Tradisi NU

Amalan untuk Cegah Kebakaran, Pencurian, Fitnah, dan lain-lain

Untuk mencegah bencana kebakaran, pencurian, fitnah, dan bencana lainnya, kita memang harus melakukan upaya-upaya nyata dalam mengantisipasi tersebut. Sedangkan berikut ini adalah amalan yang dapat dibaca sebagai permohonan kepada Allah agar kita dipelihara dari semua bencana tersebut. بِسْمِ اللهِ، مَا شَاءَ اللهُ، لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ مَا شَاءَ اللهُ، كُلُّ نِعْمَةٍ مِنَ اللهِ مَا شَاءَ اللهُ، الخَيْرُ كُلُّهُ بِيَدِ اللهِ مَا شَاءَ اللهُ، لَا يَصْرِفُ السُّوْءَ إِلَّا بِاللهِ Bismlillāh, māsyā Allah, lā quwwata illā billāh Māsyā Allah, kullu ni‘matin minallāh Māsyā Allah, al-khayru kulluhū bi yadillāh Māsyā Allah,

Melihat Lebih Dekat Tradisi ‘Kupatan’ di Plosokerep Kota Blitar

Blitar – Pada umumnya, puncak kemeriahan Perayaan Idul Fitri terjadi pada hari H lebaran. Namun di Plosokerep, Kota Blitar puncak kemeriahan justru juga terjadi pada H+7 atau yang biasa disebut Lebaran Ketupat. Warga saling bersilaturahmi dan anjangsana ke rumah sanak saudara untuk bermaaf-maafan. Tradisi ini sudah berlangsung sejak puluhan tahun silam. Sebab para tokoh agama dan sebagian besar masyarakat terlebih dahulu melaksanakan puasa sunnah Syawal selama enam hari sebelum Lebaran Ketupat. Menurut pengurus Langgar An Nur, Bapak Isman Hadi,  tradisi Lebaran Ketupat

Langgar Panggung Saksi Bisu Sejarah Ketupat di Plosokerep

Blitar – Ketupat menjadi hidangan wajib ada bagi masyarakat Muslim Indonesia setiap Hari Raya Idul Fitri, terutama di Kota Blitar. Padahal, jika diamati hidangan ketupat sebenarnya tak ada di negara-negara Timur Tengah. Lantas, bagaimana sebenarnya tradisi makan ketupat ini bisa sampai di kota Blitar? “Menurut cerita rakyat, ketupat itu berasal dari masa hidup Sunan Kalijaga, tepatnya di masa syiar Islamnya pada abad ke-15 hingga 16. Sunan Kalijaga menjadikan ketupat sebagai budaya sekaligus filosofi Jawa yang berbaur dengan nilai ke-Islaman,” kata Fikal