Keislaman

Beragama yang Sederhana di Era Dakwah Digital: Merespon Tulisan Ulil Abshar Abdalla

Oleh Mamang M Haerudin (Aa) Kemarin. Selasa, 23 Juni 2020, Ulil Abshar Abdalla (Gus Ulil) menurunkan tulisan ringan berjudul: Perlunya Beragama yang “Ngintelek.” Saya merasa tulisan ini paling mewakili mengapa kemudian dakwah akar rumput dan dakwah digital kita “kalah saing” dan tertinggal jauh sekali. Pengajian online atau Ngaji Ihya ala Gus Ulil mau tidak mau telah menjadi rujukan utama dakwah digital kita. Harus saya akui, selain alim, Gus Ulil punya kemampuan public speaking yang menyihir. Hanya saja kemampuan sihirnya hanya menjangkau

Menuju New Normal, Aswaja NU Center Terbitkan Sikap

Blitar – New normal merupakan skenario untuk mempercepat penanganan COVID-19 dalam aspek kesehatan dan sosial-ekonomi. Pemerintah telah mengumumkan rencana untuk mengimplementasikan skenario new normal dengan mempertimbangkan studi epidemiologis dan kesiapan regional. Mengutip akun twitter Presiden Joko Widodo, @jokowi mengatakan, hidup berdampingan harus dilakukan karena virus ini tak akan segera menghilang dan tetap ada di tengah masyarakat. Berdampingan, menurut Jokowi, bukan berarti masyarakat harus menyerah. “Tapi menyesuaikan diri,” cuitnya. Hidup berdampingan di tengah-tengah virus yang belum ditemukan vaksinnya memang  menjadi tantangan baru. Masyarakat harus

Haul Bung Karno Ke 50, PCNU Kota Blitar Gelar Tahlil Akbar Live Youtube

Blitar – Peringatan Haul Bung Karno di Kota Blitar berlangsung teramat sederhana. Jika biasanya berlangsung dengan meriah disertai rangkaian kegiatan akbar, kali ini pelaksanaannya dilakukan begitu sederhana. Pengurus Cabang (PCNU) Kota Blitar menggelar Tahlil Akbar live youtube online menyambut Haul Bung Karno ke 50 di kantor PCNU Kota Blitar. Sabtu, (20/06/2020) Masyarakat Kota Blitar, termasuk warga Nahdliyin, setiap tanggal 1 Juni selalu memperingati sebagai Hari Lahir Pancasila. Memperingati pada tanggal 1 Juni 1945, Ir. Soekarno berpidato mengenai konsep dan rumusan awal

Waspadai Kejahatan Wahabi : Mengubah Kitab Klasik Rujukan Aswaja

“Jangan sembarangan beli kitab klasik. Kini sejumlah kitab yang telah menjadi bacaan keluarga ahlussunnah wal jamaah sudah diacak-acak kelompok Wahabi. Terbaru muncul buku putih Ihya Ulumuddin (Imam Ghazali). Buku ini diacak-acak sesuai paham Wahabi.” KEJAHATAN kelompok Wahabi sudah kelewatan. Setelah gagal ‘memasarkan’ pahamnya lewat diskusi, debat, taushiyah, kini modus mengubah isi kitab-kitab klasik yang menjadi rujukan Aswaja (ahlussunnah wal jamaah) semakin masif dilakukan. Lihatlah, bagaimana mereka dengan seenaknya mengacak-acak isi kitab Ihya Ulumuddin karya ulama besar Imam Ghazali. Kelompok Wahabi membuat ‘buku

NU – PKI SETERU ABADI

Oleh Ayik Heriansyah, Pengurus LD PWNU Jabar 1. PKI dan NU seteru abadi baik secara agama maupun politik. PKI anti agama, NU sangat agamis. PKI ingin membentuk negara komunis, NU mempertahankan NKRI yang berdasarkan Pancasila dan UUD 45. 2. Perseteruan NU dan PKI berujung pada bentrok fisik. Sejak pra pemberontakan PKI di Madiun 1948 sampai pra G 30 S 1965 benturan-benturan fisik terus terjadi. Benturan-benturan fisik ini tercatat di buku putih yang diterbitkan oleh PBNU dengan judul BENTURAN NU VS PKI. 3. Pada

Sikap PBNU Terhadap RUU HIP PERKUAT PANCASILA SEBAGAI KONSENSUS KEBANGSAAN

بسم الله الرحمن الرحيم Setelah melakukan pengkajian mendalam terhadap Naskah Akademik, rumusan draft RUU Haluan Ideologi Pancasila (HIP) dan Catatan Rapat Badan Legislasi DPR RI Dalam Pengambilan Keputusan atas Penyusunan RUU HIP tanggal 22 April 2020, serta mencermati dengan seksama dinamika yang berkembang di masyarakat, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) perlu menyampaikan hal-hal sebagai berikut: 1. Bahwa segala ikhtiar untuk mengawal, melestarikan, dan mempertahankan Pancasila sebagai falsafah bangsa, dasar negara, dan konsensus nasional patut didukung dan diapresiasi di tengah ancaman ideologi transnasionalisme

Santri nderek kyai

Siapa yang mau mengurus NU aku anggap santriku dan siapa yang menjadi santriku  aku doakan khusnul khotimah beserta anak cucunya (KH . Hasyim Asy’ari)