Safari Ramadhan, NU Kota Blitar Mengenang Sejarah NU

Blitar – Safari Ramadhan 2019, Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Blitar, fokus pada penguatan sejarah NU di Masjid Baitul Manan Tanggung Santren (7/5).
Dalam kegiatan ini, pengurus dan warga NU akan dikuatkan kembali dasar-dasar untuk menjaga dan melestari amaliah aswaja yang paling banyak dipegang dan diamalkan oleh umat Islam di Kota Blitar.
Baca juga
JADWAL SAFARI RAMADLAN 1440 H PCNU KOTA BLITAR
KH. Abdul Karim Muhaimin, Rais Syuriah PCNU Kota Blitar menjelaskan perihal sejarah NU. Akibat penjajahan maupun akibat kungkungan tradisi, telah menggugah kesadaran kaum terpelajar untuk memperjuangkan martabat bangsa ini, melalui jalan pendidikan dan organisasi. Gerakan yang muncul 1908 tersebut dikenal dengan “Kebangkitan Nasional”. Semangat kebangkitan terus menyebar – setelah rakyat pribumi sadar terhadap penderitaan dan ketertinggalannya dengan bangsa lain. Sebagai jawabannya, muncullah berbagai organisasi pendidikan dan pembebasan.
Merespon kebangkitan nasional tersebut, Nahdlatul Wathan (Kebangkitan Tanah Air) dibentuk pada 1916. Kemudian pada tahun 1918 didirikan Taswirul Afkar atau dikenal juga dengan “Nahdlatul Fikri” (kebangkitan pemikiran), sebagai wahana pendidikan sosial politik kaum dan keagamaan kaum santri. Dari situ kemudian didirikan Nahdlatut Tujjar, (pergerakan kaum saudagar).
Serikat itu dijadikan basis untuk memperbaiki perekonomian rakyat. Dengan adanya Nahdlatul Tujjar itu, maka Taswirul Afkar, selain tampil sebagai kelompok studi juga menjadi lembaga pendidikan yang berkembang sangat pesat dan memiliki cabang di beberapa kota.
Berangkat dari munculnya berbagai macam komite dan organisasi yang bersifat embrional dan ad hoc, maka setelah itu dirasa perlu untuk membentuk organisasi yang lebih mencakup dan lebih sistematis, untuk mengantisipasi perkembangan zaman. Maka setelah berkordinasi dengan berbagai kyai, akhirnya muncul kesepakatan dari para ulama pesantren untuk membentuk organisasi yang bernama Nahdlatul Ulama (Kebangkitan Ulama) pada 16 Rajab 1344 H (31 Januari 1926) di Kota Surabaya. Organisasi ini dipimpin oleh K.H. Hasjim Asy’ari sebagai Rais Akbar.
Untuk menegaskan prinsip dasar organisasi ini, maka K.H. Hasjim Asy’ari merumuskan kitab Qanun Asasi (prinsip dasar), kemudian juga merumuskan kitab I’tiqad Ahlussunnah Wal Jamaah. Kedua kitab tersebut kemudian dijadikan sebagai dasar dan rujukan warga NU dalam berpikir dan bertindak dalam bidang sosial, keagamaan dan politik.
Foto pengurus beserta warga Nahdliyin seusai acara di Masjid Baitul Manan Santren Kota Blitar (7/5/2019)
Kegiatan turun ke bawah ungkapnya, dengan berbagai macam program yang menyentuh langsung ke masyarakat, sangat penting dilakukan karena menjadi bagian tugas utama pengurus.
“Pengurus NU harus mampu memberikan kemaslahatan bagi warga NU dengan memaksimalkan segenap potensi yang ada,” tegasnya
Reporter: Susiyah
Editor : Abd Umar