Blitar, 24 Januari 2026 — Gelombang doa dan harapan membanjiri Stadion Gelora Supriadi Kota Blitar. Sejak pagi hari, puluhan ribu kaum Nahdliyin dari Kota dan Kabupaten Blitar berbondong-bondong menghadiri Istighotsah Kubro, sebuah ikhtiar spiritual akbar demi keselamatan bangsa dan negara di tengah berbagai tantangan zaman.
Memasuki awal tahun 2026, kondisi berbangsa dan bernegara dihadapkan pada persoalan multidimensi—mulai dari tekanan ekonomi, dinamika politik, persoalan sosial, hingga bencana alam yang datang silih berganti. Situasi tersebut menggugah kesadaran kolektif umat untuk kembali mengetuk pintu langit, memohon pertolongan dan perlindungan Allah SWT bagi Indonesia.
Sejak pukul 07.00 WIB, area stadion telah dipenuhi lautan jamaah. Suasana terasa khidmat, penuh ketundukan dan kekhusyukan. Doa bersama dimulai sekitar pukul 08.30 WIB, dipimpin oleh sembilan kiai sepuh kharismatik dari Kota dan Kabupaten Blitar yang dikenal sebagai tokoh sentral Nahdlatul Ulama.
Istighotsah berlangsung dalam suasana haru, tertib, dan sakral. Lantunan dzikir dan munajat mengalun, menyatu dengan semangat spiritual ribuan jamaah yang berharap akan rahmat, perlindungan, serta keberkahan bagi negeri tercinta.
Acara ini turut dihadiri Bupati Blitar Rijanto dan Wali Kota Blitar Syauqul Muhibin, yang akrab disapa Mas Ibin. Kehadiran kedua pemimpin daerah tersebut menjadi simbol sinergi kuat antara ulama dan umara dalam menjaga stabilitas, persatuan, dan keutuhan bangsa.
Dalam sambutannya, Mas Ibin mengulas sejarah panjang perjuangan kaum Nahdliyin sebelum dan sesudah kemerdekaan Republik Indonesia. Ia menegaskan bahwa Nahdlatul Ulama memiliki kontribusi besar dalam menjaga dan mempertahankan NKRI, mulai dari perintisan kemerdekaan, Resolusi Jihad, hingga peran aktif melawan berbagai ancaman ideologi yang dapat merusak persatuan nasional.
“Dengan spirit hubbul wathan minal iman, NU menempatkan cinta tanah air sebagai bagian dari iman. Namun besarnya jamaah NU tidak menjadikan warganya sombong. Loyalitas NU terhadap NKRI tidak perlu diragukan. NKRI harga mati,” tegas Mas Ibin disambut takbir jamaah.
Tausiyah para kiai sepuh kembali menegaskan bahwa NU bukan hanya pilar keagamaan, tetapi juga benteng moral, sosial, dan kebangsaan. NU hadir sebagai penjaga keseimbangan antara iman, nasionalisme, dan kemanusiaan, serta sebagai perekat harmoni di tengah keberagaman.
Istighotsah ini dihadiri oleh keluarga besar tokoh NU Kota dan Kabupaten Blitar, jajaran Muslimat NU, Fatayat NU, serta ribuan santri dan santriwati. Momentum ini memperlihatkan kuatnya jaringan spiritual dan sosial Nahdliyin yang terus hidup lintas generasi.
Ketua Panitia, H. Hartono, dalam sambutannya menggunakan bahasa khas Mataraman yang membumi dan penuh makna. Ia menegaskan bahwa istighotsah ini merupakan doa tolak balak sebagai ikhtiar lahir dan batin demi keselamatan masyarakat Blitar dan bangsa Indonesia.
“Intinya istighotsah ini adalah tombo teko loro lungo — obat agar bala dan musibah menjauh,” tuturnya.
Secara normatif, kegiatan istighotsah ini mencerminkan peran strategis ulama dan umat dalam menjaga harmoni sosial dan spiritual di tengah tantangan zaman. Doa bersama bukan sekadar ritual keagamaan, tetapi juga menjadi ruang penguatan solidaritas kebangsaan, peneguhan nilai persatuan, serta pengingat bahwa kekuatan bangsa tidak hanya bertumpu pada aspek material dan kebijakan, tetapi juga pada kekuatan moral dan spiritual umat.
Momentum Istighotsah Kubro di Stadion Gelora Supriadi menjadi bukti bahwa Nahdlatul Ulama tetap konsisten menjadi garda terdepan dalam menjaga NKRI, menebarkan nilai moderasi, serta merawat tradisi keagamaan yang rahmatan lil ‘alamin—demi Indonesia yang damai, kuat, dan bermartabat.
Berikut dokumentasi yang berhasil dihimpun redaksi






































