Jenazah Masih Boleh Dishalati di Kuburannya setelah Berapa Lama?

Menurut pendapat yang kuat dalam mazhab Syafi’i, shalat jenazah di kuburan diperbolehkan bagi orang yang terkena tuntutan kewajiban saat kematian mayat. Oleh sebab itu, tidak sah menshalati jenazah para sahabat atau para wali yang wafat sejak beberapa abad yang silam, misalkan kuburan Wali Songo. Sebab saat beliau-beliau wafat, kita belum lahir, lebih-lebih terkena tuntutan kewajiban menshalati.
Berbeda dengan jenazah yang saat kewafatannya kita sudah terkena tuntutan kewajiban, misalkan saudara atau kiai yang baru saja wafat beberapa waktu silam, maka hukumnya sah, asalkan tergolong orang yang berkewajiban menshalati saat kematian jenazah.
Yang menjadi pertanyaan, berapakah batas maksimal umur jenazah yang boleh dishalati di kuburannya? Setahun, dua tahun atau berapa lama?
Syekh Khathib al-Syarbini menegaskan, dalam masalah ini ada lima pendapat. Pendapat pertama, tidak ada batas berapa umur jenazah yang boleh dishalati di kuburnya. Berpijak dari pendapat ini, sah menshalati jenazah para sahabat dan ulama setelahnya sampai hari ini. Pendapat ini tidak mensyaratkan orang yang menshalati harus tergolong ahlul fardli (orang yang berkewajiban) menshalati saat hari kematian jenazah.
Pendapat kedua, dibatasi sampai tiga hari. Pendapat ini juga sesuai dengan mazhab Imam Abu Hanifah. Dengan demikian, bila umur jenazah sudah melampaui tiga hari, tidak sah untuk dishalati di kuburannya.
Pendapat ketiga, maksimal berusia satu bulan. Pendapat ini sesuai dengan mazhab Imam Ahmad bin Hanbal.
Pendapat keempat, selama masih tersisa anggota tubuh mayat. Bila anggota tubuh mayat telah hancur, maka tidak boleh dishalati. Bila ragu-ragu masih tersisa atau telah sirna, maka dihukumi masih tersisa.
Pendapat kelima, dikhususkan untuk orang yang berkewajiban menshalati saat kematian mayat. Berpijak dari pendapat ini, tidak ada batasan berapa lama usia jenazah yang boleh dishalati di kuburnya, asalkan dilakukan oleh orang yang terkena tuntutan kewajiban menshalati saat kewafatan jenazah. Pendapat kelima ini adalah yang kuat dalam mazhab Syafi’i, disahihkan oleh al-Imam al-Rafi’i dalam kitab al-Syarh al-Shagir.
Uraian di atas sebagaimana dijelaskan dalam referensi berikut ini:

وإلى متى يصلى عليه فيه أوجه أحدها أبدا فعلى هذا تجوز الصلاة على قبور الصحابة فمن بعدهم إلى اليوم قال في المجموع وقد اتفق الأصحاب على تضعيف هذا الوجه

Sampai kapan boleh menshalati mayat di kuburnya? Terdapat beberap pendapat. Pendapat pertama, selamanya. Berpijak dari ini, boleh menshalati kuburnya para sahabat dan ulama setelahnya hingga sekarang. Al-Imam Al-Nawawi dalam kitab al-Majmu’ berkata, para ashab sepakat melemahkan pendapat ini.”

ثانيها إلى ثلاثة أيام دون ما بعدها وبه قال أبو حنيفة  ثالثها إلى شهر وبه قال أحمد  رابعها ما بقي منه شيء في القبر فإن انمحقت أجزاؤه لم يصل عليه وإن شك في الانمحاق فالأصل البقاء

Pendapat kedua, sampai tiga hari, bukan durasi setelahnya. Pendapat ini sesuai dengan pendapat Imam Abu Hanifah. Pendapat ketiga, selama masih tersisa anggota tubuh mayat di dalam kubur. Bila telah hancur anggota-anggotanya, maka tidak boleh dishalati. Bila ragu-ragu, maka hukum asal dihukumi masih tersisa.”

خامسها يختص بمن كان من أهل الصلاة عليه يوم موته وصححه في الشرح الصغير فيدخل المميز على هذا دون غير المميز

Pendapat kelima, terkhusus untuk orang yang tergolong berkewajiban menshalati mayat saat hari kematiannya. Pendapat ini disahihkan oleh Imam al-Rafi’i dalam Syarh al-Shaghir, maka memasukkan anak kecil yang sudah tamyiz, bukan anak yang belum mencapai tamyiz.” (Syekh Khathib al-Syarbini, Mughni al-Muhtaj, juz 1, hal. 346).
Demikian penjelasan mengenai batas maksimal umur jenazah yang diperbolehkan dishalati di kuburnya. Semoga bermanfaat.
(Ustadz M. Mubasysyarum Bih)
Sumber: NU.OR.ID