang setiap tahun, misalnya: Puasa Tarwiyah dan ‘Arofah, Puasa Tasu’a dan ‘Asyro, Puasa 27 hari bulan Rojab, Puasa enam hari pada bulan Syawal.
3. Puasa Makruh, Puasa Dahr (puasa sepanjang masa)
      Puasa Dahr , selain pada dua Hari Raya (Fitrah dan Qurban ) dan hari Tasyri’ diperbolehkan bagi orang yang tidak membahayakan kesehatannya, karena ada riwayat dari Siti ‘Aisyah RA. Bahwa Hamzah bin Amr Al Aslamy RA bertanya kepada Rasulullah SAW:

يَا رَسُوْلَ اللهِ, إِنِّي رَجُلٌ اَسْرَدُ الصَّوْمَ, أَفَأَصُوْمُ فِى السَّفَرِ ؟ فَقَالَ: صُمْ إِنْشِئْتَ فَأَفْطِرْ إِنْشِئْتَ (رواه مسلم)

       Wahai Rasulullah, saya ini seorang laki-laki yang senantiasa (gemar) berpuasa, apakah saya boleh berpuasa meskipun sedang bepergian jauh (musafir) ? Rasulullah menjawab: “Jika kamu ingin berpuasa silahkan, tetapi jika mau berbuka (tidak puasa) silahkan juga”. (HR. Muslim)
4. Puasa Haram (Puasa Wishol yaitu puasa terus menerus tanpa berbuka)
Puasa wishol hukumnya Haram, ya’ni berpuasa dua hari atau lebih tanpa makan atau minum dimalam hari. Hal ini berdasarkan Sabda Nabi Muhammad SAW.

إِيَّاكُمْ وَالْوِصَالُ, قَلُوْا إِنَّكَ تُوَاصِلُ يَا رَسُوْلَ اللهِ, قَالَ: إِنِّي لَسْتُ كَهَيْئَتِكُمْ, إِنِّي اَبِيْتُ عِنْدَ رَبِّي يُطعِمُنِي وَيُسْقِيْنِي (رواه الشيخان)

Hindarilah olehmu puasa wishol,   Hindarilah olehmu puasa wishol. Para sahabat bertanya: Tetapi Engkau sendiri melakukan puasa wishol, wahai Rasulullah? Nabi menjawab: :” Diriku tidak seperti keadaanmu sekalian, aku nermalam-malam disisi Tuhanku. Dia memberi makan dan minum kepadaku.” (HR. Bukhari dan Muslim)
K. Qadla’ Puasa dengan imsak (mencegah makan minum)
      Ada beberapa orang yang tetap harus melaksanakan puasa (tidak makan minum), namu juga wajib mengqadla’
    1. Orang yang sengaja berbuka sebelum waktunya (mokah)
    2. Orang yang tidak berniat pada malam harinya
    3. Orang yang sahur menyangka bahwa waktu sahur masih ada atau masih malam, padahal waktunya telah habis.
    4. Orang yang berbuka sebelum waktunya karena menyangka waktu berbuka telah tiba padahal belum saatnya.
    5. Orang yang nyata mengerti bahwa hari ke 30 di bulan Sya’ban adalah hari pertama puasa Ramadhan (sementara ian belum berbuka)
    6. Orang yang kemasukan air kumur atau air istinsyaq (yaitu air untuk membersihkan hidung) pada saat berwudlu’
L. Qadla’ Puasa dengan membayar Fidyah.
  1. Bagi orang yang terlambat mengqadla’ hutang puasa Ramadhan sampai datang Ramadhan berikutnya padahal sangat memungkinkan untuk mengqadla’nya.
  2. Orang yang berbuka karena khawatir keselamatan jiwa lainnya, seperti seorang ibu yang menyusui anaknya atau sedang hamil  karena khawatir kesehatan anaknya. Contoh lain, berbukanya orang yang menyelamatkan manusia atau barang berharga yang  tenggelam.
M. Orang yang boleh berbuka dan kewajibannya
  1. Orang yang sakit, jika tidak kuat puasa atau jika berpuasa sakitnya bertambah parah, maka ia boleh berbuka dan mengganti puasanya dihari lain
  2. Musafir, maka ia boleh berbuka dan mengganti puasanya dihari lain
  3. Orang yang terlalu tua, ia boleh berbuka tapi harus membayar fidyah sebesar 1 mud = ¾ liter atau 6 ons setiap hari
  4. Orang yang sedang hamil atau menyusui, ia boleh berbuka jika khawatir akan membahayakan anaknya, tetapi harus mengqadla’ puasanya dan membayar fidyah.
  5. Orang yang meninggal dunia dan masih mempunyai tanggungan puasa Ramadhan, maka bagi walinya tidak wajib mengqadla’ atau membayarkan fidyah jika pada saat ia hidup tidak ada kesempatan mengqadla’nya. Akan tetapi jika si mayat ada kesempatan mengqadla’ namun tidak melaksanakan, maka walinya wajib membayar fidyah atau mengqadla’nya. Hal ini berdasarkan Hadits riwayat ‘Aisyah RA.

مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ صِيَامٌ صَامَ عَنْهُ وَلِيُّهُ (رواه الشيخان)

Barang siapa meninggal dunia dan masih mempunyai hutang puasa, maka walinya boleh berpuasa untuknya” HR. Bukhari dan Muslim)
N. Hikmah Puasa
  1. Sebagai pernyataan syukur kepada Allah SWT atas segala nikmat yang telah dianugerahkan kepada manusia
  2.  Untuk mendidik rasa iman dan keyakinan kepada Allah dan ujian atas kejujurannya.
  3. Menumbuhkan rasa belas kasihan kepada kaum fakir miskin sehingga suka menolong kepadanya
  4. Untuk menjaga kesehatan, sebagaimana Sabda Nabi SAW:

صُوْمُوْا تَصِحُوْا (الحديث)

     Berpuasalah kamu agar sehat / selamat :Al Hadits.
      1. Untuk menenangkan pikiran dan menjernihkan hati: Sabda Nabi :

 مَنْ جَاعَ بَطْنُهُ عَظُمَتْ فِكْرَتُهُ وَفَطَنَ قَلْبُهُ

       Barang siapa yang perutnya lapar, maka pikirannya menjadi besar ( berwawasan luas) dan batinnya menjadi cerdas.
Lukman Al Hakim berpesan kepada putranya:

يَا بُنَيَّ اِذَا امتَلأَتِ الْمَعِدَةُ نَامَتِ الْفِكْرَةُ وَخَرَسَتِ الْحِكْمَةُ وَقَعَدَتِ اْلأَعْضَآءُ عَنِ الْعِبَادَةِ

Wahai anakku, jika perut selalu penuh, maka pikiran (menjadi) mati dan hikmah (kebijaksanaan) akan hilang serta anggota tubuh enggan untuk diajak beribadah.
Drs. Qomaruddin AM, pengasuh pondok pesantren Al-Muhsin Kota Blitar dan tenaga pengajar SMK Islam 1 Blitar