Ahlussunnah wal Jama’ah

Safari Ramadhan Hari Kelima PCNU Kota Blitar, Kyai Murtadlo: Cara Berpikir Ahlusunnah wal Jamaah

NUBLITAR.OR.ID – Safari Ramadhan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Blitar hari kelima, kali ini bertempat di Masjid Al Manar, Pakunden. Kegiatan tersebut diselenggarakan pada Sabtu, 09/April/2022, dengan dihadiri oleh Ketua Tanfidziyah PCNU Kota Blitar, Dr. Kyai Habib Bawafi, M.H.I., jajaran Syuriyah dan Tanfidziyah, serta pengurus banom-banom NU se-kota Blitar. Pada kesempatan ini, Kyai Murtadlo selaku pengisi mauidhoh hasanah, menyampaikan tentang cara berpikir ahlussunnah wal jamaah an-nahdliyah. Kyai Murtadlo menjelaskankan, bahwasanya media sosial saat ini sangat rawan menjadi ‘medan perang’ bagi kelompok yang

Sambut Harlah NU Ke-99, Aswaja NU Center Bersama Az Zayn Perkuat Ideologi Aswaja An-Nahdliyah

Blitar – Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah (Aswaja) adalah salah satu aliran pemahaman teologis (Aqidah) Islam. Sebuah teologi yang diyakini sebagian besar umat Islam sebagai pemahaman yang benar yang telah diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW kepada para sahabatnya. Kemudian secara turun-temurun faham Aswaja diajarkan kepada generasi berikutnya (Tabi’in-Tabi’it Tabi’in) dan selanjutnya diteruskan oleh generasi-generasi berikutnya sehingga sampai kepada kita. Hal ini – tentu – dapat dibuktikan melalui kajian-kajian literer keagamaan. Berkaitan dengan ini ribuan kitab dan buku telah ditulis oleh banyak ulama dan

Bersalaman Setelah Shalat dalam Pandangan Nahdlatul Ulama

Bersalaman setelah shalat adalah sesuatu yang dianjurkan dalam islam karena bisa menambah eratnya persaudaraan sesama umat Islam. Aktifitas ini sama sekali tidak merusak shalat seseorang karena dilakukan setelah prosesi shalat selesai dengan sempurna. Berikut ini adalah beberapa dalilnya. Diriwayatkan dari al-Barro’ dari Azib RA. Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah ada dua orang muslim yang saling bertemu kemudian saling bersalaman kecuali dosa-dosa keduanya diampuni oleh Allah sebelum berpisah.” (HR. Abu Daawud) Diriwayatkan dari sahabat Yazid bin Aswad bahwa ia

Pandangan NU terhadap Shalat Dzuhur Setelah Shalat Jum’at

Mayoritas ulama’ ahli fiqh dari kalangan madzhab Syafi’i, Hanafi, Maliki, dan Hambali, bersepakat atas  dibolehkannya (jawaz) shalat dzuhur setelah shalat jum’at. Dengan beberapa sebab di bawah ini: Ketika banyak didirikan shalat jum’at dalam satu tempat (kampung). Ketika jama’ah jum’at tidak ada yang memenuhi syarat-syarat jum’at. Ketika seorang ma’mum masbuk tidak menemui rekaatnya imam secara utuh. Akan tetapi mayoritas ulama’ fiqh tersebut di atas berbeda pendapat mengenai hukum shalat dzuhur setelah shalat jum’at tersebut. Imam Syafi’i berpendapat Ketika terdapat suatu

Pujian Sholawat Setelah Adzan dalam Pandangan Nahdlatul Ulama

Sesungguhnya membaca sholawat kepada Nabi setelah adzan adalah sunnah hukumnya, dan tidak ada perbedaan pendapat di dalamnya. Hal ini berdasarkan hadist yang diriwayatkan Imam Muslim (hadist no.384), dan Abu Dawud (hadis no.523). yaitu. Ketika kalian mendengarkan adzan maka jawablah, kemudian setelah itu bacalah sholawat kepadaku. (idza sami’tum nida’a faquluu matsalu ma yaqulu tsumma shollu ‘alaiya). Pendapat di atas ini juga didukung oleh Imam Jalaludin as-Suyuthi, Ibnu Hajar al-Haitsami, Syeikh Zakariya al-Anshori, dan lain lain. Imam Ibnu Abidin

Pandangan Nahdlatul Ulama terhadap Maulid Nabi

Orang pertama yang menyelenggarakan perayaan maulid nabi adalah Raja Mudzofaruddin Abu Said al-Kaukaburii ibnu Zainuddin Ali bin Baktakin. Pendapat para ulama’ tentang Maulid Nabi. Syeikh Taqiyudin Ibnu Taymiah Beliau berkata: “mengagungkan maulid nabi adalah mengandung pahala yang sangat agung, karena hal itu adalah wujud ta’dzim kepada Rasulullah.” Imam Jalaluddin as-Suyuthi Beliau berkata: “perayaan maulid nabi adalah bid’ah hasanah. Orang yang merayakannya diberi pahala olehnya.” Imam Suyuthi juga berkata: “disunnahkan bagi kita untuk menampakkan rasa syukur atas lahirnya Rasulullah. Dan juga

Pahala Bacaan Al-Qur’an Untuk Mayit dalam Pandangan Nahdlatul Ulama

Berikut ini adalah Pendapat para ulama’ tentang sampainya pahala bacaan ayat-ayat AlQur’an kepada mayit. Pendapat ulama’ Madzhab Syafi’iyah Imam Syafi’i Imam Syafi’i berkata bahwa, disunnahkan membacakan ayat-ayat al-Qur’an kepada mayit, dan jika sampai khatam al-Qur’an maka akan lebih baik. Imam al-Hafidz Jalaluddin Suyuthi Imam as-Suyuthi menjelaskan bahwa, jumhur ulama’ salaf telah berpendapat dengan pendapat yang mengatakan “sampainya pahala bacaan terhadap mayit” Imam Nawawi Imam Nawawi berkata, “Disunnahkan bagi orang yang  ziarah kubur untuk membaca ayat-ayat al-Qur’an lalu setelahnya diiringi

Meminta Barokah dalam Pandangan Nahdlatul Ulama

Istilah barokah mengandung makna yang bermacam-macam, yaitu disesuaikan dengan penggunaan lafadz tersebut dalam rangkaian sebuah kalimat. Barokah antara lain mengandung makna ziyadah dan nama (pertambahan). Kedua arti lafadz tersebut mencakup sesuatu yang dapat diraba (arab: hissi) dan yang tidak dapat diraba (arab: ma’nawi), artinya berwujud nyata maupun tidak nyata secara bersamaan. Barokah pada hakikatnya adalah sebuah rahasia Allah dan pancaran dari-Nya yang bisa diperoleh oleh siapa pun yang dikehendaki-Nya. Seseorang bisa

Dalil Dzikir Bersama-Sama

Dalil dari ayat al-Qur’an Surat al-Baqoroh ayat 152 Artinya: Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepadaKu, dan janganlah kamu mengingkari (ni’mat)-Ku. (QS. Al-Baqoroh: 152) Surat Ali Imron ayat 191 Artinya: (Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. (QS. Ali Imron: 191)

Dalil Dzikir Dengan Suara Nyaring

Dasar dari ayat al-Qur’an Surat Ali Imron ayat 19 Artinya: (Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. (QS. Ali Imron: 191) Surat al-Ahzab ayat 35,41,42 Artinya: Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang Mu’minm laki-laki dan  perempuan yang tetap dalam keta’atannya, laki-laki