KH. Sukamto Ingatkan Muslim Kota Blitar akan Bahaya Wahabi

Blitar – Umat Islam Indonesia harus belajar dari situasi yang terjadi di Timur Tengah. Jangan sampai kondisi damai yang ada di negara ini justru rusak karena hadirnya ajaran menyimpang, terutama dari kelompok Wahabi.
Peringatan ini disampaikan KH Sukamto Abdul Hamid saat mengisi Safari Ramadhan ke-5 PCNU di Mushola Al-Hidayah Sukorejo Kota Blitar, Sabtu (11/5).
“Nahdlatul Ulama didirikan untuk menghadang kaum wahabi yang pahamnya menghilangkan tradisi – tradisi ahlus sunnah wal jama’ah. Seperti  sholawatan, ziarah kubur, manaqib, tahlilan dan lain sebagianya,” katanya.
KH Sukamto menjelaskan, Islam menyebar di negeri ini tanpa kekerasan apalagi pertumpahan darah. “Islam datang ke Indonesia lewat perdagangan. Dan karena akhlak pembawanya akhirnya menimbulkan simpati sehingga masyarakat berbondong-bondong memeluk Islam,” ungkapnya.
Wakil Rois Syuriyah PCNU Kota Blitar ini kembali mengingatkan jangan sampai di negeri ini terjadi pertumpahan darah lantaran kemunculan aliran yang gemar mengafirkan antar kelompok seperti yang dilakukan Wahabi. Oleh karena itu, KH Sukamto mengingatkan masyarakat Blitar untuk menjaga diri agar tidak mudah terpengaruh golongan Wahabi yang bertentangan dengan Aswaja. “Kita harus selalu mengingatkan akan bahaya mereka (Wahabi),” katanya dengan suara lantang.
“Jaga Blitar dari pengaruh ajaran yang menyimpang dari Ahlussunnah wal Jamaah. Kita jaga teguh ajaran yang penuh keteduhan ini jangan sampai diganggu dengan aliran ekstrim,” katanya.
Sebagai bukti, KH Sukamto memaparkan bahwa dalam sejarahnya mereka mengaku dirinya sebagai Salafi atau pengikut ulama salaf. “Tapi pengakuan itu adalah dusta,” sergahnya. Karena dalam perjalanannya, ketika kelompok ini menguasai sebuah negara dan akan menyatukan dalam sebuah barisan, padahal yang dilakukan adalah mengakafirkan bahkan membunuh kelompok muslim lain.
Menurutnya, “Khithoh NU sudah muncul sebelum kemerdekaan, tetapi ternyata dihalangi oleh orang NU sendiri. Misalnya NU tidak boleh berpolitik,” ucapnya.
Sebesar apapun kekuatan NU saat itu apabila tidak bekerjasama dengan Jepang maka tidak akan bisa mengalahkan kaum penjajah.
Maka dari itu KH. Hasyim Asy’ari mengajak kerjasama dengan Jepang. Supaya bersedia mendidik orang-orang pribumi di daerah-daerah. Dari Semarang sampai Kediri. “Sampai sekarang gubug latihan yang digunakan pejuang-pejuang NU pada zaman penjajahan masih ada, yaitu di daerah Ringinagung Pare Kediri,” pungkasnya.
Siasat-siasat seperti itu hanya muncul dari pendiri-pendiri NU mulai zaman dulu sampai sekarang. Sehingga NU selamat hingga sekarang. Oleh karena itu di NU ada istilah sami’na wa atho’na yang artinya mandengar dan mengikuti dawuh-dawuh para ulama’ dan kyai yang benar-benar membela NU.
NU artinya kebangkitan Ulama’. Kalau ada orang NU yang bicara nya mengolok-olok dan menghina NU, maka perlu dipertanyakan ke NU an nya. “NU masih tetap seperti dulu, kitab-kitabnya juga sama, mulai zamannya mbah Hasyim sampai dengan Kyai Sa’id Agil Shiroj sekarang ini,” tuturnya.
Lebih lanjut Ketua PCNU Kota Blitar Dr. Habib Bawafi menegaskan,” NU melestarikan ajaran ahlus sunah wal jama’ah. NU adalah jama’ah resmi yang diakui dan mendapat perlindungan dari pemerintah. NU berazaskan Pancasila dan UUD 1945,” tegasnya.
Reporter: Susiyah
Editor: Abd Umar