Fragmen

Menelusuri Sumbangsih Komite Hijaz NU

Kerajaan Turki Utsmani yang dianggap ”pusat kekuasaan” politik Islam (khalifah / imamah ’udhma) pada Perang Dunia I berpihak kepada Jerman dan sekutunya yang ternyata kalah. Sebagai pihak yang kalah perang, mengalami berbagai hal yang sangat merugikan, menyakitkan, dan merendahkan martabatnya, yaitu harus menuruti kehendak yang menang perang, pusat pemerintahannya diduduki, dan daerah jajahannya dibagi-bagi di antara pihak yang menang perang. Irak dan sekitarnya diambil Inggris, Lebanon diambil Perancis, dan sebagainya. Ada yang luar biasa dari akibat kalah perangnya Turki ini. Pertama, pusat

Cara Tokoh NU Mendidik Anak-anaknya

“Pada suatu hari Abdullah Ubayd datang ke rumah kami dengan dua putra beliau yang masih kanak-kanak. Yag pertama berumur 7 tahun, dan yang kedua kira-kira 5 tahun. Kejadian itu kira-kira pertengahan tahun 1936.”  Peristiwa itu diungkapkan KH Wahid Hasyim dalam sebuah tulisan yang terbit pada Agustus 1941 berjudul Abdullah Ubayd sebagai Pendidik. Abdullah Ubayd sendiri pada tahun itu telah tiada. Ia meninggal dunia pada tahun 1938 setelah NU melaksanakan muktamar yang ke-13 di Menes, Pandeglang, Banten. Ia meninggal pada usia relatif muda yaitu pada

Saat NU Jadi Oposisi Pemerintah Orde Baru

Bisa dikatakan era Orde Baru atau rezim pemerintahan Soeharto, Nahdlatul Ulama mengalami kondisi yang tidak mudah. Selain mengalami diskriminasi golongan, NU juga mengalami represi dari pemerintahan Soeharto. NU saat itu termasuk ormas yang kerap berseberangan dengan pemerintah, bahkan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mengkritik Soeharto dalam tulisan-tulisannya. Pada 1973, pemerintahan Orde Baru (melalui rancangan Ali Moertopo) mulai mempraktikkan kehidupan politik yang represif. Langkah paling mendasar adalah memaksa partai-partai bergabung satu sama lain (fusi). Kacung Marijan dalam Quo Vadis Setelah NU Kembali ke