Kebiasaan yang Bikin Ibadah Puasa Tidak Dapat Apa-Apa

Blitar – Bulan Ramadan 2019/1440 H adalah bulan yang penuh rahmat dan berkah. Semua orang berlomba-lomba dalam melaksanakan amal baik di bulan Ramadan ini. Namun, banyak juga orang yang melakukan kebaikan tetapi masih diiringi dengan dosa-dosa kecil maupun dosa besar. Bahkan, tanpa mereka sadari, mereka telah sering melakukan hal tersebut di bulan Ramadan.
Puasa bukan hanya sekedar menahan lapar dan dahaga, melainkan juga menahan hawa nafsu. Selain itu, umat muslim juga dianjurkan untuk melakukan amalan dan perbuatan baik lainnya.
Hal ini disinggung oleh Kyai Imam Syahroni saat mengisi tausiyah agama di Masjid Ussisa Littaqwa, Jum’at (24/5/2019).
“Kita tentu tidak mau kalau sampai  ibadah puasa yang kita lakukan ternyata tidak diterima dan menjadi sebuah amalan yang sia-sia belaka.” ungkapnya.
Dibulan yang pernuh berkah ini, Allah memberikan pahala dan ampunan kepada setiap orang yang melakukan kebaikan. Sayangnya, kebanyakan orang enggan melakukan amal saleh di bulan Ramadan. Sehingga hanya merasa lapar dan haus sepanjang puasa.
“Orang puasa tapi hanya merasa lapar dan haus itu mereka yang puasa tapi masih bermaksiat.  Perbuatan maksiat secara umum jelas merusak pahala puasa. Yang paling sering terjadi dan tidak terasa itu misalnya gibah.” ujarnya.
Meski demikian, puasa orang tersebut tetap sah sebagai penggugur kewajiban. Puasa Ramadan merupakan ibadah wajib bagi setiap muslim.
“Puasanya tetap sah sebagai penggugur kewajiban. Tapi tidak mendapatkan apapun kecuali lapar dan haus.” kata Kyai yang berdomisili di Plosokerep Kota Blitar ini.
Rasulullah SAW bersabda dalam hadis riwayat Al Hakim yang tertulis di kitab Ihya’ ‘Ulumuddin, Imam Ghazali menjelaskan, ada lima hal yang membatalkan pahala puasa, yakni berbohong, mengadu domba, ghibah, sumpah palsu, dan memandang dengan syahwat.
1. Berbohong
Maraknya penyebaran berita palsu (hoaks) disertai ujaran kebencian (hate speech) yang dilakukan oleh kelompok tertentu menjadi perhatian serius dari sejumlah pihak. Hal ini menjadi keprihatinan karena dapat menimbulkan perpecahan antarbangsa.
Menurut kiai muda kelahiran Nganjuk ini, dari sisi hukum Islam, menyebar kebohongan sama dengan berbohong itu sendiri. Sedangkan jelas ajaran Islam maupun agama-agama lain melarang umatnya berlaku bohong.
“Dari sisi hukum Islam, menebar kebohongan adalah berbohong itu sendiri. Kebohongan tidak diperbolehkan dalam agama,” ucapnya tegas
2. Mengadu domba
Saat ini umat Islam dan khususnya warga NU sedang hidup di zaman yang penuh adu domba dan fitnah. Mudahnya antar umat diadu masih menjadi topik pembahasan yang hangat.
“Kita sibuk ribut dengan kelompok lain sedangkan para pengadu melihatnya dengan senang. Hal semacam inilah yang patut kita pikirkan. Jangan mau menjadi jangkrik aduan,” tuturnya
“Dulu orang bertengkar paling-paling hanya diketahui antara tetangga saja, tapi sekarang ini sedunia bisa tahu permasalahan mereka. Karena dilempar ke media sosial,” tambahnya.
Kyai Sahroni menambahkan, provokasi itu bahkan semakin mudah terjadi jika menyangkut persoalan agama. Hal itu karena sekarang ini banyak yang melihat agama sebagai sebuah identitas saja.
Itu yang memicu konflik. Orang tidak melihat yang benar atau salah dari isinya tapi karena kedekatan dengan golongannya. “Padahal sudah seharusnya bisa dipilah kalau memang salah ya salah. Jangan asalkan karena satu kelompok membuat kita membabi buta dalam membela,” ujarnya.
Kyai Sahroni pun mengajak jika melihat orang yang salah harus di nasehati dengan baik dan tidak diolok-olok. Bahkan nabi pun tak pernah mengolok-olok di depan orang banyak. Karena olok-olok hanya membuat orang sakit hati.
3. Ghibah
Ghibah dan buruk sangka bisa diucapkan secara lisan, tetapi bisa juga disimpan di dalam hati. Kita bisa saja menggunjing orang lain di dalam hati. Kita bercakap-cakap dengan diri kita perihal kekurangan orang lain.
“Lihat kebaikan orang lain, bukan diri sendiri; dan lihat kejelekan diri sendiri bukan orang lain,” ungkapnya.
4. Sumpah palsu
Dengan maksud meyakinkan lawan bicara, kadang kita temukan seseorang tak segan mengeluarkan pernyataan yang disertai sumpah. Bahkan sebagian orang mungkin menjadikannya sebagai bagian dari kebiasaan dalam berbicara.
Perlu diketahui, terlalu sering bersumpah dan berjanji adalah sesuatu yang tidak baik, meski kita adalah seorang yang jujur dan selalu menepati janji.
“Janganlah sering bersumpah meskipun anda benar,” tuturnya.
5. Memandang dengan syahwat.
Dalam kasus ini harus dilihat terlebih dahulu, jika kebiasasan orang tersebut ketika memandang atau memperhatikan perempuan menjadi terangsang sampai mengeluarkan mani, maka hal itu membatalkan puasa. Tetapi jika tidak mengeluarkan mani, maka tidak membatalkan puasa. Tapi mengurangi pahala puasa.
Reporter: Choiriyah
Editor: Abd Umar