MENGCONTER NARASI RADIKALISME DI MEDIA SOSIAL DALAM KAMPUNG GLOBAL

Konsep Global Village atau dalam Bahasa Indonesia Desa Global merupakan konsep bahwa suatu saat nanti informasi akan menjadi sangat terbuka yang bisa diakses oleh siapa saja. Pemikiran ini ketika kita refeksikan di masa sekarang sangat benar dan pas sekali.
Masyarakat saat ini benar-benar tidak hanya menjadi menjadi bagian dari komunitas suatu negara tertentu, melainkan juga telah menjadi warga negara internasional.
Masyarakat Indonesia dengan mudah mengetahui peristiwa yang terjadi di Amerika, Eropa, dan Afrika dalam secara real time. Hal ini karena teknologi informasi dan komunikasi telah memfasilitasi kemudahan-kemudahan yang bisa memungkinkan orang mengakses informasi dari seluruh penjuru dunia dengan sangat mudah dan cepat.
Maka, tidak heran bila akhir-akhir ini, berbagai perkembangan yang terjadi memang cukup menakjubkan, khususnya dalam bidang teknologi komunikasi dan informasi.  Dalam hal ini, internet sebagai perangkat teknologi komunikasi dan informasi merupakan tonggak penemuan terbesar yang memberikan dampak terbesar pula bagi manusia.
Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang begitu menawan juga dimanfaatkan oleh kelompok teroris seperti ISIS (Islamic State of Iraq and Syiria) untuk merekrut pemuda untuk dajidikan mujahid dalam rangka menegakkan khilafah di muka bumi ini. Sangat benar konsep Global Village, interaksi antar warga di belahan dunia yang berbeda semakin tak terhalang jarak dan batas. Misal, semakin banyak pemberitaan di media mengenai terorisme justru membuat masyarakat internasional ingin tahu lebih banyak tentang kelompok radikal garis keras ini yang kemudian dimanfaatkan dengan baik oleh ISIS mempropagandakan “perjuangan” mereka lewat situs internet, facebook, twiter, youtube, dan media sosial lainnya untuk merekrut para pemuda di seluruh dunia.
Sungguh terbukti, paling tidak telah bergabung lebih dari 3.000 pemuda dari negara-negara barat dan kemudian para pemuda tersebut dicuci otaknya sehingga mau melakukan apa saja yang diperintahkan sang pemimpin bahkan mereka sudah siap dijadikan pasukan berani mati kapan saja termasuk melakukan bom bunuh diri.
Pemuda di Indonesia juga banyak yang tertarik dengan kelompok radikal seperti ISIS. Mereka tahu pergerakan kelompok garis keras ini dari media sosial. Setelah telusuri, banyaknya video–video tentang ISIS dan apa saja yang berkaitan dengannya. Dalam konteks yang lebih luas, di Global Village banyak masyarakat yang memilki pandangan islam yang radikal, seperti menuding Indonesia itu harus diganti sistem pemerintahannya karena demokrasi adalah kafir. Hal semacam ini mereka deklarasikan secara terbuka di lingkungan kampung. Ada yang lewat buletin, kajian, bahkan membuat video ajakan di youtube.
Maka tidak heran, penelitian Badan Intelijen Negara (BIN) pada 2017 mencatat sekitar 39% mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi terpapar radikalisme.
Sebagai manusia biasa yang lahir dari kalangan NU, terdapat beberapa rintangan-rintngan yang dialami dalam dakwah digital, yaitu:
1) Rendahnya antusiasme dari kalangan masyarakat NU untuk like and share postingan sehingga dakwah NU kalah masif dengan dakwah yang cenderung radikal.
2) Banyak konten yang direport oleh oknum-oknum tertentu yang tidak menyepakati isi dari postingan. Ini mengindikasikan bahwa mereka tidak bisa menerima perbedaan, dan sak memonopoli kebenaran. Apabila dibiarkan dalam waktu yang lama akan jadi radikal yang level tinggi.
3) Masih banyak masyarakat NU yang tidak menyadari pentingnya menyebarkan konten dakwah NU yang moderat di kampung untuk memerangi konten hoax dan radikal yang berkembang pesat di media yang sering juga menyerang tokoh-tokoh kiai NU.
Selanjutnya, apa paham radikal dalam konteks saat ini? Secara mendasar dan sederhana paham radikal yaitu orang yang dalam beragama menganggap pemeluk agama lain sebagai musuh atau ancaman bagi dirinya, dan ia amat keras menginginkan negara diatur berdasarkan ajaran agamanya. Setiap orang yang punya pemikiran seperti itu sudah dianggap radikal. Kenapa? Karena pangkal berbagai tindakan radikal ada di dua poin itu; menganggap penganut agama lain sebagai musuh dan ancaman serta ingin menjadikan ajaran agamanya sebagai dasar Negara.
Maka dari itu, perlu adanya pemahaman tentang pentingnya dakwah di media sosial oleh kalangan masyarakat Nahdlatul Ulama. Karena dakwah dari kaum sebelah yang sering menyalahkan dan mengkafrkan yang lama-lama bisa jadi tindakan teror barbar menyasar kaum muda, demam gerakan pemuda hijrahnya.
Banyak anak NU yang kultural malah ikut-ikutan karena tidak paham peta dan gerakan Islam sejak era klasik hingga kontemporer.
Perlu adanya dakwah yang kreatif di kalangan Nadliyin khususnya di kampung yang sering menjadi sasaran empuk paham radikalisme.
Referensi : Buku Cyber NU: Beraswaja Di Era Digital

No comments yet.

Leave a comment

Your email address will not be published.