94 NU dan Tantangan Era Teknologi

Nahdlatul Ulama tidak selalu diidentikkan dengan kumpulan orang-orang tua. Namun, organisasi keagamaan berbasis sosial-kemasyarakatan ini juga mempunyai anggota dan kader-kader muda berkapasitas tinggi, baik dalam bidang ilmu agama, memahami kitab kuning, dan mengadaptasi perkembangan teknologi.
Di harah ke 94 tahun ini, NU telah berhasil membuktikan keberhasilannya menjawab tantangan zaman yang berbeda. Tak hanya itu, NU juga berhasil dengan baik memberi kontribusi positif pada masalah kebangsaan. NU hampir tidak pernah absen dalam mencarikan jalan keluar bagi masalah kebangsaan dalam forum-forum bahtsul masail NU mulai dari level pesantren, pertemuan lintas pesantren, hingga Munas-Konbes dan Muktamar NU.
Keseriusan NU terhadap masalah kebangsaan ini membuat NU memiliki reputasi yang tinggi di hadapan masyarakat, pemerintah Indonesia, hingga dari masyarakat Internasional. Akan tetapi NU tentu bukan tidak memiliki tantangan yang perlu dijawab untuk semakin memaksimalkan perannya di masa yang akan datang. Salah satunya adalah tantangan teknologi.
Percepatan perkembangan teknologi memberi manfaat, tetapi sekaligus dapat menjadi bencana jika tidak dapat memanfaatkannya dengan baik. Banyak lembaga atau perusahaan besar yang memimpin pada era tertentu, tetapi kemudian tenggelam ketika mereka tidak mampu menyesuaikan diri dengan zaman baru. Organisasi Islam yang paling maju di era kolonial, Orde Lama, dan Orde Baru berbeda-beda, silih berganti. Bahkan ada di antaranya sudah bubar.
Dalam konteks menghadapi berbagai perubahan zaman ini, NU selalu mampu menyesuaikan diri dengan baik. Salah satu karakter NU adalah fleksibilitas atau kemampuan menyesuaikan diri dengan berbagai zaman. Tentu saja, ini menjadi modal besar bahwa NU akan mampu menyesuaikan diri dengan zaman yang akan datang dengan berbagai cirinya.
Sekalipun demikian, kita harus mampu menyiapkan diri dengan era teknologi ini sehingga bukan hanya menjadi konsumen atau sekadar eksis saja, tetapi harus mampu menjadi pemimpin dan menentukan arah perkembangan Islam di Indonesia. Dan untuk itu, modal yang diperlukan adalah kualitas sumber daya manusia. Dalam hal ini, kreativitas dan inovasi serta kolaborasi adalah kunci keberhasilan pada era yang dikenal dengan industri 4.0. Ini berbeda dengan kebutuhan sukses di zaman revolusi industri 2.0 yang menyaratkan adanya efisiensi dan efektifitas.
Pada aspek kolaborasi, NU adalah sebuah komunitas yang erat. Jaringan aktivis NU ada di berbagai tempat yang satu sama lain saling terhubung. Mereka disatukan oleh cita-cita bersama untuk menjadikan Indonesia sebagai tempat dengan ajaran Islam yang ramah di bawah ajaran Ahlusunnah wal Jamaah
Persoalan yang dihadapi NU juga bukan sekedar sumber daya manusia, tetapi komposisi keahliannya. Selama ini, keahlian yang dimiliki oleh kader-kader NU adalah bidang ilmu-ilmu agama dan sosial humaniora. Sedangkan era teknologi membutuhkan orang-orang yang kompeten dalam bidang sains. Dengan demikian, perlu dilakukan perencanaan yang baik agar menghasilkan komposisi yang ideal.
Era teknologi terdapat penguasa-penguasa baru, yaitu mereka yang menguasai teknologi. Para pencipta aplikasi yang disukai oleh warganet, para ustadz yang ceramahnya di media sosial banyak diunduh dan ditonton. Orang-orang berpengaruh di media sosial yang akunnya diikuti oleh jutaan orang, sesungguhnya merupakan individu-individu atau sekelompok kecil yang memiliki pengaruh besar kepada publik. Ini semua adalah soal kreativitas dan inovasi. Kita yakin bahwa NU akan tetap mampu memberi peran besar pada era teknologi ini.
Ada banyak sekali sumber daya manusia kreatif dan inovatif yang bergerak, baik atas nama pribadi atau organisasi NU yang menyebarkan nilai-nilai NU. Bagaimana menciptakan lahan subur tumbuhnya tradisi berteknologi. Memberi ruang bakat-bakat yang ada untuk tumbuh dan berkembang guna memberi kontribusi kepada dunia.
Sumber: www.nu.or.id

No comments yet.

Leave a comment

Your email address will not be published.