Monthly Archives: Maret 2019

Pasar Legi Digoyang Sholawat Nariyahan

NUBLITAR.OR.ID – KH Moh. Shonhaji Nawal Karim (Gus Shon) Ketua Pusat Majelis Ta’lim Sholawat Nariyah Mughitsu Al-Mughits, Blitar mengatakan dzikir dan shalawat yang selama ini dilaksanakan melalui road show kemana-mana, hanya karena mencari ridlo Allah SWT. “Tidak ada niat lain. Dalam kita beribadah seperti majelis taklim sholawat nariyah ini hanya untuk mencari ridho dari Allah SWT,’’ ujar Gus Shon, panggilan akrab salah satu pengasuh Pesantren Mambaul Hikam, Mantenan Udanawu, Blitar itu. Tausyiyah itu disampaikan dalam acara majelis taklim yang berlangsung di Jalan

BAHAYA KOMUNITAS ROYATUL ISLAM (KARIM)

HTI telah bubar, lahir KARIM, yang telah menyerang anak muda kita, sasarannya komunitas pemuda dan sekolah menengah umum. Dinas pendidikan musti ambil tindakan, sebelum generasi kita menjadi pemberontak negeri ini. 1. HTI memang dibubarkan, namun gerak ideologis mereka tak akan pernah mati, tetap waspada, kali ini marak KARIM, sebuah komunitas muda Islam, cindil HTI yg menyerang anak2 SMU dan komunitas2 pemuda 2. Geraknya sama, tak akan menyebut HTI, namun tujuannya tetap tegaknya khilafah HTI, ada yg menarik dari KARIM ini, politik simbol

Doa Bernada Mengancam Tuhan gara-gara Pilpres?

Salah satu tata cara berdoa memang hendaknya dilakukan dengan redaksi yang mantap dan mendesak seperti “Ya Allah kabulkan doaku”, bukan dengan redaksi yang setengah-setengah semisal “Ya Allah kabulkanlah bila Engkau berkenan”. Meskipun redaksi doa terkesan memaksa, tetap saja tak ada yang bisa memaksa Allah. Nabi Muhammad bersabda: لَا يَقُولَنَّ أَحَدُكُمْ: اللهُمَّ اغْفِرْ لِي إِنْ شِئْتَ، اللهُمَّ ارْحَمْنِي إِنْ شِئْتَ، لِيَعْزِمْ فِي الدُّعَاءِ، فَإِنَّ اللهَ صَانِعٌ مَا شَاءَ، لَا مُكْرِهَ لَهُ “Janganlah sekali-kali seseorang dari kalian mengatakan; ‘Ya Allah, ampunilah aku jika Engkau

Islam Nusantara, Manifestasi Islam Rahmatan lil Alamin

Oleh Adi Candra Wirinata Mungkin seluruh umat Islam menginginkan adanya perubahan sosial-politik dengan syari’at Islam, tapi harus disadari bahwa lahirnnya Islam bertujuan menghapus ketidak-manusiawian, bukan menyingkirkan kebudayaan. Sebagaimana perkembangan Islam di Nusantara, khususnya di Jawa, tidak begitu saja menggantikan kebudayaan yang telah ada. Seperti yang telah tercatat dalam sejarah, bahwa Nusantara kaya akan budaya. Oleh karena itu, tidak bisa dipertentangkan antara budaya dan agama, selama tidak bertentangan dengan akidah Islam. Dakwah Islam di Nusantara pertama kali lebih mementingkan keamanan dan kenyamanan rakyat